Aku Setubuhi Istri Temanku // Part 2


RAKSASA POKER “Eh, kok malah melamun. Ada masalah apa Nis hingga termenung begitu? Apa yang mengganggu pikiranmu?” kata Nasir sambil memegang pundakku, sehingga saya terlalu kaget dan tersentak.

RAKSASAQIU SITUS JUDI PKV GAME TERPERCAYA



   

“Ti.. Tidak tersedia masalah apa-apa kok. Hanya saya merenungkan sejenak perihal pertemuan kami hari ini. Kenapa sanggup berlangsung yah,” alasanku.

Sidar cuma terdiam mendengar kami bincang-bincang bersama suaminya, tapi sesekali ia memandangiku dan menampakkan muka cerianya.


“Sekarang giliranmu Nis cerita perihal perjalanan hidupmu bersama istri sesudah sejak tadi cuma saya yang bicara.

Silahkan saja cerita panjang lebar mumpun hari ini saya tidak tersedia aktivitas di luar. Lagi pula anggaplah hari ini adalah hari keunggulan kami yang perlu dirayakan bersama. Bukankah begitu Dar..?” kata Nasir seolah cari perlindungan berasal dari istrinya dan waktunya siap digunakan khusus untukku.

“Ok, kalau gitu saya akan utarakan sedikit perihal kehidupan tempat tinggal tanggaku, yang terlalu bertolak belakang bersama kehidupan tempat tinggal tangga kalian” ucapanku sambil melakukan perbaikan dudukku di atas kursi empuk itu.

“Maaf kalau terpaksa kuungkapkan secara terus terang. Sebenarnya kedatanganku di kota Makassar ini justru karena dipicu oleh problem tempat tinggal tanggaku.

Aku selamanya cekcok dan bertengkar bersama istriku karena saya susah memperoleh lapangan kerja yang layak dan mempu menghidupi keluargaku. Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan tempat tinggal kegunaan melacak pekerjaan di kota ini. Eh.. Belum saya temukan pekerjaan, tiba-tiba kami ketemu tadi sesudah dua hari saya ke sana ke mari. Mungkin pertemuan kami ini tersedia hikmahnya. Semoga saja pertemuan kami ini merupakan jalur terlihat untuk menangani susah rumahtanggaku” Kisahku secara jujur terhadap Nasir dan istrinya.

Mendengar kisah sedihku itu, Nasir dan istrinya tak sanggup berkomentar dan terlihat ikut sedih, bahkan kami semua terdiam sejenak. Lalu secara serentak mulut Nasir dan istrinya terbuka dan seolah idamkan mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba mereka saling menatap dan menutup lagi mulutnya seolah mereka saling mengharap untuk memulai, tapi malah mereka ketawa terbahak, yang membuatku heran dan memaksa juga ketawa.

“Begini Nis, barangkali pertemuan kami ini benar tersedia hikmahnya, karena kebetulan sekali kami butuh teman layaknya kamu di tempat tinggal ini.

Kami kan belum dikaruniai seorang anak, sehingga kami selamanya kesepian. Apalagi kalau saya ke luar kota kalau ke Bone, maka istriku terpaksa sendirian di tempat tinggal meskipun sekali-kali ia memanggil kemanakannya untuk menemani sepanjang saya tidak ada, tapi saya selamanya menghawatirkannya. Untuk itu, kalau tidak memberatkan, saya idamkan kamu tinggal bersamaku. Anggaplah kamu sudah dapatkan lapangan kerja baru sebagai sumber mata pencaharianmu. Segala keperluan sehari-harimu, saya cobalah menjamin cocok kemampuanku” kata Nasir bersungguh-sungguh yang sesekali diiyakan oleh istrinya.

“Maaf kawan, saya tidak senang menyusahkan dan membebanimu. Biarlah saya cari kerja di tempat lain saja dan..” Belum saya selesai bicara, tiba-tiba Nasir memotong dan berkata..

“Kalau kamu tolak tawaranku ini artinya kamu tidak menganggapku lagi sebagai sahabat. Kami ikhlas dan berniat baik padamu Nis” katanya.

“Tetapi,” Belum kuutarakan maksudku, tiba-tiba Sidar juga ikut bicara..

“Benar Kak, kami terlalu perlu teman di tempat tinggal ini. Sudah lama hal ini kami acuhkan tapi barangkali baru kali ini dipertemukan bersama orang yang pas dan cocok hati nurani.

