Mbak Ayu Istri Sepupuku // Part 1


RAKSASAPOKER Pesta pernikahan kakak sepupuku, Mas Suryo, dapat dikatakan sangat meriah dan sangat mewah. Dia sebetulnya sangat beruntung, perawakannya yang over size bersama perut yang mirip gentong itu 

RAKSASAQIU SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
tidak menghalanginya untuk menikahi Mbak Ayu, seorang wanita yang sangat cantik bersama body yang sangat aduhai.

Aku pun heran, kenapa wanita secantik Mbak Ayu yang punya tubuh langsing bersama tinggi 170 cm itu senang menikahi Mas Suryo. Apa barangkali gara-gara kekayaan Mas Suryo?


Tapi era bodohlah, yang tentu mataku selalu tidak dapat terlepas dari Mbak Ayu, dan otakku pun repot memikirkan sesuatu yang sangat nakal.

Seperti biasa, tiap-tiap 2 bulan sekali diselenggarakan petemuan keluarga. Karena keluarga kami merupakan keluarga yang sangat besar. Setiap pertemuan keluarga, saya selalu mengusahakan untuk mengambil pandang, kecantikan dan kemolekan tubuh Mbak Ayu yang sempurna itu sebetulnya membuatku jatuh cinta dan sangat bernafsu.

Ingin rasanya memeluk, mencium dan bercinta dengannya. Tapi sayang pertemuan keluarga yang cuma sehari semalam itu sangatlah sebentar bagiku. Aku selalu tidak dulu bahagia untuk mengkhayalkan Mbak Ayu.

Setelah 14 kali pertemuan keluarga, sekitar 2 th. sesudah pernikahan Mas Suryo dan Mbak Ayu, akupun kuliah di Jakarta. Karena rumahku di Bandung, saya terpaksa kudu mencari area kost. Tapi Mas Suryo melarangku dan menyuruhku tinggal di tempat tinggal besarnya.

Aku disuruh menjaga tempat tinggal selama kepergian Mas Suryo ke negeri Belanda selama kirakira 2 Bulan. Sekalian menemani Mbak Ayu, demikian kata Mas Suryo.

Aku menyadari bersedia, selain ngirit uang kost terhitung dapat selalu menyaksikan keindahan Mbak Ayu.

Satu minggu sudah belalu semenjak kepegian Mas Suryo. Aku pun repot di universitas bersama beragam model kegiatannya. Aku mengusahakan menyibukkan diriku agar asumsi kotor berkenaan Mbak Ayu dapat saya tepis. Aku tidak senang menghianati Mas Suryo, kakak sepupuku.

Jam 7 malam tepat saya sampai dirumah Mas Suryo, yang kini cuma didiami oleh satu orang pembantu tempat tinggal tangga, satu orang satpam, saya dan Mbak Ayu. Aku menyaksikan Mbak Ayu belum pulang. Aku pun bebersih diri dan sesudah itu bersantai di kursi sofa sambil mendengarkan music klasik dari Beethoven. Dolby Digital Suround Sound System Super DTC yang tersedia di ruangan sedang itu membuai diriku dan akupun terlelap. Entah berapa lama saya tertidur di kursi sofa sampai sesudah itu saya terbangun bersama dering telpon dari mesin faximile yang tersedia di kantor khusus Mas Suryo.

Aku terkejut, terbangun dan punya niat menuju ke arah nada telpon tersebut. Belum sempat saya beranjak dari kursi sofa, saya menyaksikan suatu panorama yang sangat mengejutkan. Pintu kamar Mbak Ayu terbuka, dan keluarlah Mbak Ayu bersama rambut yang basah dan cuma di bungkus handuk berlari menuju kearah ruang kerja Mas Suryo. Dari ruang santai tersebut saya dapat menyaksikan menyadari kearah ruang kerja Mas Suryo. Aku menyaksikan Mbak Ayu sedang bicara bersama seseorang di telpon tersebut.

Handuk itu membungkus tubuh Mbak Ayu merasa dada sampai sampai perbatasan pada pantat dan pahanya. Hatiku berdebar sangat keras menyaksikan itu semua. Terlihat betapa sintalnya tubuh Mbak Ayu. Walaupun terbungkus handuk, bentuk pinggul dan pantatnya dapat terlihat jelas. Jantungku tambah tidak karuan kala Mbak Ayu menyita sebuah buku dari lemari atas yang membawa dampak handuk tersebut jadi terangkat.

