Cerita Bokep Nikmatnya Tubuh Wina Gadis 19 Tahun // Part 2


RAKSASAPOKER Bukan main ! Vagina itu tunjukkan keremajaan Wina. Permukaannya bersih, cuma terlampau sedikit ditumbuhi bulubulu halus. 

RAKSASAQIU SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Oh Wina apalagi jembutmupun belum tumbuh ! Kuusap permukaan vaginanya, kusentuhkan jariku ke pintunya yang ternyata membasah.

Lalu, sambil menyentuh kelentit yang tak begitu kelihatan (karena begitu kecilnya) , ujung jariku sampai ke pintu vaginanya. Spontan Wina menutup pahanya dan menarik tanganku. Okey, aku lantas menindihnya lagi.


Kugesekkan kepala penisku ke pintu itu, lantas bersama perlahan kudorong.
Ah teriaknya kecil sambil pantatnya digeser mundur.
Jangan dimasukin Mas
Engga.. engga cuma digesergeser aja Ditengah gesekan, ulang aku coba menusuk. Lagilagi Wina mundur.
Jangan ! Sakit katanya sambil cemberut lantas bangkit mencaricari CDnya. Wah gawat nih kalau dia
ngambek, mampu gagal ulang aku.
Iya iya deh, aku engga masukin kataku sambil mengembalikan posisi terlentangnya. Kubuka pahanya
lagi,
kutempelkan ulang penisku dan kugesergeser naik turun, dan kadangkadang sedikit menekan. Sebenarnya, terhadap posisi menghimpit itu kepala penisku sudah masuk, cuma kalau aku tekan ulang kontan Wina bakal mundur kesakitan sambil mengancam bakal udahan. Terpaksalah aku cuma nikmati gesekan terhadap kepala penisku, tetapi lamalama keteganganku naik juga, ada rasa geligeli juga, ada rasa melayang juga, dan aku ejakulasi di perut Wina sambil mencengkeram tubuhnya eraterat.
Apa boleh buat, setiap aku terasa menusuk Wina selamanya menghindar. Bagaimanapun ada kemajuan, Wina sudah bersedia berbugil dan melayaniku sampai ejakulasi biarpun kelaminku tak sampai masuk ke dalam, cuma di permukaan mulut vaginanya. Dia tak senang kehilangan keperawanannya. Dari percakapan sehabis itu, terungkap
bahwa Wina selamanya senang melayaniku asal bersama langkah seperti itu, dan ternyata ia butuh duit jajan untuk tambahan gajinya yang tak mencukupi.
Tentu saja aku tidak cukup puas, mauku ya sampai tuntas, pertalian kelamin. Jadi, selagi Wina meneleponku ulang sebagian hari sesudahnya, akupun minta syarat : penisku mesti masuk tuntas. Wina selamanya tak mau, akupun menampik ajakannya. Sayang memang menampik tubuh remaja ranum yang mulus itu. Sampai kirakira sebulan sehabis pertemuan ke-2 di LGI itu, Wina menelepon lagi
Boleh, asal Wina senang sampai tuntas jawabku atas ajakannya untuk berjumpa lagi.
Sebenarnya, bersama langkah ejakulasi seperti pada mulanya akupun mau. Tubuh ranumnya membuatku kangen.
Seperti biasa aja, Mas
Engga senang ah Aku tahan harga.
Kan pokoknya Mas mampu keluar
Iya tetapi beda, dong
Beda apanya
Lebih nikmat kalau tuntas
Tolong, dong Mas, engga punyai duit nih
Akhirnya akupun mengalah, daripada tak ada sasaran serupa sekali, sekaligus mampu menolong Wina dan memang aku rindu tubuh mulusnya !
Di sedang perjalanan menuju ke Setiabudi, Wina nyeletukJangan ke sana lagi, Mas
Lho, kenapa ?
Yaa pokoknya jangan deh
Atau ke GE aja
Jangan juga
Kenapa sih ?
Saya engga senang dua kali di tempat yang sama, takut ketahuan penjelasan yang masuk akal.
Aku berpikir keras, kemana ? Oh ya. Kuputar mobilku 180 derajat, ke arah bawah, ke kawasan Dago, di hotel BD. Di hotel ini cuma ada satu kamar yang safe dan nyaman, paling depan letaknya. Mudahmudahan saja tidak sedang dipakai oleh para peselingkuh lain. Kamar ini occupancy ratenya mampu di atas 100 persen ! Setelah pelayan menutup rolling door, baru Wina berani turun berasal dari mobil. Masuk kamar, langsung kukunci dan Wina kusergap.