Apalagi Kak Anis ini sebenarnya sobat lama Kak Nasir, sehingga kami tidak perlu ragukan lagi. Bahkan kami terlalu senan kalau Kak sekalian menjemput istrinya untuk tinggal bersama kami di tempat tinggal ini” ucapan Sidar memberi semangat kuat padaku.

“Kalau begitu, apa boleh buat. Terpaksa kuterima bersama suka hati, sekaligus kuucapkan menerima kasih yang tak terhingga atas budi baiknya. Tapi sayangnya, saya tak mempunyai keterampilan apa-apa untuk menunjang kalian” kataku bersama pasrah.

Tiba-tiba Nasir dan Sidar seiring berdiri dan segera saling berpelukan, bahkan saling mengecup bibir sebagai tanda kegembiraannya. Lalu Nasir melanjutkan rangkulannya padaku dan juga mengecup pipiku, sehingga saya sedikit malu dibuatnya.

“Terima kasih Nis atas kesediaanmu menerima tawaranku semoga kamu berbahagia dan tidak susah apa-pun di tempat tinggal ini. DAFTAR ID PRO > KLIK < 


Kami tak perlu keterampilanmu, melainkan kehadiranmu menemani kami di tempat tinggal ini. Kami cuma butuh teman bermain dan tukar pikiran, karena tenaga kerjaku sudah cukup untuk menunjang mengelola usahaku di luar. Kami kapan waktu perlu nasehatmu dan istriku tentu terasa terhibur bersama kehadiranmu menemani kalau saya terlihat rumah” katanya bersama terlalu bergembira dan suka mendengar persetujuanku.

Kurang lebih satu bulan lamanya kami seolah cuma diperlakukan sebagai raja di tempat tinggal itu. Makanku diurus oleh Sidar, tempat tidurku kadang waktu juga dibersihkan olehnya, bahkan ia menghendaki untuk membersihkan pakaianku yang kotor tapi saya keberatan. Selama selagi itu pula, saya sudah disempurnakan bersama pakaian, bahkan kamar tidurku dibelikan TV 20 inch lengkap bersama VCD-nya. Aku terlalu malu dan terasa berutang budi terhadap mereka, karena selain pakaian, akupun diberi duit tunai yang jumlahnya cukup besar bagiku, bahkan belakangan kuketahui kalau ia juga seringkali kirim pakaian dan duit ke istri dan anak-anakku di Bone lewat mobil.

Kami bertiga sudah cukup akrab dan hidup di dalam satu tempat tinggal layaknya saudara kandung bersenda gurau, bercengkerama dan bergaul tanpa batas seolah tidak tersedia perbedaan standing layaknya majikan dan karyawannya. Kebebasan pergaulanku bersama Sidar memuncak ketika Nasir berangkat ke Sulawesi Tenggara sepanjang lebih dari satu hari untuk mempunyai beras untuk di menjual di sana karena tersedia permintaan berasal dari langgarannya.

Pada malam pertama keberangkatan Nasir, Sidar terlihat gembira sekali seolah tidak tersedia kecemasan apa-apa. Bahkan sempat mengatakan kepada suaminya itu kalau ia tidak risau lagi ditinggalkan meskipun berbulan-bulan lamanya karena sudah tersedia yang menjaganya, tapi ucapannya itu dianggapnya sebagai bentuk humor terhadap suaminya. Nasir pun terlihat tidak tersedia kecemasan meninggalkan istrinya bersama alasan yang sama.

Malam itu kami (aku dan Sidar) lihat bersama di area tamu hingga larut malam, karena kami sambil tukar pengalaman, juga soal sebelum akan nikah dan latar belakang perkawinan kami masing-masing. Sikap dan tingkah laku Sidar sedikit berbeda bersama malam-malam sebelumnya. Malam itu, Sidar memicu kopi susu dan menyodorkanku bersama pisang susu, lantas kami nikmati bersama sambil nonton. Ia makan sambil berbaring di sampingku seolah diakui biasa saja. Sesekali ia membalikkan tubuhnya kepadaku sambil bercerita, tapi saya pura-pura bersikap biasa, meskipun tersedia ganjalan aneh di benakku.

