Cerita Bokep Nikmatnya Tubuh Wina Gadis 19 Tahun // Part 1


RAKSASAPOKER Perkenalanku dengan Wina (nama sebenarnya), kasir restoran khas Sunda, disaat saya selesaikan bill makan siangku. 

RAKSASAQIU SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   
Aku ngotot membayar makananku sendiri ke kasir (lazimnya dibantu oleh waiter) gara-gara tertarik serupa gadis belia ini.

Wina, seperti mojang Priangan lainnya berkulit putih mulus.


Tak begitu tinggi, dadanya sedang tak begitu tampak ukurannya gara-gara tersembunyi dibalik baju seragamnya yang sopan, Rok 5 cm di atas lutut tunjukkan kakinya yang indah mulus.Dalam pembicaraan singkat sewaktu membayar, saya sempat menambahkan nomer telpon kantorku. Kenapa saya nekat lakukan ini gara-gara sewaktu saya makan, kita sering berkompetisi pandang. Matanya agak jelalatan memperhatikanku. Siapa tahu mampu berlanjut.

Ditunggu teleponnya bisikku sambil melangkah keluar. Wina cuma senyum tipis tak menyahut.
Seminggu berlalu, telpon kantorku berdering. Wina nelepon ! Sebenarnya, Aku sudah hampir melupakannya.Setelah berbasabasi, saya terasa menjalankan rencanaku.Pulang dinas jam berapa tanyaku

Kalau dinas siang pulang jam 3, kecuali dinas malam jam 10รข€³ jawabnya.
Jam dinas shift seminggu siang seminggu malam bergantian.
Saya jemput jam 3, ya
Engga usah, biasa pulang sendiri naik angkot elaknya
Sekalisekali, biar cepet hingga rumah bujukku.
Engga ah, sudah biasa pulang telat
Kalau ingin pulang telat, ya jalanjalan dulu
Mau kemana jeratku terasa mengena.
Yah nonton, kek
Engga suka
Atau ke Lembang saya terasa masuk
Jauh
Yah sebelum saat Lembang Ini semacam testcase. Sebelum Lembang, jl Setiabudi banyak bertebaran hotel, wisma, losmen, atau apapun namanya yang sering digunakan orang untuk BBS (bobobobo siang).

Sebagian besar hotelhotel di sana sediakan tarif istirahat (sekitar 34 jam) untuk pasangan selingkuh.
Yeeeee ! Jawabnya. Berarti Wina sudah tahu maksud ajakanku.
Okey, sepakat ? serangku.
Gimana nanti aja ini berarti okey !
Tak mau kehilangan kesempatan emas, jam 3 kurang 10 saya sudah parkir di seberang restoran area Wina bekerja. Jam 3 melalui 5 Wina belum kelihatan. Aku terus mengawasi pintu restoran itu. Setiap cewe berseragam kemeja putih dan rok hitam yang nampak berasal dari pintu itu tak terlepas berasal dari mataku. Lewat seperempat,
belum juga nongol. Aku putuskan untuk pulang sambil menstart mobil. Tapi buruburu mesin kumatikan sesudah di seberang sana mojang putih itu muncul. Aku turun mengambil alih posisi yang tepat. Aku melambai begitu ia melihatku. Aku masuk mobil kembali dan menstarter kembali sambil membuka pintu sebelah. Masih yakin, padahal belum tahu ia mau atau tidak.

Mau kemana ? tanyanya melalui jendela mobil.
Naik aja jawabku sambil berdebar, kuatir ketahuan kenalan yang mungkin saja melalui jalur Martadinata ini.
Ya kemana dulu
Cepet masuk dong, engga sedap dicermati orang perintahku.

Dengan curiga Winapun masuk. Aku langsung kabur berasal dari situ. Rok seragamnya yang agak pendek makin lama terangkat disaat duduk, tunjukkan sepasang kaki dan lebih dari satu pahanya yang mulus.

Mau kemana sih ? tanyanya mengulang.
Jalanjalan
Jalanjalan ke mana ?
Kan janjinya ke sebelum saat Lembang
Heee siapa yang janji

Aku terasa mewawancarainya. Dia baru lulus SMIP (Sekolah Menegah Industri Pariwisata, setingkat SMU) dan baru 3 bulan kerja sebagai kasir. Tinggal di Sarijadi serupa mamanya. Dia tak mau berikan nomer teleponnya.