Oh, My God! Ternyata Mbak Ayu tidak memakai CD, terlihat belahan pantatnya yang sangat bulat, padat, putih dan mulus tak bercacat. Mbak Ayu membalikan tubuhnya, saya terkejut dan selalu purapura tertidur. Mbak Ayu sesudah itu duduk diatas meja kerja Mas Suryo dan membaca buku yang baru saja diambilnya. Hal ini membuatku jadi gila. Kali ini Mbak Ayu menyilangkan kakinya yang ramping itu agak tinggi agar handuknya jadi naik ke atas. Benarbenar merupakan panorama yang sangat indah, pahanya yang putih mulus dan juga padat memuat itu membawa dampak jantungku serasa senang copot.

Pletak..! Tak sengaja kakiku menyenggol vas bunga di atas meja didepan kursi sofa area saya berbaring. Aku kaget setengah mati takut ketahuan Mbak Ayu. Untung saya tidak kehabisan akal, saya bangun dan membetulkan posisi vas bunga tadi dengn konsisten berpurapura tidak menyadari keberadaan Mbak Ayu.

Apaan tuh? Tanyanya yang sesudah itu saya jawab bersama singkat.

Eh.., ini Mbak vas bunganya jatuh. Jawabku.

Agus, kesini deh sebentar..! Aku kaget setengah mati, Mbak Ayu memanggilku.

Aku berlangsung bersama purapura sempoyongan gara-gara tetap mengantuk. Aku berlangsung menuju ruang kerja Mas Suryo. Kulihat dari dekat Mbak Ayu bersama posisi yang tetap mirip memandangiku. Perpaduan pada betis indah bersama paha yang putih, mulus padat memuat itu jadi jelas. DAFTAR ID PRO PKV


Duduk sini! Perintahnya sambil menunjukan kursi yang berada tepat didepan meja yang diduduki Mbak Ayu.

Aku menurut tanpa sepatah katapun. Setelah saya duduk di depannya, Mbak Ayu mengangkat kaki kanannya dan menempatkan telapak kakinya tepat satu diantara pahaku. Aku cuma terdiam bersama jantung yang jadi kencang. Entah apa maksud Mbak Ayu.

Nih, lihat.., tadi pagi saya kesandung, dan jari kelingkingku sedikit memar. katanya sambil tak hentinya kutatap kakinya yang indah dan bersih itu. Jarijarinya mungil dan putih sangatlah indah seandainya di pandang dan di pegang.

Mau nggak pijitin kaki Mbak? Aku pun langsung menggapai betis yang indah itu.

Mbak Ayu mengangkat kaki kanannya dari pangkuan kaki kirinya. Aku tak menyadari gerakan itu gara-gara asumsi dan mataku kala itu terfokus kepada sesuatu satu diantara ke dua belah paha Mbak Ayu. Aku terkejut, telapak kaki kiri Mbak Ayu tibatiba membelai dan mengelilingi area kemaluanku yang tetap tegang dan terbungkus celana jeansku. Aku memandangi Mbak Ayu dan..,

Jangan kegat, Mbak tau koq, dari dulu anda selalu merhatiin Mbak konsisten khan? Katanya.

Aku heran dari mana Mbak Ayu menyadari kecuali saya emmang selalu mengagumi keindahannya.

Mbak Ayu terhitung selalu merhatiin kamu, cuma anda aja yang nggak dulu sadar. Katanya lagi.

Kamu sayang Mbak Ayu nggak? Tanyanya.

Ssayang mm.. mb.. mbak! Jawabku terbatabata.

Mbak Ayu terhitung sayang kamu

Bener deh!

Kalo anda sayang Mbak Ayu, anda tolongin Mbak Ayu senang khan? Tanyanya.

Mau Mbak, tolong apaan? Tanyaku lagi.

Cium betis Mbak Ayu donk sayang!

Baru kali ini Mbak Ayu memanggilku sayang, bisanya Mbak Ayu cuma memanggil namaku. Tanpa satu pertanyaan pun saya ciumi betisnya yang putih dan indah itu. Aku tidak cuma menciumi betis itu, sesekali saya menjilati betis itu. Makin lama jadi ke atas sampai ke pahanya. Mbak Ayu menggelinjang hebat, desahannya membuatku jadi buas.

