Selain Suami Ku


RAKSASA POKER Kisah ini terjadi lebih dari satu th. yang lalu. Sudah lebih dari 5 th. usia perkimpoianku dengan Hendra, tapi belum terhitung membuahkan momongan, sesudah melacak informasi ke rekan rekan akhirnya aku mendapat saran dokter kadar bagus yang berpraktek di kawasan elit Jakarta.

Setelah menyebabkan appointment, aku dan suamiku telah berada di area tunggu dokter Andri, pasien yang tunggu telah banyak, dan ternyata kita mendapat nomer paling akhir pas sebelum akan ditutup pendaftarannya


Pukul 21:00 dipanggillah namaku oleh suster, aku masuk ke ruangan dokter Andri sendirian, saat suamiku perlu tunggu di area tunggu, konsultasi dilakukan di area praktek sendiri.

Betapa terkejutnya aku dibuatnya karena tanpa diduga ternyata dokter Andri adalah mantan pacarku dulu sewaktu SMA di sebuah kota kecil di Jawa Timur, kita sebetulnya bersahabat karena tiap kali pulang selalu sejalan karena jalan ke rumahnya melalui rumahku, hingga akhirnya kita berpacaran saat dia kelas 3 menjelang ujian akhir, dia adalah kakak kelasku satu th. di atas, sebagai jagoan basket pasti banyak rekan wanitaku yang coba menarik perhatiannya, tapi ternyata pilihan jatuh kepadaku.

Hubungan kita tidak terjadi lama karena sesudah selesai SMA dia perlu kuliah di Jakarta saat aku ternyata telah dijodohkan orang tuaku dengan seorang Insinyur yang mengerjakan proyek di dekat tempat tinggalku, dan setahun sesudah itu menikahlah aku dengan Hendra saat usiaku tetap dambakan nikmati era muda dan remajaku.

“Lily !!!” teriak dokter Andri

“Andri !!!” teriakku sejalan tak kalah terkejutnya.

Ternyata penampilan kita tidak banyak berubah kendati telah berpisah lebih dari 10 tahun, Andri yang aku kenal tetap seperti yang dulu, tapi terlihat lebih dewasa, sehingga tidak ada rasa asing di antara kami.

“Ly, gimana kabarmu selama ini, kemana aja kamu” Tanya Andri

Aku malu karena akulah yang meninggalkan dia untuk menikah dengan Hendra, kendati itu bukan kemauanku dan aku selalu mencintainya sebagai cinta pertamaku.

Aku diam saja dan menunduk malu karena menjadi bersalah dan sepertinya dia tau perasaanku.

“Sudahlah Ly, seluruhnya telah berlalu dan kini kita masing masing mempunyai kehidupan sendiri sendiri” kata Andri, terdengar nada kepedihan di perkataannya.

“Oke saat ini apa masalahmu ?” Tanya Andri telah berubah jadi dokter Andri.

Kemudian aku mengatakan permasalahanku yang tak terhitung kunjung mempunyai anak, malu terhitung sebetulnya menceritakan ini kepada bekas pacar yang kutinggalkan.

Lalu dia melaksanakan sedikit Tanya jawab tentang seputar kehidupan dan sesekali menyerampet ke masalah sex yang memadai sensitive, tapi itu kuanggap sebagai bagian dari tugas dia.

“oke, silahkan berbaring, biar aku periksa” kata dokter Andri


Aku menuruti saja perkataanya, sesudah itu dokter Andri menjadi memeriksa tubuhku, dapat kurasakan tangannya gemetar saat memeriksa suasana tubuhku, sepertinya ada rasa nervous terhadap dokter Andri begitu terhitung aku, mungkin dia paham degup jantungku yang berdetak tak normal saat stetoskop di tempelkan di dadaku. Sepertinya kita berdua menjadi canggung.

Dokter Andri memintaku melewatkan celana dalamku karena dia senang USG, dengan gemetar aku mencukupi permintaanya dan posisi kakiku mekangkang di tempat yang telah disediakan. Posisi dokter Andri pas diselangkanganku yang telah tidak tertutup, aku yakin sekali dia dapat melihat alat kewanitaanku dengan jelas, entah apa yang ada dipikiran dia aku nggak tahu, sesudah itu dia memasukkan alatnya USG ke vaginaku, dan tampaklah di layar monitor alat itu gambaran rahimku.

Setelah melaksanakan diagnosa, selesailah USG dan dia memintaku lagi duduk tempat duduk semula, lantas mengatakan diagnosanya terhadap rahimku dan lebih dari satu tindakan yang perlu dilakukan.

Selesailah acara konsultasi dengan dokter Andri, aku beranjak dari kursi dan menjabat tangan dokter Andri, aku tak mempunyai kekuatan saat dokter Andri mencium pipi kananku apalagi saat ciumannya berubah kekiripun aku selalu tak ada kekuatan untuk menolaknya, apalagi seperti diluar kendaliku, tanganku langsung capai kepala Andri dan kucium bibirnya dan dia memberi respond dengan mengulum bibirku, memadai lama kita berciuman melewatkan rindu yang telah lama terpendam dan tak sempat berkembang. Setelah kita tersadar, Andri melewatkan ciumannya, aku sebetulnya dambakan lebih lama lagi dengan dia, napasku telah memburu tak karuan, tapi dia telah memanggil suster yang di luar.

“aku dambakan kenalan dengan suamimu, kecuali kamu nggak keberatan kupanggil dia masuk sekarang” katanya

“Sus, tolong panggil suami Nyonya ini masuk” perinyahnya terhadap suster.

Aku diam saja menyesuaikan napas saat susternya masuk. Kemudian Hendra masuk ke area konsultasi dan duduk di sebelahku, kuremas tangannya untuk menenangkan diriku sendiri, karena aku tak paham apa yang dimaui Andri.

“Pak Hendra, sepertinya istri kamu perlu kontrol lebih lanjut, kecuali kamu tidak keberatan aku bakal melaksanakan lebih dari satu test, perlu saat mungkin kira-kira 30 – 45 menit mungkin lebih, atau Senin minggu depan sehingga waktunya lebih lama”

Suamiku diam saja lantas melihat ke arahku, aku Cuma menganggukkan kepala karena tetap bingung dengan apa maunya dokter Andri.