Aku mengarah ke Setiabudi. Belok kiri, dong katanya disaat kita hingga di pertigaan Gegerkalong. Memang, kecuali mau ke Sarijadi harus belok kiri. Tapi saya lempeng aja, terus ke atas. Wina protes saya tak peduli.

Kita enjoy sebentar kataku menghentikan protesnya. Tak raguragu saya belok ke kanan masuk ke hotel.
GE.
Eh ngaco kemana nih protesnya lagi
Tenang aja padahal saya sendiri tak tenang, kuatir ketahuan.
Saya sudah menikah lho katanya yang entah apa maksudnya. Masa usia 19 sudah menikah, saya meragukannya.
Engga apaapa, toh kita engga dapat menikah jawabku sekenanya.
Setengah berlari pelayan hotel menuntun mobilku menuju garasi dengan rolling door yang diatasnya tertulis

E3. Begitu hingga di didalam garasi pelayan langsung menutup rolling door. Aman.
Kami duduk di kamar hotel sambil minum coke sementara di depan kita terbentang area tidur ukuran dobel
dengan sprei putih bersih. Wina lebih banyak diam. Tak sabaran saya idamkan langsung bergulingan dengan Wina di atas kasur itu. Semua urusan administrasi sudah kubereskan. Tinggal gimana cara memulainya ?
Sering bawa cewe ke sini., ya tanyanya tibatiba.
Ah, engga dulu jawabku berbohong.
Bohong, tadi sudah hapal, berarti sering
Gini kantorku kan sering nyewa area rapat di sini. Kalau Rakor kan kebanyakan 2 atau 3 hari. Semua peserta rakor nginap di sini saya mengarang cerita.
Hotel ini entah punya area rapat atau tidak.
Kok ngajak ke sini, emangnya Wina apaan Bingung juga aku.
Yaaa supaya kita mampu ngobrol dengan tenang, engga ada problem entah ini mampu menjawab protesnya atau engga.

Obrolan dilanjutkan. Dia terasa terbuka dengan bercerita perihal pekerjaannnya, kondisi rumahnya, dan pacarnya. Ternyata Wina pacaran dengan orang Cina yang sudah berkeluarga. Sambil ngobrol, sesekali tanganku menyentuh pundaknya, menepuk pahanya. Wina tak memprotes perbuatan tanganku.
Kenapa tadi ngaku sudah menikah
Supaya mas engga macammacam
Emangnya saya kuatir serupa suami kamu
Tuh kan Wina tak meneruskan kalimatnya, gara-gara saya langsung pegang kedua bahunya, dan bibirnya kucium. Cerita Bokep

Wina meronta tetapi kepalanya kupegang. Masih duduk di kursi kita berciuman. Wina tak berontak lagi. Lidahku terasa masuk ke mulutnya dan ternyata disambut pula dengan lidahnya. Hatiku bersorak. Wina tak menampik !

Dari kepala, tanganku turun merabai dadanya. Amboi ternyata Wina punya gumpalan daging yang bulat dan keras. Dari luar sesungguhnya tak begitu tampak tonjolan dadanya. Kemeja seragamnya sangat sopan untuk menonjolkan bagianbagian tubuh. Wina membiarkan tanganku meremasremas dadanya. Wah ini sih mampu dimainkan, pikirku. DAFTAR ID PRO PKV


Penisku terasa tegang, biarpun remasan itu tak langsung, masih ada kutang dan kemeja, tetapi bentuk bulatnya terasa memenuhi telapak tanganku. Adanya isyarat penerimaan ini membuatku melangkah lebih lanjut. Kubuka kancing kemejanya satu persatu. Tapi hingga kancing keempat, Wina menghambat tanganku sambil membiarkan ciumannya.
Jangan Mas katanya sambil terengah.

Kesempatanku untuk menyaksikan buah dadanya. Dibalik kutang berwarna krem itu menyembul sepasang gumpalan daging putih bersih. Bukan main indahnya. Buah dada Wina tak begitu besar, cuma bentuk bulatnya, ditambah putih mulus, jadi hampir sempurna. Walaupun masih tertutup kutang, tetapi pinggirpinggir atasnya yang terbuka memastikan bentuk bulatnya itu.