Ah.., sayang.. konsisten sayang.. enak..! Aku jadi jadi nekat, jadi lama saya jadi keatas konsisten dan sesudah itu bibirku tak hentinya menciumi paha Mbak Ayu. Semakin lama jadi keatas.

Cium saya sayang! Tibatiba Mbak Ayu menghentikan gerakanku.

Dengan ke dua tanggannya Mbak Ayu menarik kepalaku dan membimbingku untuk mencium ke dua bibirnya yang sangat tipis dan berwarna merah muda. Kita berdua selanjutnya saling berciuman. Sesekali lidahku masuk kemulutnya dan begitu pula sebaliknya. Lidah kami saling bermain di dalam mulut. Aku dapat merasakan, ke dua tangan Mbak Ayu mengusahakan mengakses kuncir pinggang kulitku. Aku terdiam saja, sampai akhirnta Mbak Ayu menyelipkan tanggannya ke balik celanaku. Mbak Ayu menggapai batang kemaluanku, saya konsisten menciuminya sambil mencari ikatan yang mengikat handuk Mbak Ayu.

Mbak saya terlepas ya handuknya? Kataku.

Mbak Ayu cuma menganggukan kepalanya sambil konsisten memandangiku. Tak lama sesudah itu saya menyaksikan Mbak Ayu sudah telanjang bulat didepanku, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya yang langsing, putih, mulus dan padat tersebut. Terlihat menyadari olehku ke dua bukit kembarnya. Besarnya tidak seberapa, tapi punya bentuk yang sangat indah. Kencang, Padat, keras bersama puting yang sedikit mencuat keatas. Aku tak sabar, mulutku langsung mendarat tepat di puting susunya. Saat itu saya laksanakan segala sesuatu yang dapat mulutku lakukan. Menjilati, menciumi dan menghisap. Kulakukan itu secara bergantian pada yang kiri dan kanan. Aku benarbenar asyik bersama kesibukanku kala itu.

Ah, sayang.. konsisten sayang.. oh. Aku menjelajahi semua tubuh anggota atasnya.

Dari ke dua bukit kembarnya, saya ber alih ke ketiaknya. Aku angkat ke dua tangannya. Ketiaknya yang tanpa bulu dan beraroma wangi itu saya jilati bersama ujung lidahku. Mbak Ayu menjepit kepalaku.

Ah, jangan disitu dong, saya nggak kuat, geli! akupun berubah ke perutnya.

Busyet..! Pikirku, tak sedikitpun lemak yang saya temukan di perutnya.

Sambil menciumi dan menjilati perutnya saya penasaran apakah tersedia sedikit saja lemak yang bertengger di perutnya. Aku memutar ke pinggangnya.

Ah..sayang, ternyata anda nakal..! Mbak Ayu merasa meracau.

Aku konsisten mengelilingi anggota perutnya yang ternyata tak tersedia lemak mirip sekali.

Hebat.., a perfect woman. pikirku.

Tak ada, ya.. betul.. mirip sekali.., tak tersedia cacatnya mirip sekali tubuh wanita ini. pikirku.

Putih, mulus, padat, bersih, tak berlemak dan kencang. saya konsisten menikmati menjilati tubuhnya.

Buka celana anda sayang..! Mbak Ayu menyuruhku, saya pun melorotkan celanaku sekaligus bersama CD ku, agar akupun telanjang bulat.

Batang kemaluanku sudah benarbenar mencuat keatas.

Wow, Punya anda sudah bangun rupanya.

Tunggu sebentar ya.

Mbak Ayu naik keatas meja, semua tubuhnya benarbenar di atas meja. Mbak Ayu mengatur posisinya, dan selanjutnya Mbak Ayu nungging diatas meja bersama muka tepat di depan kemaluanku. Tangannya kirinya menggapai dan menarik batang kemaluanku. Aku menurut saja bagaikan kerbau yang di sesuai hidungnya. Mbak Ayu merasa menciumi kepala kemaluanku.

OH..,! Sekarang giliranku yang merasakan nikmatnya permainan yang Mbak Ayu lakukan.

Mulamula cuma kepala kemaluanku yang merasakan hisapan, jilatan, dan sedikit sentuhan giginya yang putih bersih. Lama kelamaan Mbak Ayu membenamkan batang kemaluanku sedikit demi sedikit kedalam mulutnya.