“baiklah dok, daripada minggu depan antri lagi, saat ini saja dok telah tanggung” jawab suamiku pasrah.

“oke silahkan tunggu diluar ” kata Andri sambil mempersilahkan suamiku keluar.

Begitu pintu area konsultasi di tutup, Andri menghampiriku.

“not bad, pantesan kamu senang meninggalkan aku demi dia” katanya sambil tangannya menarikku ke pelukannya, dan kita lagi berdiri berciuman.

Tangannya berubah ke pantatku dan menyingkap rokku, meremas pantatku yang telanjang karena aku sebetulnya belum mengenakan lagi celana dalamku, karena nervous.

Ciuman kita begitu bernafsu, maklum kangen berat, bibir Andri telah turun ke leherku, tak senang kalah kupeluk dia erat erat saat Andre mengelus dan meraba raba pentatku, nafasku berpacu dengan nafsu.

Antara kesadaran sebagai seorang istri dan rasa kangen dan juga dambakan menebus kekeliruan era lantas saling terlihat silih berganti, tapi akhirnya menghilang saat dokter Andri menjadi terhubung resluiting bajuku dan dipelorotkan ke bawah. Aku lagi memeluknya saat tinggal bra ungu yang menutupi bagian intim tubuhku. kubuka celananya hingga melorot kebawah dan tanganku langsung menuju ke penisnya yang tetap tertutup celana dalam, kurasakan ketegangan dan keras seperti batu, agak malu terhitung aku telanjang di depan dia tanpa sehelai benangpun melekat di tubuhku, baru kali ini aku dalam posisi seperti ini tidak cuman dengan suamiku. Andri langsung menyerbu ke-2 bukit di dadaku yang tetap tertutup bra sutera, diciuminya ke-2 bukit itu dengan gemas, sementara sesudah itu bra-ku tak bertahan lagi di tubuhku.

“kamu ternyata semakin montok saja, dan buah dadamu semakin indah dan terawat dibanding dulu, semakin matang dan lebih sexy” katanya sambil memandangi tubuhku yang telah telanjang dan langsung membenamkan kepalanya di antara ke-2 belah bukit di dadaku.

Meskipun pacaran kita tak lama, tapi karena kita telah berkenalan sejak lama, maka terhadap era pacaran kita telah dulu saling meraba dan melihat, hanya semata-mata itu, paling banter peting.

Andri telah mendaratkan lidahnya ke puncak bukitku, dia mempermainkan lidahnya di putingku, secara bergantian dari kiri ke kanan dan seterusnya sambil tangannya meremas remas dengan penuh gairah seakan tak dambakan kehilangan diriku lagi.

Kurasakan kenikmatan yang tak terkira, gairah sexualku menjadi naik, aku hanya dapat menggelinjang, kugigit bibirku karena tidak dapat mendesah dan menjerit dalam kenikmatan, takut ketahuan.

Andri mendudukkanku di meja prakteknya, dengan hati hati disingkirkannya peralatan kerjanya ke kursi samping sehingga tak menumbilkan sangsi terhadap suster maupun suamiku yang tunggu di luar. Kakiku dipentangkan lebar seperti saat konsultasi tadi, tapi kali ini kepala Andri langsung menuju ke selangkanganku, dibenamkannya kepalanya di antara ke-2 pahaku, ternyata Andri mempermainkan vaginaku dengan lidahnya. Kuremas rambutnya sebagai pelambiasan karena aku tidak dapat melampiaskan dengan menjerit atau mendesah seperti biasa kulakukan. Napasku telah berpacu dengan birahiku, dengan indahnya Andri mempermainkan irama jilatannya di tempat yang benar benar peka, sepertinya dia benar-benar menguasai peta anatomi tempat erotica vaginaku, dan aku dibuatnya melayang layang menuju puncak kenikmatan, jilatannya sungguh teratur, halus tidak kasar tapi mengimbuhkan kenikmatan yang tak ada tara, permainan di tempat klitoris maupun gabungan permainan lidah dan kocokan jari tangannya benar-benar terlalu berlebih kenikmatannya.

Hampir saja aku menjerit kecuali saja Andri tidak langsung menghentikan permainan lidahnya.

“please Ndri, jangan goda aku, saat ini please” desahku pelan takut terdengar suamiku yang tunggu di luar, entah dia dengar atau tidak.

Mengerti bakal permintaanku, Andri mengakhiri permainan lidahnya, dia berdiri didepanku, mengamati aku yang lagi terbakar birahi.

“kamu semakin cantik dan menakjubkan apalagi kecuali lagi bernafsu seperti ini” katanya sambil melewatkan pakaian dan celananya, tangannya menyesuaikan penisnya ke vaginaku.

Kami lagi berciuman, tanganku memegang penisnya dan mengocoknya.

“sepertinya lebih besar daripada dulu” bisikku sambil meremas remas penisnya.

Dia hanya tersenyum saat kubimbing penis itu ke vaginaku yang telah basah, kusapukan sejenak

ke bibir vaginaku, ternyata Andri tidak senang tunggu benar-benar lama, dia langsung mendorong masuk penisnya ke vaginaku yang telah basah, gerakannya perlahan tapi semakin lama semakin masuk ke dalam, hingga semua batang penis Andri terbenam ke vaginaku didiamkannya sejenak.

Ini adalah penis ke-2 yang nikmati hangatnya vaginaku tidak cuman suamiku, karena aku sebetulnya tidak dulu berselingkuh dengan laki laki lain. Sebenarnya ukuran penis Andri boleh dibilang sama dengan mempunyai Hendra, tapi karena bentuknya berbeda, maka aku merasakan sensasi yang tidak sama antara Andri dan suamiku.

“pelan pelan, ndri” bisikku

“lebih dari sepuluh th. aku dambakan saat saat seperti ini” jawabnya sambil memandangku penuh kemesraan.

Andri menarik terlihat secara perlahan dan lagi memasukkan secara perlahan pula dan semakin lama semakin cepat, tapi halus dan tidak liar. Sungguh indah permainan Andri, dengan penuh perasaan dan penuh kenikmatan, dia mengocok vaginaku dengan penisnya tangannya meraba dan meremas buah dadaku.