Entar dulu, nanti ada yang masuk, lho Memang, kebanyakan pelayan bakal mengantarkan handuk, sabun, air minum, dan kuitansi.
Udah dikunci
Sambil duduk, kamipun berciuman. Telepon berdering. Aku melepas. Resepsionis bertanya apakah aku senang bermalam atau cuma istirahat saja. Tarif istirahat 75% berasal dari tarif semalam, aku mampu kenakan selama 4 jam. Vilapoker.com
Penisku sudah tegang, maklum sudah 3 hari aku tak menggunakannya. Sambil menghampiri Wina, kubuka resleting celanaku, kukeluarkan isinya. Kudekatkan ke wajah Wina yang tetap duduk di kursi, digenggam sebentar, lantas dieluselus. Tibatiba ditariknya kontolku mendekat sampai aku hampir hilang keseimbangan, dan langsung dimasukkan ke mulutnya ! Kejutan ! Dari dua kali pertemuan sebelumnya, berkalikali aku minta Wina untuk jalankan oralsex tetapi tak pernah mau. Sekarang, tanpa diminta dia tambah melahap. Kelihatan Wina belum mempunyai pengalaman jalankan oral, gerakannya terlampau sederhana. Tapi aku meremmelek juga.
Baru sebagian kali kuluman, pintu diketuk. Buruburu Wina melepas penisku dan aku menyimpannya kembali.
Pelayan membawakan barangbarang yang aku bilang tadi, aku membayar, pintu kukunci lagi, dan kontol kukeluarkan lagi.
Udah ah kata Wina menolak. Anak ini aneh, tanpa diminta ia mengulum, giliran aku mau, ia menolak. Waktu kusodorkan ulang penisku kemulutnya, Wina tambah berdiri dan menciumku. Sambil bermain lidah kupereteli pakaiannya satu persatu sampai telanjang bulat, lantas kutuntun ke kasur. Aku cepatcepat berbugil.
Kutindih tubuh ranum itu, selagi mulutku menelusuri lehernya, lantas turun ke belahan dadanya, tetap bergerak ke buah dada kanan, dan berakhir bersama jilatan lidah terhadap puting kecil merah jambu itu.
Beberapa selagi lantas puting itu terasa menonjol dan mengeras.
Sambil mengemoti puting, tanganku bergerak merayapi pinggangnya dan tetap ke bawah ke pahanya, lantas keselangkangan. Permukaan vagina yang baru tumbuh sedikit rambut halus itu kutelusuri bersama tangan.
Kemudian, perlahan jariku menyentuh kelentit (yang terhitung kecil) dan ke bawah sedikit sampai ke pintu vagina yang ternyata sudah basah. Ketika jariku terasa memasuki pintu, Wina langsung menggeser pantatnya sambil menutupkan kakinya.
Kutarik tanganku dan sampai ke dada kiri, kuremas buah kenyal itu, selagi mulutku belum terlepas berasal dari dada kanannya. Lutut kuselipkan satu diantara pahanya supaya pahanya ulang membuka. Fungsi tangan yang tadi aku pindah bersama kontol. Kutindih selangkangannya bersama penisku yang sudah keras maksimum. Seperti yang sudahsudah aku cuma mengosokkan kepala penisku ke pintu vaginanya sambil sesekali mencoba masuk.
Lagilagi Wina menarik pinggulnya menghindar.Aku sudah tak tahan, nafsuku sudah sampai puncak, inginkan masuk saat ini terhitung ! Aku melepas buah dadanya dan bangkit. Dengan bersender terhadap lututku, kubuka paha Wina lebih lebar, lantas kutempatkan lagi
penisku ke lubang vaginanya dan kudorong. Lagilagi Wina menghindar.
Enggaengga, aku engga masukin, cuma kepalanya aja seperti kemarin kataku sambil terengah gara-gara nafsu yang memuncak. Setelah kepalaku masuk, kurebahkan tubuhku, dan kugoyang pantatku maju mundur. Tentu saja goyangan pendek, gara-gara penisku cuma di sekitar pintu vagina saja.
Ah, kalau begini tetap apa enaknya. Aku nekat. Bangkit ulang bersender terhadap lutut, kutusuk vagina Wina kuatkuat. DAFTAR ID PRO PKV 


Aahh, kasar begitu sih
Sory Win, habis engga tahan
Dengan lebih pelan tetapi bersama kemampuan yang sama, ulang aku menusuk. Bless Kepala penisku masuk.