Ah.., Uh..! Aku mendesah pelan bersama sedikit menyeringai untuk menghambat gejolak yang sedang berkecamuk di dalam tubuhku.

Aku nggak senang hal ini cepat selesai. Mbak Ayu konsisten mempermainkan batang kemaluanku. Kadang sesekali Mbak Ayu mengulum ke dua bijiku. Hal ini membawa dampak kusedikit mules, tapi kenikmatan yang saya menggapai jauh dari itu semua.

Aku tak senang diam, saya julurkan tangan kananku untuk menggapai perbatasan punggung dan belahan pantatnya. Untuk mengimbangi permainannya, pantat Mbak Ayu yang terlihat nungging, ku remas bersama tangan kanan, kala tangan kiri tetap merabaraba punggung Mbak Ayu, saya raba dan saya belai punggung yang putih mulus itu. Tanganku bergerak turun menelusuri celah pantatnya, dan saat ini menuju liang kemaluannya.

Kemaluan itu sesudah itu saya sentuh dari belakang, dan merasa sudah sangat basah dan merekah. Aku belaibelai bibir luar kewanitaannya dan selanjutnya ku belaibelai clitorisnya. Merasa clitorisnya tersentuh oleh jari saya, pantat Mbak Ayu jadi dinaikkan, dan merasa tegang, kuluman ke batang kejantanan ku jadi kencang dan buas. Melihat perpaduan pada belaian klitoris, punggung yang putih mulus dan kuluman rudal, nada kami jadi jadi maracau.

Kocokan mulutnya pada Batangku jadi lama jadi dalam dan cepat. Kadang kepalanya naik dan turun, tapi kadang kepalanya terhitung sedikit berputar. Sedikit perubahan gerak dari kepalanya, merasa sangat nikmat saya rasakan. Aku merasa kehilangan kendali, tersedia sesuatu yang bergejolak di atas pangkal batang kemaluanku. Entah mengapa, tangan kanannya menyentuh perutku dan mendorongku. Dorongannya sedikit kuat agar saya terduduk di kursi lagi.

Plop..! Terdengar nada yang lucu akibat terlepasnya batang kemaluanku dari mulut mungilnya.

Sekarang giliran anda sayang. Seakan Mbak Ayu tahu, bahwa saya sudah merasa kehilangan kendali. Mbak Ayu menghentikan permainannya dan mengatur posisinya lagi.

Aku dapat menyaksikan bersama jelas. Lubang kenikmatan Mbak Ayu yang bewarna merah muda dan merekah itu. Aku memandanginya sejenak. Betapa indah lubang surga Mbak Ayu yang membuatku seakan tak bernafas menghambat gelora dan aliran listrik yang merasa over load. Jari sedang tangan kanan Mbak Ayu mempermainkan lubang surganya kekiri, kekanan, keatas, dan kebawah agar terlihat kemaluan Mbak Ayu kembang seakan kembang kempis.

Sesekali Mbak Ayu Mempermainkan clitorisnya sendiri. Tak berapa lama, wajahnya yang cantik bersama rambutnya yang hitam legam dan panjang itu menengok kebelakang, matanya yang semula bulat kini redup, dan dari bibirnya yang indah Mbak Ayu berkata, Kamu senang ini khan? ujar Mbak Ayu yang posisinya jadi menungging untuk menunjukan keindahan ludang surganya kepada ku agar lebih menyadari dan agar saya jadi gila.

Cukup sudah..! Pikirku.

Aku nggak tahan lagi. Maka saya dekatkan batang kejantananku yang sudah tegak keras keatas bersama lubang kewanitaannya yang jadi harum dan basah itu.

Ah.. sayang.. Ufhh! Aku tempelkan kepala batang ku ke clitorisnya dan saya gesekgesekan ke sekitar lubang kenikmatannya.

Sekarang sayang, sekarang. Mbak Ayu sudah tidak dapat menghambat udara nasfunya. Tangan kirinya menjulur ke belakang dan menggapai batang kemaluanku. Mbak Ayu membimbingnya mendekati gua surga itu, dan..

Ss.. slek! secara perlahan dan mantap, batang kemaluanku sudah terbenam di lubang kenikmatan Mbak Ayu.

Aku dorong pantatku secara sangat sangat perlahan agar batang kemaluanku pun masuk secara sangat sangat perlahan pula. Mulai dari anggota kepala kemaluanku, sesudah itu anggota leher, sesudah itu anggota batang, sampai sepenuhnya amblas sampai ke pangkal kelamulanku.