Aku telentang di meja, diangkatnya kakiku ke pundaknya, tangannya meremas ke-2 buah dadaku, gerakannya selalu tertata seakan dia nikmati tiap tiap gesekan dan gerakan dari tubuhku, pandangan matanya tak dulu terlepas dari mataku sungguh menghanyutkan pandangannya. Dirabanya seluruh

tubuhku seolah tak senang terlewatkan sejengkalpun dari jamahannya.

“terlalu lama aku merindukan seperti ini, selama nyaris tiga th. pertama sejak perkimpoianmu aku

membayangkan saat seperti ini” katanya tanpa menghentikan gerakannya

“Ndri, please jangan ungkit itu lagi” kataku pelan disela sela kenikmatan

Andri lantas membalikkan tubuhku, kini aku tengkurap di meja kerjanya, dengan perlahan Andri lagi memasukkan vaginaku, kali ini dari belakang. Kembali aku merasakan kenikmatan yang datang silih berubah antara sodokan, elusan dan ciuman di punggung dan juga remasan di dadaku, aku merasakan bercinta dengan seorang good lover yang romantis, yang paham kapan saatnya untuk berbuat apa, dia sepertinya paham identik yang dapat membuatku melambung ke awan kenikmatan birahi, kurasakan kocokan yang penuh kemesraan dan perasaan.

Lalu Andri menarik tanganku, kini aku 1/2 berdiri dengan tanganku dipegangi dari belakang sama Andri, dikocoknya dengan tak ada henti, dambakan rasanya teriak atau mendesah merasakan kenikmatan ini, tapi suamiku tetap tunggu diluar saat Andri mengaocokku dari belakang semakin lama semakin keras, iramanya kini berubah liar dan tidak beraturan, kendati agak kaget dengan perubahan iramanya tapi aku nikmati terhitung variasi ini.

Kini aku dihadapkan ke di tembok, tanganku tertumpu terhadap tembok menghindar tubuhku, kaki kanankudiangkat Andri dan dia mengocokku dengan keras dan cepat, mungkin suamiku tunggu di balik tembok ini aku tak tahu, tapi aku paham pasti kecuali suamiku tetap di luar sana dan aku yakin sekali dia bakal langsung paham kecuali aku teriak atau mendesah dalam kenikmatan.

Kutengok ke belakang, wajah Andri tersenyum penuh kemenangan, kemenangan karena dia dapat mempermainkan aku saat aku hanya dapat menghindar desah kenikmatan.

“kamu gila Ndri” ucapku pelan dan hanya dibalas senyum dan hentakan di vaginaku. Aku merasakan kenikmatan yang tak dapat kugambarkan, suatu kenikmatan yang bercampur ketegangan suatu petualangan yang nyerempet bahaya tapi benar benar kunikmati.

Tiba tiba pintu kamar di ketok.

“sebentar sus” teriak Andri sedikit panik

“kita masuk tempat periksa, bawa bajumu” perintahnya, dan kita berdua masuk tempat periksa dan menutup gordennya.

Bukannya berhenti, Andri jadi lagi mendorongku hingga aku berdiri membungkuk dan bersandarkan kursi, tanpa mempedulikan protesku dia lagi melesakkan penisnya ke vaginaku.

“gila kamu” protesku

“masuk sus” katanya sebagai jawaban sambil konsisten menyodokku dengan keras, aku hanya menggigit bibirku menghindar kenikmatan ini.

“dok, telah jam sepuluh lebih, kecuali dokter tidak membutuhkan aku lagi, aku permisi pulang dulu ya” kata suster dari luar gordin

“oke sus, hingga besok, tolong panggilkan Pak Hendra kesini” jawab Andri tanpa menghentikan kocokannya

“apa apaan ini” protesku lagi dengan pelan sesudah kudengar pintu ditutup suster

“tenang saja, percayalah aku takkan terjadi apa apa” katanya dan kocokannya semakin keras disertai remasan yang kuat terhadap buah dadaku yang menggantung sesekali diselingi tarikan terhadap rambutku, kugigit bibirku kuat kuat saat kudengar pintu lagi dibuka.

“ya dok, telah selesai ?” kudengar nada suamiku dibalik gordin

“Pak Hendra, mohon tunggu sebentar lagi ya, mungkin 15 menit lagi, telah nyaris selesai koq” jawab Andri tenang, tak setenang kocokannya di vaginaku, aku menggigit jariku menghindar desah napasku, tegang dan nikmat bercampur jadi suatu petualangan yang tak dulu kubayangkan sebelumnya.


Aku bercinta dengan mantan pacarku saat suamiku hanya terpisah selembar kain gordin diluar sana, aku merasakan ketegangan yang hebat, tapi diluar dugaanku justru tingkatkan erotis dan sensasi dari dalam diriku.

“iya pa, nggak paham dokter Andri, maunya macam macam nih” jawabku terbawa emosi erotis sambil meremas sandaran kursi menghindar desah karena kocokan Andri.

“nggak apa Pak Hendra, ini telah biasa koq, dari terhadap nggak kelar” lagi Andri menimpali sambil meremas ke-2 buah dadaku dengan semakin keras, aku nyaris menjerit kecuali tak ingat suamiku diluar sana, kupelototi dia sebagai protes tapi dia tersenyum saja.

“oke dok, nggak usah terburu buru, diselesaikan saja dok, yang penting hasilnya, ma ayah tunggu diluar ya, jangan pikirin aku diluar, mengikuti saja kata dokter Andri” jawab suamiku dari balik gordin, lantas kudengar pintu tertutup.

“tuh kan suamimu sendiri bilang nggak usah terburu buru, jangan pikirin dia suruh ikutin kataku ” kata Andri menggoda, kocokannya semakin cepat seakan menumpahkan segala rindu dan dendam yang terpendam bertahun tahun.

Kini aku ditelantangkan di tempat tidur pasien, tubuhnya lantas naik di atasku, kini kita telanjang dan lagi berpelukan dan berciuman di area prakteknya, untuk kesekian kalinya dia memasukkan penisnya ke vaginaku konsisten mengocoknya, karena tempat tidur berbunyi saat digoyang, Andri pindah ke kursi, ditariknya tubuhku kepangkuannya.