Segera saja saya menciumi bagian dada yang tak tertutup kutang, juga belahannya. Terasa, tambah satu kembali kelebihan buah ini : kenyal, lebih-lebih cenderung keras ! Inilah beberapa syarat buah dada yang sudah lama kuimpikan ! Bulat, putih, mulus, dan keras. Hanya satu beberapa syarat yang tak masuk untuk buah dada Wina, yaitu ukurannya.

Seandainya buah dada Wina ini besar, katakanlah 34B, maka tak ada kata lain tidak cuman : sempurna ! Beberapa wanita yang dulu saya setubuhi, tidak ada yang dadanya seindah punya Wina. Si Novi misalnya. Tshirt ketatnya menonjolkan sepasang buah yang besar menonjol ke depan begitu menggairahkan. Tapi sesudah kutangnya terbuka, dada itu sesungguhnya besar sih cuma sudah turun dan agak lembek. Lain kembali Si Dilla.
Besar, lumayan kenyal, cuma kurang mulus dan lingkaran di sekeliling putingnya agak lebar.

Aku masih menciumi bagian dada yang tak tertutup kutang sambil mencoba membiarkan seluruh kancing kemejanya. Kembali Wina menampik tetapi dengan sedikit pemaksaan selanjutnya kemeja sukses kutanggalkan. Badan Wina yang masih remaja ini sesungguhnya mulus. Bahu, lengan atas, dada dan perut semuanya halus. Aku belum melihat
buah dadanya secara utuh, BH krem itu masih di tempatnya. Kini tali kutang sebelah kanan kutarik ke bawah. Bulatan dada kanan makin lama tampak, langsung saja kuciumi kembali sambil mulutku berpindah ke bawah mencaricari putingnya.

Susah juga menyedot putingnya, gara-gara begitu kecil ! Hanya berwujud tonjolan saja. Kujilati tonjolan kecil itu sambil tanganku ke punggungnya membiarkan kaitan kutangnya. Tak ada perlawanan. Sepasang buah indah itu sudah terhidang di depanku. Dari pinggang ke atas sudah terbuka. Bulatan daging itu makin lama nyata.
Putingnya sesungguhnya kecil dan warnanya merah jambu !

Gantian dada kiri yang kesergap sambil tangan kiriku meremas bulatan lainnya. Puting kecil itu terasa tumbuh dan mengeras, terlalu mungkin saya untuk menyedotnya.
Kubimbing Wina ke area tidur lantas perlahan kurebahkan. Aku langsung melucuti diri hingga telanjang bulat. Kelaminku sudah tegak siap. Wina melirik sebentar ke senjataku lantas terpejam lagi, tanpa komentar.
Novi, Dilla, Fifi, Ria dan lainnya kebanyakan berkomentar : Ihhh panjaang. Wina tidak.

Dengan cuma mengenakan roknya, Wina kini terlentang di depanku di atas kasur. Aku punya niat menindihnya, tetapi perhatianku tertuju pada sepasang paha putih bersih yang cuma tersingkap sebagian. Segera sepasang tanganku menelusuri kedua belah paha itu.

Halus dan licin ! Terus ke atas hingga menyentuh CDnya. Tiba
tiba saja Wina mengatubkan kedua kakinya yang tadi 1/2 terbuka sambil menutupkan tangan ke selangkangannya.
Jangan Katanya.
Okey, nanti saja. Kini saya menindih tubuhnya. Kelaminku kutempatkan di selangkangannya sesudah kusingkirkan tangannya. Sambil lidahku mengeksplorasi buah dadanya, saya menggoyang pantatku. Wina menampik saya merabai CDnya mungkin gara-gara rangsangannya belum tinggi. Gerakan lidah dan pantatku ini didalam rangka tingkatkan rangsangannya.