Kelihatannya masuknya kepala penisku ini seperti pertemuan ke-2 minggu lalu, tetapi jepitannya terasa lebih erat, janganjangan sudah masuk nih. Aku memeriksa ke bawah, kepala itu sudah hilang ditelan vagina Wina, diujung pintu itu cuma keluar leher kelaminku. Mungkinkah aku sudah menembus perawannya ? Tapi
mana darahnya ? Lagi pula Wina tak menghindar seperti biasanya. Pembaca, didalam situasi begini menyadari tak ada hal lain yang mampu kulakukan tidak cuman tetap menusuk ! Tapi mentok. Seakan tak ada lubang ulang di dalam
sana. Akupun menarik pelanpelan penisku untuk lantas terasa mengocok, perlahan.
Eeeefffff Wina melenguh sambil mengatubkan bibirnya. Mungkin dia terasa nikmati kocokan pelanku.
Setelah sebagian kali kocokan, bersama tetap bersender terhadap lututku, aku terasa menusuk lagi. Kali ini bersama tenaga penuh. Bleeessss kulirik ke bawah, separuh kontolku sudah tenggelam ! Kontolku benarbenar
terjepit kuat ! Tapi tetap belum ada darah. Ah, acuhkan terlampau bersama darah, yang perlu nikmat! Aku terasa mengocok lagi. Jelas kali ini lebih nikmat, gara-gara gesekan dinding vagina Wina terasa lebih panjang dikontolku. Wina kulihat memalingkan wajahnya ke kanan sambil menggigit jarinya. Aku rasa ia terhitung menikmati
kocokanku. Sambil mengocok pelan, secara bertahap aku memperdalam jangkauan penisku ke didalam vagina Wina sampai seluruh batang kontolku habis ditelan. Hatiku bersorak.
Akhirnya, Aku sukses terhitung menyetubuhi remaja ranum ini. Aku benarbenar terjalin kelamin saat ini !
Ooohhhh Betapa nikmatnya vagina perawan si remaja ranum ini. Syarafsyaraf di seluruh permukaan penisku merasakan cengkeraman dindingdinding vaginanya. Berbeda bersama wanitawanita yang pernah kutiduri sebelumnya, vagina mereka kebanyakan tak ada remnya supaya agak kesulitan penisku mencaricari gesekan
meskipun bersama beraneka macam gaya. Si ranum ini lain. Jepitan dinding vaginanya begitu pakem biarpun aku bersama style standar. Aku belum mesti mempercepat
kocokanku. Dengan kocokan pelan, gesekan vaginanya mampu lebih kunikmati. Terlalu sayang untuk dilewatkan.
Masalahnya cuma didalam hal mengocok aku menyukai variasi, baik kecepatan maupun gaya.
Aaau terdengar jeritan kecil Wina disaat Aku terasa merubah kocokan bersama memutar.
Lalu ulang ke style semula, mengocok perlahan.
Jangan keluarin di..dalam ya Mas kata Wina tersendat disaat aku terasa mempercepat kocokanku. Entah gara-gara aku mempercepat kocokan atau gara-gara pengaruh perkataan Wina berkenaan keluarin, mendadak aku terasa geligeli hampir ke puncak.
Akupun ulang memperlambat. Tapi rasa ke puncak tak berkurang juga. Mungkin saatnya memang hampir tiba. Kocokan kupercepat lagi.
Maaaassss kali ini teriakannya agak keras. Aku tak peduli, selagi puncak sudah dekat, justru makin lama kupercepat.
Aku melayanglayang, dan sedetik sebelum puncak kucabut kontolku berasal dari vagina Wina.
Aaauufffffff kini Wina benarbenar teriak. Aku rebah di tubuh Wina, dan sroottt sroottt sroottt.
Kutumpahkan maniku di perut Wina. Aku tetap terasa terbang. Terbang nikmat
Menitmenit berikutnya aku tetap tak berkutik di atas tubuh Wina. Kulirik ke bawah, banyak terhitung aku menyemprotkan mani. Kontolku tetap agak tegang terjepit di pada perut kami, terhitung basah. Basahnya yang mengakibatkan aku heran, kenapa basah cuma oleh cairan bening agak putih, tak ada warna merah. Penasaran aku
bergeser memeriksa vagina Wina dan sprei di bawahnya. Basah yang sama, tak ada warna merah. Dari jepitan dan cengkeraman vagina, lantas ada rasa mentok selagi tadi masuk, aku percaya tadi sudah menembus perawan Wina. Kenyataannya lain. Seseorang sudah mendahuluiku. Seseorang sudah memecahkan selaput dara
Wina. Aku menjadi berang.