Aku langsung menyesuaikan posisiku dipangkuannya, cocok “petunjuk” suamiku untuk mengikuti kata Andri. Kini pindah aku yang mengocok Andri, posisi ini adalah favouritku. Tanpa tunggu lebih lama lagi, langsung kugoyang dan kuputar pantatku hingga menjadi vaginaku diaduk aduk Andri.

Tak senang kalah, Andri meremas buah dadaku dan mengulum ke-2 putingku dengan sedotan yang kuat, aku tak dapat bertahan lebih lama lagi, maka sampailah ke puncak kenikmatan tertinggi, orgasme pertama yang kualami tidak cuman dengan suamiku. Kugigit keras jariku untuk menghindar jeritan orgasmeku sehingga tak terdengar dari tempat suamiku menunggu.


“udah Ndri, keluarin please” pintaku sesudah mengalami orgasme

“kan suamimu bilang nggak usah buru buru” goda Andri

Tak tahan dipermainkan lebih lama, dengan sisa tenaga yang ada, aku goyang semakin liar dan cepat, Andri membenamkan kepalanya di antara buah dadaku, sepertinya dia telah tak tahan lagi, semakin keras sedotan di putingku.

“aku senang keluar, di dalam ya Ly” pintanya

“gila kecuali hamil gimana” protesku

“berarti terapinya sukses” jawabnya sambil lagi meremas dan menyedot putingku, aku dambakan berdiri melewatkan pelukan Andri tapi terlambat saat kurasakan denyutan dan semprotan yang keras dari penis Andre tentang sisi dalam vaginaku, menjadi begitu keras denyutan itu hingga aku terhanyut dan mengalami orgasme untuk ke-2 kalinya dengan Andri.

Aku terkulai lemas, kusandarkan kepalaku dipundak Andri, dia membelaiku dengan penuh kasih sayang, terhanyut aku dalam belaiannya dan pangkuannya, tubuh kita menyatu dan kurasakan degup jantung Andri, keringat kita saling melekat menyatu dalam kenikmatan, sementara aku membiarkan kecuali suamiku tunggu dengan setia di luar ruangan.

Beberapa saat sesudah itu kita tersadar dan langsung berbenah, kukenakan lagi pakaianku dan merapikan make up di wajahku, sesudah dirasa semua telah aman, Andre memanggil suamiku untuk masuk.

“Pak Hendra, istri kamu sebetulnya hebat, dia dapat tahan lama dengan suasana seperti ini” kata dokter Andri sambil melirik ke arahku

Aku hanya senyum senyum saja mendengar perkataannya, tapi tidak dengan suamiku.

“maksud dokter ?”

“ada sedikit kelainan terhadap rahim istri anda, dengan suasana seperti ini kecuali lelah atau suasana tertekan dia bakal benar-benar kesakitan” jelasnya, sesudah itu dia mengatakan dengan bhs kedokteran yang bagi kita berdua tidak paham sama sekali, tapi aku iyakan saja.

“saya bakal melaksanakan therapy dua kali seminggu kecuali dapat senin disini dan kamis di tempat praktek aku di rumah sehingga dapat lebih lama” paham Andri sambil melirikku kembali

“saya telah melaksanakan terapi awal, saat ini mau jangan terkait dulu selama satu minggu, sesudah satu minggu datang lagi ke sini bakal aku beri terapi dan obat untuk dapat terkait besoknya” lanjut Andri lagi melirikku berarti dia merencanakan sesuatu.

“saya turut apa kata dokter saja, mana yang paling baik bagi istriku paling baik pula bagi kami” jawab suamiku

“oke Pak Hendra, bu Hendra, kita telah sepakat, hingga senin di tempat praktek aku di rumah, mau reservasi dulu senin pagi sehingga tidak benar-benar lama menunggu” kata Andri sambil menyerahkan kartu namanya ke suamiku.

Selama percakapan ini, kurasakan sperma Andri menetes terlihat dari vaginaku, entah berapa banyak yang tertampung di celana dalamku.

Akhirnya kita pergi saat lonceng pukul 11 malam berbunyi, berarti aku telah dengan Andri paling tidak selama dua jam, dan lebih dari satu jam melaksanakan sex dengan dia, Andri mengantar kita hingga pintu, sebelum akan meningalkan kami, dia tetap sempat meremas pantatku.

“jangan lupa senin untuk reservasi dulu” katanya konsisten menghilang dibalik pintu. Ketika suamiku mengurus pembayaran, aku ke toilet untuk bersihkan sisa sperma Andri yang menetes di pahaku.

“Dokter Andri orangnya tetap muda, ganteng lagi, pantesan banyak pasangan muda yang jadi pasiennya” kata suamiku saat dalam perjalanan pulang

“cara dia menanggulangi pasien begitu tenang, cool gitu, sehingga kita seperti berhadapan dengan seorang rekan bukan seorang dokter” jawabku

“Senin aku antar lagi deh, lebih sore biar tidak benar-benar malam dan terapi-nya tidak terburu buru” jadi suamiku tanpa prasangka

Hari Senin sesudah reservasi pagi hari, aku ternyata mendapat nomer terakhir lagi, diminta datang pukul 7 malam di tempat praktek Andri.

Tempatnya di lingkungan perumahan yang elit dan asri, suasananya begitu nyaman untuk tempat tinggal, ternyata Andre terhubung praktek di paviliun samping rumahnya yang gandeng dengan rumah utama.

Pukul 6:30 malam aku dan suami telah hingga di tempat praktek, ada 2 pasien yang tunggu di situ, rata rata tetap muda, seusia kami.

Setelah tunggu lebih dari satu jam dan tidak ada pasien lainnya lagi, akhirnya suster cantik itu memanggil kita masuk.

Di depan kita berdua Andri begitu berwibawa seperti seperti seorang dokter.

“bagaimana Pak Hendra, apa kamu mengikuti wejangan aku untuk tidak terkait paling tidak hingga Kamis depan ?” Tanya dokter Andri

“ya bagaimana lagi dok, kecuali dambakan berhasil kita ikutin wejangan dokter saja” jawab suamiku seperti pasrah, sebetulnya nggak tega terhitung aku melihat expresi wajahnya.