“Nis, kamu tidak keberatan khan menemaniku nonton malam ini? Besok khan tidak tersedia yang mengganggu kami sehingga kami sanggup tidur siang sepuasnya?” bertanya Sidar tiba-tiba seolah ia tak mengantuk sedikitpun.

“Tidak kok Dar. Aku justru suka dan suka sanggup nonton bersama majikanku” kataku sedikit menyanjungnya. Sidar lantas mencubitku dan..

“Wii de.. De, kok saya dibilangin majikan. Sebel saya mendengarnya. Ah, jangan lagi kata itu lagi deh, saya tak senang dipanggil majikan” katanya.

“Hi.. Hi.. Hi, tidak keliru khan. Maaf kalau tidak senang, saya cuma main-main. Lalu saya perlu panggil apa? Adik, Non, Nyonya atau apa?”

“Terserah dech, yang penting bukan majikan. Tapi saya lebih seneng kalau kamu memanggil saya adik” katanya santai.

“Oke kalau begitu maunya. Aku akan panggil adik saja” kataku lagi.

Malam makin lama larut. Tak satupun terdengar nada kalau nada kami berdua bersama nada TV. Sidar tiba-tiba bangkit berasal dari pembaringannya.

“Nis, apa kamu sering nonton kaset VCD bersama istrimu?” bertanya Sidar bersama sedikit rendah suaranya seolah tak senang didengar orang lain.

“Eng.. Pernah, tapi sama-sama bersama orang lain juga karena kami nonton di rumahnya” jawabku menyembunyikan sikap keherananku atas pertanyaannya yang tiba-tiba dan sedikit aneh itu.

“Kamu ingat judulnya? Atau jalur ceritanya?” tanyanya lagi.

“Aku lupa judulnya, tapi pemainnya adalah Rhoma Irama dan ceritanya adalah masalah percintaan” jawabku bersama pura-pura bersikap biasa.

“Masih senang ngga kamu temani saya nonton film berasal dari VCD? Kebetulan saya mempunyai kaset VCD yang banyak. Judulnya macam-macam. Terserah yang mana Anis suka” tawarannya, tapi saya sempat berfikir kalau Sidar akan memutar film yang aneh-aneh, film orang dewasa dan umumnya khusus ditonton oleh suami istri untuk membangkitkan gairahnya.

Setelah kupikir segala resiko, keyakinan dan dosa, saya lantas membuat alasan.

“Sebenarnya saya suka sekali, tapi saya takut.. Eh.. Maaf saya terlalu ngantuk. Jika tidak keberatan, lain kali saja, tentu kutemani” kataku sedikit bimbang dan risau alasanku salah. Tapi kelanjutannya ia menerima meskipun nampaknya sedikit kecewa di wajahnya dan tidak cukup semangat.

“Baiklah kalau sebenarnya kamu sudah ngantuk. Aku tidak senang serupa sekali memaksamu, lagi pula saya sudah cukup suka dan suka kamu bersedia menemaniku nonton hingga selarut ini. Ayo kami masuk tidur” katanya sambil mematikan TV-nya, tapi sebelum akan saya menutup pintu kamarku, saya melihat sejenak ia sempat memperhatikanku, tapi saya pura-pura tidak menghiraukannya.

Di atas tempat tidurku, saya gelisah dan bingung menyita ketentuan perihal alasanku kalau besok atau lusa ia lagi mengajakku nonton film tersebut. Antara mau, malu dan rasa risau selamanya menghantukiku. Mungkin dia juga mengalami hal yang sama, karena berasal dari di dalam kamarku selamanya terdengar tersedia pintu kamar terbuka dan tertutup dan juga air di kamar mandi selamanya kedengaran tertumpah.

Setelah kami makan malam bersama keesokan harinya, kami lagi nonton TV sama-sama di area tamu, tapi penampilan Sidar kali ini agak lain berasal dari biasanya. Ia berpakaian serba tipis dan tercium bau farfumnya yang harum menyengat hidup sepanjang area tamu itu. Jantungku sempat berdebar dan hatiku gelisah melacak alasan untuk menolak ajakannya itu, meskipun gejolak hati kecilku untuk ikuti kemauannya lebih besar berasal dari penolakanku.

Belum saya sempat mendapatkan alasan tepat, maka

“Nis, masih ingat janjimu tadi malam? Atau kamu sudah ngantuk lagi?” pertanyaan Sidar tiba-tiba mengagetkanku.