Puting itu sudah tegang dan keras, sebenarnya. Tanganku ke bawah mencaricari kaitan roknya. Ketemu. Tapi baru saja saya menarik resletingnya, Wina berontak lagi. Aku bangkit dan lantas menarik roknya. Lagilagi Wina menahanku.
Dilepas saja biar engga kusut akalku.
Jangan Mas
Ayo, dong Win Rangsanganku sudah tinggi, idamkan langsung menyentuh kelamin Wina.
Jangan Mas saya belum pernah
Ah jaman Saya sudah engga tahan nih Aku engga yakin begitu saja kecuali ia belum dulu bersetubuh, gara-gara awalannya tadi relatif lancar dan sekarang ia sudah telanjang dada. Kucoba kembali memelorotkan roknya. Wina menampik lagi, lebih-lebih ia bangkit duduk.

Ayolah Win, sekali saja
Engga mau ! Wina belum dulu begituan
Ah..yang bener
Sumpah, Mas Padahal saya sudah hingga pada point nomer return. Aku nekat. Dengan paksaan selanjutnya terlepas juga rok itu. Wina berontak sewaktu kurabai CD yang ternyata sedikit basah. Kali ini berontaknya beneran.
Tolonglah Mas jangan Pintanya dengan muka memelas. Aku kasihan juga.

Okey, mungkin ini pertemuan yang pertama jadi Wina belum mau. Lain kali saya harus mampu menembus perawannya, kecuali sesungguhnya benar ia masih perawan. Tapi gimana nih, saya harus terus. Kalau engga jadi saya mampu pusing. Kalau engga berhubungan kelamin sekarang, pasti harus ada substitusinya. Maka kudekatkan batang kelaminku yang tegang maksimal ini ke mulut Wina. Wina menutup mulutnya dengan tangan sambil
menggeleng, Aku terasa kesal. Dengan sedikit kasar kutarik tangannya, kudorong kepalanya hingga rebah kembali ke bantal, lantas kutempelkan kepala penisku ke bibirnya.
Ayo kulum aja sebentar Win lebih dari satu detik penisku sempat menyapu bibirnya, lantas Wina menampik lagi.
Saya engga mampu Mas Ujarnya kemudian 1/2 menangis.
Jadi gimana dong saya harus ke luar kecuali engga pusing!
Jawaban Wina adalah, tangannya mencapai penisku lantas dikocoknya. Tentu saja kurang sedap biarpun tangannya halus tetapi tak ada pelicinnya. Apa boleh buat, tak ada rotan akarpun jadi, kecuali keperluan sudah mendesak. Supaya lebih nyaman, saya suruh Wina mengfungsikan sabun. Cara mengocoknyapun tunjukkan Wina belum berpengalaman.

Aku harus menambahkan komando kapan memperlambat, mempercepat, menyempitkan dan melebarkan genggamannya.
Ketika kurasakan hampir tiba pada puncaknya, kusuruh ia memperlambat sambil sedikit melonggarkan. Lalu disaat tensiku menurun, kuminta untuk mempercepat. Demikian seterusnya hingga Wina cekatan memainkan kelaminku, tanpa komando lagi. Dia sudah hafal kapan merubah cara kocokannya dengan menyaksikan raut mukaku dan desahanku. Aku belum idamkan ejakulasi supaya kadangkadang saya masih menyuruhnya memperlambat.