“kali ini mungkin tidak selama yang pertama, paling lama satu jam, Pak Hendra boleh tunggu di sini atau di luar” kata Andri

“saya tunggu di luar, tempatnya sejuk dan asri, boleh aku Tanya dok ?” kata suamiku

“silahkan”

“kenapa suami tidak boleh menemani istri untuk konsultasi”

“banyak alasan, pertama, biar tidak benar-benar banyak pasien kecuali suaminya tidak setuju, sebagai upaya pembatasan pasien secara halus, kecuali nggak gitu dapat tiap hari aku selesai praktek jam 12 malam.

Kedua, aku pasti bakal menjadi canggung seumpama memeriksa si istri saat sang suami melototi kerja saya. Ketiga belum saatnya, sesudah periksa istri dan ternyata tidak ada masalah maka mungkin masalahnya ada di suami, baru aku bakal periksa suaminya, itulah metode pengobatan saya” jawab Andri

“oke dok, aku tunggu di luar saja” kata suamiku langsung terlihat meninggalkan aku berdua dengan Andri.

Sepeninggal suamiku, Andri langsung menarikku di pangkuannya, kita berciuman mesra, tangannya langsung meraba ke dadaku diremasnya dengan penuh gairah. Aku menjadi mendesis pelan saat ciumannya hingga di leherku.

“jangan mendesah disini sayang, ntar suamimu dengar” bisiknya, dia telah berani bilang sayang seperti dulu kala.

“bagaimana dengan suster diluar” tanyaku

“kenapa ” dia tak berani masuk kecuali tidak aku panggil”

Tangan Andri dengan terampil terhubung resliting di belakang hingga rok-ku langsung melorot ke pingggang, aku sengaja mengfungsikan pakaian rok terusan yang simpel sehingga gampang “dilucuti”, aku membalasnya dengan terhubung bajunya dan melemparnya ke meja.

Aku sesudah itu berdiri, dengan sendirinya rok-ku melorot ke lantai, kini aku hanya mengenakan bra hitam berenda setelan dengan celana dalamku, aku sebetulnya berusaha tampil sexy dan menggoda di depan Andri, dan ternyata berhasil, dia melihat dengan seksama ke arahku, nikmati tiap tiap lekuk kemolekan dan keindahan tubuhku.

“kamu sungguh cantik dan sexy” komentarnya, sambil berdiri melewatkan celananya.

Aku memutar tubuhku seperti seperti seorang type pakaian dalam, sesudah itu mengawali gerakan erotic seperti penari streaptease, Andri duduk lagi di kursi nikmati tarian erotic-ku sambil meremas remas penisnya yang menjadi menonjol dari balik celana dalam biru-nya.

Sesekali kugoda dia dengan menempelkan buah dadaku di wajahnya lantas menariknya kembali. Perlahan kulorotkan ke-2 tali bra-ku lantas diikuti melewatkan bra dari tubuhku dan kulemparkan ke wajah Andri, tampaklah buah dada kebanggaanku menggantung indah menantang terpampang di depannya.

Andri menelan ludah, dia berusaha menarikku ke pelukannya tapi aku menghindar menggoda, semakin dia terbakar birahi semakin baik bagiku, aku dambakan menggodanya. Sensasi dan rasa erotis di diriku semakin naik mengingat bahwa kini aku sedang menari streaptease di depan Andri yang nyaris telanjang saat suamiku tunggu di luar dan istri Andri ada di ruangan sebelah dengan anaknya, sungguh permainan ketegangan yang menggairahkan. DAFTAR ID PRO > 

Andri sepertinya semakin terbakar birahinya, kini dia telah melewatkan celana dalamnya dan meremas remas penis-nya sambil nikmati tarian erotisku.

Celana dalam satu satunya penutup tubuhku tetap melekat indah, tapi Andri sepertinya telah tidak tahan lagi dengan motivasi birahinya, dia lantas berjongkok di depanku, kakiku kananku dinaikkan ke kursi, dari celah celana dalam dia menjadi mencium dan menjilati vaginaku yang telah basah karena begitu terangsang nikmati sensasi ini.

Permainan lidah Andri tak benar-benar lama, dia lantas menarik turun celana dalamku hingga kita sama sama telanjang. Andri meneruskan pekerjaannya, jilatan lidahnya menyusuri pangkal paha hingga bibir vaginaku. Klitoris adalah bagian yang paling memperoleh perhatian spesifik dari Andri, memadai lama dia memainkan lidahnya di klitorisku dengan beraneka macam gerakan lidah, entah jurus apa yang dia mengfungsikan hingga aku hanya dapat menggigit bibir bawahku menghindar desah. Kuremas rambutnya dan kudorong lebih dalam ke vaginaku.

Aku duduk di kursi dokter, kepala Andri lagi melekat di selangkanganku, dia sungguh nikmati permainan ini begitu terhitung aku, permainan lidahnya sungguh jauh lebih lebih nikmat dibanding dengan suamiku, mungkin dia melaksanakan dengan mengfungsikan teori.

Desah tertahan sungguh merupakan siksaan tersendiri bagiku, tapi tidak bagi Andri, dia nikmati siksaanku ini, dia menyukai expresi wajahku saat menghindar desah kenikmatan, apalagi saat orgasme.

Setelah bahagia nikmati vaginaku, Andri lantas berlutut di depanku dan menyesuaikan posisinya sebelum akan memasukkan penisnya ke vaginaku. Aku nggak senang melaksanakan benar-benar cepat, kuminta Andri berdiri berubah posisi, dia duduk di kursi, kini aku berlutut di depannya, kuciumi penisnya, dengan gerakan menggoda, kujilati kantung bolanya, kupermainkan lidahku di batang dan ujung kepala penisnya sebelum akan memasukkan penisnya kemulutku. Akhirnya nyaris semua batang penisnya masuk dalam mulutku, dengan sliding aku menjadi mempermainkan dia, kini dia mendesah tertahan karena takut ketahuan, baik oleh istrinya maupun suamiku di luar sana.

Sepertinya dia nyaris tak tahan, lantas tubuhku dibopongnya menuju kamar sebelah yang sambung ke

ruang praktek dia. Kamar itu tidak benar-benar luas, dengan ranjang yang memadai besar dan bersih, dindingnya di menghias cermin seukuran ranjang.