“O, oohh yah, saya ingat. Nonton VCD khan? Tapi jangan yang seram-seram donk filmnya, saya tak suka. Nanti saya mimpi buruk dan membuatku sakit, khan sibuk jadinya” jawabku mengingatkan untuk tidak memutar film porn.

“Kita liat aja permainannya. Kamu tentu suka menyaksikannya, karena saya percaya kamu belum pernah menontonnya, lagi pula ini film baru” kata Sidar sambil capai kotak yang berisi setumpuk kaset VCD lantas menarik sekeping kaset yang paling di atas seolah ia sudah mempersiapkannya, lantas memasukkan ke CD, lantas mundur dua langkah dan duduk di sampingku menunggu apa gerangan yang akan terlihat di layar TV tersebut.

Dag, dig, dug, getaran jantungku terlalu keras menunggu gambar yang akan tampil di layar TV. Mula-mula saya percaya kalau filmnya adalah film yang sanggup dipertontonkan secara umum karena gambar pertama yang terlihat adalah dua orang gadis yang sedang berloma naik speed board atau sampan dan saling membalap di atas air sungat. Namun dua menit kemudian, terlihat pula dua orang pria memburuhnya bersama naik kendaraan yang sama, kelanjutannya keempatnya bersua di tepi sungai dan bergandengan tangan lantas masuk ke keliru satu villa untuk bersantai bersama.

Tak lama lantas mereka berpasang-pasangan dan saling membuka pakaiannya, lantas saling merangkul, mencium dan setelah itu sebagaimana layaknya suami istri. Niat penolakanku tadi tiba-tiba terlupakan dan terganti bersama tekad kemauanku. Kami tidak sanggup mengeluarkan kata-kata, terlebih ketika kami melihat dua gunakan muda mudi bertelanjang bulat dan saling menjilati kemaluannya, bahkan saling mengadu alat yang paling vitalnya. Kami cuma sanggup saling melihat dan tersenyum.

“Gimana Nis,? Asyik khan? Atau tukar yang lain saja yang lucu-lucu?” pancing Sidar, tapi saya tak menjawabnya, malah saya melenguh panjang.

“Apa kamu sering dan suka nonton film beginian bersama suamimu?” giliran saya bertanya, tapi Sidar cuma menatapku tajam lantas mengangguk.

“Hmmhh” kudengar nada nafas panjang Sidar terlihat berasal dari mulutnya.

“Apa kamu pernah praktekkan layaknya di film itu Nis?” bertanya Sidar ketika keliru seorang wanitanya sedang menungging lantas laki-lakinya menusukkan kontolnya berasal dari belakang lantas mengocoknya bersama kuat.

“Tidak, belum pernah” jawabku singkat sambil lagi bernafas panjang.

“Maukah kamu mencobanya nanti?” bertanya Sidar bersama nada rendah.

“Dengan siapa, kami khan pisah bersama istri untuk sementara” kataku.

“Jika kamu bersua istrimu nanti atau wanita lain misalnya” kata Sidar.

“Yachh.. Kita liat saja nanti. Boleh juga kami cobalah nanti hahaha” kataku.

“Nis, apa malam ini kamu tidak idamkan mencobanya?” Tanya Sidar sambil sedikit merapatkan tubuhnya padaku. Saking rapatnya sehingga tubuhnya terasa hangatnya dan bau harumnya.

“Dengan siapa? Apa bersama wanita di TV itu?” tanyaku memancing.

“Gimana kalau bersama aku? Mumpung cuma kami berdua dan nggak akan tersedia orang lain yang tahu. Mau khan?” Tanya Sidar lebih jelas lagi mengarah sambil menyentuh tanganku, bahkan menyandarkan badannya ke badanku.

Sungguh saya kaget dan jantungku seolah copot mendengar rincian pertanyaannya itu, bahkan ia menyentuhku. Aku tidak sanggup lagi berpikir apa-apa, melainkan menerima apa terdapatnya malam itu. Aku tidak akan barangkali sanggup menolak dan mengecewakannya, bahkan saya terlalu menginginkannya, karena sudah lebih dari satu bulan saya tidak lakukan sex bersama istriku. Aku mencoba merapatkan badanku pula, lantas mengelus tangannya dan merangkul punggungnya, sehingga terasa hangat sekali.