Ahh.. Mbak Ayu dan akupun mendesah menghambat kenikmatan yang tak ada tara tersebut bersamaan bersama pergerakan batang kejantananku.

Aku sengaja tidak langsung mengocokkan kontolku, saya diamkan semua anggota kejantannanku selalu habis amblas di lubang surganya sejenak. Aku rasakan sejenak betapa rasa lembab, basah, dan hangat yang luar biasa indah menyelimuti kemaluanku. Walaupun kemaluanku tetap belum bergerak, saya dapat merasakan kemaluan Mbak Ayu yang tidak cuma sempit, tapi terhitung dapat menghisap dan menekannekan kemaluanku.

Tanpa menarik kontolku, saya gerakan pantatku kedepan tiga kali sehingga.., Bleb, bleb, bleb..! Posisi Mbak Ayu pun sedikit maju gara-gara tekanan dari ku.

Oh.., Ah.., Oh..! Desahan Mbak Ayu bersamaan bersama tekanan tadi.

Sayang, cepat donk, pompa saya semau kamu! Pinta Mbak Ayu.

Aku merasa menarik bersama perlahan kemaluanku sampai sebatas leher kemaluanku, sesudah itu saya tekan perlahan, tapi cuma sampai setengah batang kejantananku, kemudan saya tarik, saya tekan setengah, tarik, tekan, tarik tekan.. konsisten begitu secara berulang. Aku laksanakan bersama langkah yang saya baca dari buku kama sutra, yaitu, saya tarik terlihat kejantananku sampai sebatas leher dan sesudah itu saya masukan cuma setengah dari batang kejantananku sebanyak 10 kali, dan sesudah itu diselingi 1 kali terlihat sebatas leher dan masuk sampai amblas semua batangku dan menahannya sejenak untuk beri tambahan kesempatan kepada Mbak Ayu untuk laksanakan gerakan berputar.

Crek, crek.. crek.. crek. Suara indah itu terulang sepuluh kali, diselingi dengan.. Sleb.. sebanyak sekali Plok, plok, plok, plok..! Suara yang terlihat akibat benturan pada pangkal pahaku bersama pantat putih mulus Mbak Ayu membawa dampak situasi jadi indah. Memek Mbak Ayu sebetulnya gila. Betapa saya tak kudu mengangkat pantatku sedikit keatas agar mendapat gesekan dan tekanan pada anggota atas batang kemaluanku, atau ke bawah agar gesekannya lebih merasa di bawah, atau kekiri, atau kekanan.., semua itu tidak kudu mirip sekali. Kemaluan Mbak Ayu yang benarbenar lubang surga itu sudah sangat sempit, agar menghimpit dan menggesek semua permukaan kontolku, dari ujung kepala sampai ke pangkal kemaluanku.

Aku tak dapat lagi mengatur gerakanku, jadi lama gerakanku jadi cepat, dan tekanannya pun jadi keras. Dari posisiku yang di belakang, saya dapat menyadari menyaksikan penisku terlihat masuk cepat ke lubang vaginanya, dan saking pasnya, terlihat bibir vagina Mbak Ayu itu tertarik terlihat tiap-tiap batangku kutarik keluar.

Oughh, ough.., ah.., oh.., anda hebat sayang. Mbak Ayu konsisten mendesah dan meracau.

Sesekali bersama posisinya yang menungging, tangan kanan Mbak Ayu kebelakang dan menyentuh perutku untuk menghambat tekanan yang saya lakukan. Aneh memang, Mbak Ayu menghambat laju tekanan penisku bersama tangannya, tapi Mbak Ayu konsisten meracau..

Terus sayang, ah.., terus, konsisten sayang..!

Buah dada Mbak Ayu terpentalpental dan desahannya benarbenar menghanyutkan, layaknya nada musik terindah yang dulu saya dengar.

Ahh.. shh sshh sayang, Ohh.. enakk.. Uhh uhh.. hmm.. Enak sayang.. terus! Seru Mbak Ayu.

Aowww..! Tibatiba Mbak Ayu sedikit berteriak.

Kenapa Mbak, sakit ya? Tanyaku yang cuma di jawab bersama senyum dan gelengan kepalanya saja.

Teruskan sayang saya bahagia koq. Katanya.