“kamar apaan ini ?” tanyaku tetap dalam gendongannya

“untuk pasien kecuali perlu periksa sperma, ntar terhitung kamu bakal paham dan mengalami” jelasnya

“kamu boleh teriak sepuasnya, karena benar-benar jauh dan tak bakal terdengar oleh suamimu dari area tunggu pasien, kamar ini dirancang kedap suara” lanjutnya

“bagaimana dengan istri dan anakmu ?” tanyaku

“ada di dalam mungkin sedang nonton TV sama anakku, dia baru berumur 2 tahun” Andri merebahkuan tubuhku di ranjang, dengan mesra dan penuh gairah dia menciumi ke-2 buah dadaku sambil menindih tubuhku.

“ssssssshhhhh?”.. aagghhhh” aku telah berani mendesis meski perlahan sebagai pelampiasan atas kenikmatan yang aku alami.

“Ndri, fuck me please nooooowwwwww” pintaku sambil mengocok penis Andri

Tanpa mengikis saat lebih lama, Andri langsung memasukkan penisnya yang telah sekeras batu ke vaginaku yang telah basah, dengan tak ada ada masalah yang berarti melesaklah penis itu ke vaginaku, masuk semua tanpa tersisa. Meskipun telah dulu sekali melaksanakan dengan Andri, tetap saja kurasakan perasaan asing di vaginaku, karena bentuknya yang tidak sama dengan suamiku.

Kupeluk erat tubuh Andri seolah tubuh kita menyatu dalam panasnya api birahi yang membara, sambil selalu berpelukan dan berciuman, Andri mengocokku dengan penuh perasaan, pantatnya turun naik di atas tubuhku, kunaikkan kakiku menjepit pinggulnya untuk mengimbuhkan jalan sehingga dapat masuk lebih dalam.

“aaaaagghhhh”.. yaaa?” yesss”. trussss Ndri” desahku menjadi agak keras, aku menjadi menemukan irama permainanku mengimbangi goyangannya, kita bergulingan di atas ranjang sempit itu, terkadan aku di atas kadang dibawah.

Cukup lama kita dengan posisi ini, tak menjadi ke-2 peluh telah menetes campur jadi satu, seperti menyatunya tubuh kita dalam lautan kenikmatan.

Memang asik bercinta dengan Andri, begitu penuh perasaan karena sebetulnya di antara kita bukan semata-mata nafsu yang berperan tapi api cinta tetap belum padam sepenuhnya, dan sekaranglah saatnya menuntaskan cinta yang terpendam, bukan berarti aku tidak cinta sama suamiku tapi rasa cinta dan nafsu kali ini sungguh berbeda.

Kami bercinta seperti sepasang kekasih yang dilanda kangen berat, apalagi telah tiga hari tidak terkait dengan suamiku. Dengan bebas dan tanpa beban aku dapat mengekspresikan kenikmatanku dalam desahan desahan dan jeritan ringan, apalagi saat Andri menjadi mengocok dengan cepat dan keras hingga ranjang turut bergoyang keras.

Kuimbangi permainan irama Andri dengan menggerakkan tubuhku melawan gerakan Andri, kujepit tubuhnya dengan ke-2 kakiku yang mengapit di punggungnya sehingga pantatku turut terangkat menyebabkan Andri lebih dalam menanamkan penisnya di vaginaku. Kurengkuh sebanyak mungkin kenikmatan dari Andri sebanyak yang dapat dia berikan, Andri mengangkat tubuhnya hingga tertumpu terhadap lutut, kakiku dipentangkan menyebabkan vaginaku terbuka lebat, kocokan Andri semakin cepat secepat degup jantung kami.

Dengan posisi seperti ini kita dapat saling melihat sambil bercinta, kuamati wajah dan tubuhnya yang bersimpuh peluh kenikmatan, wajah Andri menurutku jauh lebih tampan dibandingkan dulu, lebih matang.

Cukup lama kita bercinta dengan posisi ini, dia lantas telentang di sampingku, tanpa tunggu permintaannya, langsung aku jongkok di atas penisnya, perlahan kuturunkan tubuhku hingga semua penis Andri masuk ke vaginaku semua.

Penis Andri menjadi menyetuh dinding terdalam dari vaginaku, kunaikkan lagi tubuhku lantas kuturunkan begitu seterusnya hingga aku dapat mengocokkan penisnya ke vaginaku. Andri meraba dan meremas ke-2 buah dadaku sambil memainkan putingnya, menyebabkan aku makin tambah terbakar dalam birahi. Kurobah gerakanku jadi berputar seperti orang ber hula-hop, vaginaku menjadi seperti diaduk aduk penis Andri yang tetap keras itu, sambil menggoyang pinggul kuraba dan kupermainkan kantong bolanya sehingga Andri kelojotan merem melek, matanya melotot ke arahku, pancaran kenikmatan kutangkap dari sorot matanya.

Aku melaksanakan variasi gerakan dengan posisi di atas aku yang pegang peranan, gabungan antara hula hop lantas maju mundur sesudah itu naik turun lagi lagi ber hula hop menyebabkan Andri seakan terbang tinggi dalam kenikmatan birahi, begitu terhitung aku, penis Andri sepertinya menjelajah ke semua pelosok area vaginaku. Ternyata Andri tak senang kalah, dia ikutan menggoyang pinggulnya melawan gerakanku, semakin cepat aku turunkan tubuhku semakin cepat pula dia tingkatkan pinggulnya hingga vaginaku tersodok dengan kerasnya begitu seterusnya. Tak teringat lagi apa yang dilakukan suamiku di luar ruangan ini yang tetap setia tunggu istrinya sedang bercinta dengan mantan pacarnya.

“Ndri, aku senang terlihat sayang” kataku tak tahan hadapi perlawanannya

“jangan dulu sayang, tidak dalam posisi seperti ini” jawabnya sambil mengangkat tubuhnya hingga posisi duduk dan aku dalam pangkuannya.