Siapa dan kapan tanyaku menyelidik.
Apanya
Ayolah tetap terang aja Win
Emang beda gitu ?
Jelas beda dong sebenarnya, aku tak merasakan perbedaan jepitan tadi bersama disaat aku memerawani seseorang 5 tahun yang lalu.
Siapa Win ?
Apa bedanya ? tambah balik bertanya.
Walaupun sedikit, punyamu mestinya berdarah kataku. Wina diam saja. Agak lama, kemudian
Sama pacar aku pada akhirnya ia mangak.
Kapan ?
Seminggu yang lalu
Kenapa engga dikasih ke aku Wina tak menjawab.
Perawannya diberikan ke siapa saja itu hak Wina, cuma aku kecewa berat. Terlambat. Kehilangan peluang emas yang sudah lama aku inginkan. Coba aku pernah engga ngambek tak senang menghubungi Wina, aku mampu mendapatkannya. Cuma selisih satu minggu. Bagaimana tak kecewa ?
Beberapa menit lantas Wina bangkit menuju kamar mandi bersama tetap bugil. Kuperhatikan sosok tubuh
mulus itu berasal dari belakang. Sungguh tubuh yang menggairahkan, sayang aku gagal sebagai orang pertama yang nikmati tubuh ranum itu.
Keluar berasal dari kamar mandi bersama cuma berbalut handuk putih, Wina kelihatan segar. Ukuran handuk hotel BD ini kecil, supaya cuma mampu menutupi separoh dadanya selagi di bagian bawah cuma tepat menutupi vagina. Sepasang paha mulus itu terbuka penuh. Belahan dada fresh itu kelihatan disaat ia memunguti CD dan
Bhnya.
Memperhatikan gerakangerakan tubuhnya sewaktu kenakan celana didalam dan kutangnya mengakibatkan aku terangsang lagi. Kulihat jam, tetap ada selagi sekitar 40 menit. Dengan tetap berbugil langsung kupeluk Wina yang baru
selesai mengenakan kutang berasal dari belakang. Kuciumi leher belakangnya dan kuremas dadanya.
Sekali ulang ya Win
Eeh Mas aku kan mesti kerja
Masih ada selagi kataku sambil sambil menggosokkan kelaminku ke pantatnya.
Nanti telat Mas
Engga sebentar aja
Kulepaskan ulang Bhnya, lantas kuputar tubuhnya dan dadanya kusergap. Wina tak menolak, kemungkinan gara-gara tadi terasa bersalah. Cdnya kupelorotkan, lantas kubimbing ulang ke kasur. Aku menidih. Aku menggoyang.
Aku masuk. Aku mengocok, berputar, menggoyang lantas mencabut. Aku inginkan posisi lain.
Aku rebah terlentang. Wina nurut saja disaat kusuruh duduki badanku, memasukkan kelaminku ke vaginanya. Dengan posisi jongkok menghadapku Wina turunnaik selagi aku mencengkeram ke-2 buah kembarnya.
Aaahhhh sakit Mas Katanya sambil hendak mencabut. Aku buruburu menghimpit pinggulnya ke bawah supaya
nancap lagi.
Goyang Win Wina menggoyang.
Engga sedap sakit Saya di bawah aja Mas
Kutarik badan Wina rebah di tubuhku. Tanganku memeluk erat. Aku inginkan berpindah posisi tanpa mencabut.
Dengan tubuh menyatu, kami berguling. Pompaan kupercepat.
Jangan telat nyabutnya ya
Dan aku terbang di awan.
Persis pukul 15 tidak cukup tujuh menit Wina kuturunkan di depan restoran. Dengan bergegas Wina masuk
Harihari berikutnya pertalian kami berlanjut. Nomor telpon rumahnya sudah di tanganku, cuma aku harus
hatihati kalau kebetulan Mamanya yang angkat telepon. Wina selamanya tak bersedia ditelepon ke tempat kerjanya.
Kalau adikku sedang nakal, aku meneleponnya, sebaliknya kalau Wina perlu tambahan duit jajan, dia menelponku.
Sesekali aku cuma memberi duit tanpa meminta pelayanannya. Kalau aku inginkan keluar di dalam, kugunakan kondom untuk melindungi halhal yang tak kuinginkan.
Kini, empat tahun kemudian, kami sudah jarang ketemu. Pertemuan terakhir kirakira 5 bulan lantas Wina sedikit kurus. Kekenyalan buah dadanya berkurang. Wina tetap sendiri, tetap tinggal bersama mamanya.