Wina sesungguhnya cepat belajar, meremmelek saya dibuatnya. Suatu saat, kurasakan geligeli luar biasa, rasanya saya hampir ejakulasi.
Pelanin Win kataku sambil tersengal.
Tapi Wina bukannya memperlambat, tambah mempercepat kocokannya. Kurang ajar, nakal juga anak ini. Aku sudah tak tahan, tambah menikmati percepatan yang mengantarku hingga ke puncak.
Crooot tembakan mani pertama menimpa area dadanya. Wina kaget, tangannya berhenti.
Teruus kocok ! perintahku. Wina menurut sambil mengarahkan kelaminku agak kesamping. Crotcrot
berikutnya perihal bantal dan dinding. Sejenak saya terbang melayang dan lantas rebah !
Wina cepatcepat melap air maniku yang bertebaran di buah dadanya.
Ih bau Katanya.
Untuk sementara saya sukses membiarkan ketegangan. Walaupun demikianlah saya agak kecewa gara-gara gagal menyetubuhinya.
Kenapa sih Wina engga mau ? kataku sesudah kita selesai mandi.
Sumpah Mas, saya belum dulu begituan
Justru belum pernah, ayo kita coba
Huu sedap di lu engga sedap di gua. Sama pacar aja engga begitu. Ini pacar bukan, jaman minta
Sama pacar anda belum dulu juga mataku meneliti buah dadanya yang naik turun mengikuti irama nafasnya.
Sama barang siapa sahutnya sambil menutup buah itu dengan kutangnya.
Kalau pacaran ngapain aja ? tanyaku kembali sambil menyelipkan tanganku ke Bhnya meremas dada.
Ah..tampiknya.
Ya kaya tadi jawabnya. Lalu ia cerita perihal pacarnya yang selalu minta bersetubuh dan ia selalu menolaknya.
Kenapa engga mau
Habis dia engga mau nikahin. Udah punya isteri
Oooh. Milih pacar sudah punya isteri
Habisnya saya suka
Obrolan berubah perihal pekerjaannya. Katanya, kerjanya berat, hari liburpun harus masuk, tetapi gajinya tak sesuai.
Cariin kerjaan dong Mas
Agak susah sekarang. Kecuali
Kecuali apa ?
Kecuali kecuali anda mau kasih itu kamu
Weee sory aja ya Wina selesai kenakan kembali kemejanya.
Susah kecuali begitu
Pulang yuk, Mas ajaknya sesudah rapi kembali.
Sebentar dong Aku masih bugil.
Cepet pakaian, Mama senang nanyain kecuali kesorean
Kapan ke sini kembali Aku masih penasaran pengin meniduri Wina.
Gimana nanti aja
Saya telpon ya
Jangan. Nanti Boss marah. Biar saya yang nelepon Mas Setidaknya saya masih punya harapan untuk menidurinya.Wina minta diturunkan di pertigaan Gegerkalong. Sebelumnya kuselipkan uang.
Buat jajan
Ma kasih

Cerita Dewasa Harihari seterusnya siasia saja saya menunggu telpon Wina. Aku dibikin penasaran serupa cewe satu ini.

Ingin saya meneleponnnya ke Restoran itu. Tapi saya cemas kecuali ia kena marah Bossnya, lantas tak mau kembali menemuiku, maka lepaslah buruanku. Memang diperlukan kesabaran kecuali kita memburu cewe. Sampai suatu hari, 6 hari sesudah di hotel GE itu Wina menelepon ke kantor pagi jam 10.00. Minggu ini gilirannya kerja sore.
Ini dia kesempatan tiba. Dia minta saya menunggu di depan NHI pukul 11.00.
Singkat cerita, jadilah saya bawa Wina kali ini ke Hotel LGI, masih di Jalan Setiabudi. Agak riskan sesungguhnya ke hotel ini, gara-gara tak ada garasi tertentu seperti di GE. Tapi Wina tak mau kembali ke GE, tanpa
menyebutkan alasannya. Aku nekat saja, daripada engga mampu Wina. Aku cuma punya sementara 2.5 jam, soalnya Wina harus hingga ke area kerja pukul 15 tepat.

Kembali saya terasa menciumi dan membuka kancing kemeja seragamnya sesampai kita di didalam kamar. Kali ini tak ada perlawanan, dengan gampang saya membuka kemeja dan kemudian BHnya. Selesai mengeksplorasi sepasang buah yang mengundang selera itu, kubaringkan Wina ke area tidur. Waktu saya menelanjangi diri, Wina bahkan
melepas roknya sendiri dan melipatnya dengan rapi. Maklum, habis ini ia langsung kerja. Dengan berbugil, kutindih tubuh mulus Wina yang cuma berCD itu. Kelaminku kuletakkan tepat diselangkangannya, lantas kugoyang.

Sementara mulutku tak terlepas berasal dari puting mungil merah jambu yang sudah mengeras itu. Kali ini saya harus mampu menembus vaginanya. Kutelusuri hampir seluruh permukaan kulit mulus itu. Penisku sudah tegang maksimum. Tibalah saatnya, kutarik celananya, tetapi Wina masih menahannya. Dengan sedikit paksaan, CD itu selanjutnya terlepas juga. Hatiku bersorak. Aku pasti mampu kali ini.