Goyanganku semakin cepat, Andri telah membenamkan kepalanya di antara ke-2 buah dadaku, mulutnya mempermainkan putingku secara bergantian, aku merasakan kenikmatan yang hebat antara kocokan di vagina dan kuluman maupun sedotan di putingku. Gerakanku semakin cepat dan tidak beraturan antara hingga tak tertahankan lagi aku capai puncak kenikmatan yang indah.

“aaaaaaaaggghhhh?”. yessss?” yessss?” yessssssss” desahku dalam orgasme sambil meremas rambut Andri yang tetap larut dalam keindahan permainan kami, sedotan di putingku semakin kencang saat orgasme kudapatkan hingga tingkatkan kenikmatan yang tak ada terbayangkan sebelumnya, tak lama sesudah itu maka lemaslah aku dalam pangkuannya. Andri membelaiku dengan mesra, meski aku paham dia belum mengalami orgasme, tapi dia selalu tenang, aku tetap dalam pangkuannya, dielusnya punggungku saat kepalaku telah terkulai di pundaknya.

Penis Andri di vaginaku tetap menegang, aku menjadi kasihan juga, tapi badanku lemes sesudah orgasme sesudah tiga hari tanpa sex. Dia menyuruhku berbaring di sebelahnya, sesudah itu digulingkannya tubuhku hingga aku tengkurap, lantas Andri naik di atasku, dipeluknya aku dari atas lantas dia berubah di antara kakiku yang dipentangkan. Ditariknya pantatku sedikit ke atas hingga aku agak nungging, lagi dia melesakkan penisnya ke vaginaku dan dengan cepatnya menjadi mengocok.

Tangannya mengelus punggungku lantas tubuhnya tengkurap di atas tubuhku, dia mengocokku dari belakang dengan posisi seperti ini, belum dulu aku melaksanakan di awalnya dengan suamiku, ini pengalaman pertamaku, gairahku menjadi naik lagi merasakan sensasi kenikmatan yang baru, tapi dengan posisi seperti ini aku tidak dapat melaksanakan apa apa kecuali hanya pasrah menerima kenikmatan yang dia berikan. Menyadari kepasrahanku, Andri semakin jadi jadi mengocokku, dihentakkannya pinggangnya ke arah pantatku hingga penisnya menghantam dinding vaginaku dengan kerasnya sambil dia menciumi tengkuk, pungak dan telingaku, yang kadang kadang dikulumnya.

“aaaaauuugghhhhh?”eeeehhhhhh?”..emmmmhhhh” hanya desah itulah yang dapat kulakukan. Entah jenis apa yang dimainkan ini, yang paham bukan doggie, mungkin jenis kura-kura kali, tapi who cares, yang penting aku memperoleh pelajaran dan kenikmatan baru dari dia.

Tak lama sesudah itu kurasakan denyutan keras dari penis Andri menghantam dinding vaginaku dengan kerasnya, semprotan demi semprotan kunikmati dengan perasaan yang lain, begitu kerasnya denyutan itu hingga mengantarku capai orgasme yang ke-2 kalinya hingga kali ini aku benar benar lemas tak bertenaga. Andri terkulai diatas punggungku sesudah menyemprotkan spermanya di vaginaku, sesudah itu dia berguling berbaring di sebelahku.

“Ternyata kamu lebih hebat dari yang aku bayangkan selama ini” komentarnya sesudah selesai menyetubuhiku lebih 1/2 jam.

“Tak kusangka bercinta dengan kamu dapat senikmat ini” lanjutnya.

“Kamu orang ke-2 sesudah suamiku, dan aku benar benar nikmati saat saat seperti ini” jawabku

“beruntunglah aku” Andri menimpali sambil tangannya mengelus punggungku

“aku terhitung untung dapat mendapat kesempatan seperti ini, dapat merasakan dua penis yang tidak sama dengan permainan yang tidak sama pula” kataku sambil meremas penisnya yang menjadi melemas.

“kenapa tidak kamu bandingkan saja perbedaannya sekarang, yakin deh sensasinya pasti berbeda?”

“maksudmu ?” kataku nggak ngerti

“sekarang kamu main dengan suamimu disini, kecuali mau, aku yang bakal mengatur, serahkan padaku” usulnya

“kamu gila Ndri, sesudah aku dengan kamu, lantas kamu minta aku dengan suamiku, mana aku dapat aku lakukanitu, lagian aku terhitung telah capek”

“yang penting kamu senang nggak “, soal lainnya serahkan aku, yakin deh pasti kamu bakal berterima kasih sesudah ini” paham Andri meyakinkanku.

Timbul rasa dambakan mencoba, tapi sangsi sangsi juga, kupikir lagi untung ruginya, sepertinya untung saja nggak ada ruginya bagiku. Aku terdiam karena malu untuk menjawab.

“oke kamu kenakan pakaian seperti biasa, kupanggil suamimu masuk, trust me” katanya lantas kita kenakan pakaian seperti layaknya.

“baik, tapi beri aku saat sebentar untuk memulihkan tenagaku” pintaku.

Setelah beristirahat sebentar, kita lagi ke area prakteknya dan dia memanggil suster untuk mempersilahkan suamiku masuk. “Pak Hendra, aku telah memeriksa anatomi tubuh istri anda, hasilnya dalam lebih dari satu hari lagi, saat ini aku dambakan melihat bagaimana efek sperma kamu terhadap bu Hendra” kata Andri saat aku dan suamiku menghadapnya sebagai seorang dokter.

“maksud dokter” kata suamiku nggak ngerti

“saya dambakan kamu berhubungan, sekarang, di sini, sesudah itu aku periksa lagi suasana rahim istri kamu sesudah berhubungan” jelasnya lagi

“sekarang ” di sini dok ?” suamiku bengong

“ya sekarang, pasti saja tidak disini, maksud aku di kamar sebelah, jangan risau pak, nanti kamu bakal paham sendiri, oke aku siapkan dulu” katanya lantas dia beranjak dari kursinya dan menuju ke kamar sebelah, mungkin merapikan sprei yang acak acakan habis kita mengfungsikan tadi.

“silahkan, enjoy saja, jangan tegang, kecuali ada masalah di dalam ada intercom yang dapat menghubungi saya” katanya sesudah terlihat dari kamar sebelah sambil mempersilahkan kita masuk.

Untuk ke-2 kalinya kumasuki kamar itu, tapi kali ini dengan orang lain, yaitu suamiku sendiri, ternyata ranjang telah rapi.

Agak canggung terhitung suamiku memulainya, maka aku ambil inisiatif, tanpa terhubung pakaian kulepas celana dalamku, ternyata sperma Andri banyak tumpah di situ maka aku ke toilet untuk bersihkan vaginaku dari sperma Andri, aku nggak senang suamiku sangsi terhadap cairan di vaginaku. Kulihat dia sangsi sangsi melewatkan celananya, aku langsung berlutut di depannya dan langsung ku kulum penisnya untuk memunculkan gairah sexualnya.

Andri benar, kurasakan sensasi yang tidak sama dibandingkan tadi. Tidak benar-benar lama menyebabkan penis suamiku menegang karena telah tiga hari kita tidak bercinta. Kurebahkan suamiku di ranjang lantas kuteruskan mengulum penisnya, dambakan rasanya kumasukkan langsung ke vaginaku untuk merasakan perbedaan kenikmatan yang dijanjikan Andri. Tapi tiba tiba pintu diketuk dari luar, kita kaget sesaat, karena posisiku di atas dan aku tetap Mengenakan pakaian meski tanpa celana dalam, maka aku buka pintunya, ternyata dokter Andri.

“maaf mengganggu, aku lupa pesan kecuali bu Hendra perlu di bawah, jangan di atas” kata dokter Andri dengan sorot mata yang nakal, lagi kututup pintu kamar sambil ngedumel, sialan, batinku.

Tanpa melewatkan bajuku karena risau ketahuan ada bau badan lain yang tetap melekat di tubuhku, aku langsung berbaring di sebelah suamiku, kita berciuman sebentar lantas suamiku menyesuaikan posisinya di antara kakiku, kupegang penisnya dan kubimbing ke vaginaku sesudah menyingkapkan rok ku hingga ke perut, kuusap oleskan di bibir vagina hingga lagi menegang, lantas didorongnya perlahan hingga masuk secara pelan pelan hingga semua tertanam di dalam, dia diam sebentar.

Sekali lagi Andri benar, aku merasakan kenikmatan yang tidak sama saat penisnya menjadi mengocok vaginaku. Meski irama kocokannya tak seindah Andri, tapi kenikmatan yang kuperoleh boleh dibilang setara, tiap irama kocokan maupun wujud penis membawa kenikmatan yang berbeda, baru saat ini aku dapat bilang seperti itu, tak dulu aku mengayalkan nikmati sensasi seperti ini.

Kunaikkan kakiku ke pundaknya sehingga suamiku dapat mengocok lebih dalam, aku tidak berani menjerit takut ketahuan, suamiku meremas buah dadaku dari luar sambil mengocok dengan keras. Karena telah tiga hari tidak berhubungan, maka tidak hingga sepuluh menit suamiku telah orgasme, dia menyemprotkan spermanya di vaginaku dengan kerasnya seakan mencukupi vaginaku, jauh lebih banyak dari mempunyai Andri tadi, denyutannya begitu keras tapi tak dapat membuatku orgasme dalam saat sesingkat itu. Setelah tidak ada lagi semprotannya, suamiku terkulai di atas tubuhku, lagi aku merasakan aroma tubuh yang tidak sama di antara keduanya, kuelus punggungnya dan dia mencium keningku, lantas kita berbenah diri sesudah itu terlihat kamar, tak kudapati dokter Andri di situ.

Kamipun tunggu di ruangannya, tak lama sesudah itu dia muncul.

“Oke tolong ibu lagi ke kamar tadi aku perlu berbincang dengan Pak Hendra dulu sebelum akan memeriksa Ibu” kata

Andri sambil mempersilahkan aku lagi ke kamar.

Entah apa yang dibicarakan ke-2 laki laki itu di luar karena aku perlu masuk kamar itu untuk ketiga kalinya, entah kali ini dengan yang mana lagi.

Sambil tunggu orang berikutnya yang masuk kamar, aku merenung tentang apa yang barusan terjadi, dalam tempo kurang dari 2 jam, aku telah bercinta dengan dua orang yang aku cintai secara berurutan, suatu pengalaman yang tak bakal terlupakan kendati yang terakhir dengan suamiku tak sempat mengalami orgasme, sebetulnya dambakan melanjutkan lagi untuk menuntaskan berahi yang tak tertuntaskan.

Aku sempat melamun kecuali seumpama bercinta dengan mereka berdua sekaligus, seperti yang dulu aku melihat di film biru betapa indah dan nikmatnya, tapi langsung kutepis idaman itu karena suamiku telah pasti bakal keberatan kecuali perlu share istri dengan orang lain. Ternyata orang berikutnya yang masuk seperti dugaanku adalah Andri.

“gimana Ly, kamu perlu berterima kasih atau mengumpatku ?” tanyanya menggoda

“tak kusangka begitu nikmat, begitu erotis” kataku sambil memeluknya berarti menerima kasih.

“kalau melihat begitu cepat, pasti kamu belum orgasme” tanyanya berlagak bodoh

Tanpa menjawab dan tanpa malu malu aku langsung membelakangi Andri membungkukkan badan dan menyingkapkan rok-ku hingga tampaklah pantatku yang putih mulus.

“beri aku sekali lagi Ndri sehingga tuntas” pintaku.

Dengan langsung dia terhubung resliting celananya dan tanpa melewatkan celana dikeluarkannya penisnya yang telah menegang kembali. Pinggangku dipegangnya dan dengan sekali dorong untuk ke-2 kalinya aku nikmati penisnya hari itu. Kali ini aku tak berani teriak karena tak paham dimana posisi suamiku, terdengar kecipuk cairan sperma suamiku yang tetap di vaginaku saat Andri mengocokku, tapi sepertinya dia tidak peduli. Kembali kurasakan perbedaan sensasi dan kenikmatan dari Andri dan suamiku, karena sebetulnya birahiku telah tinggi, tak lama sesudah itu akupun memperoleh orgasme untuk kesekian kalinya dari Andri, tanpa dia mengalami orgasme lantas Andri memasukkan lagi penisnya ke celananya.

“Aku telah memeriksa alat reproduksi suamimu, penisnya gede terhitung sih pasti kamu bahagia dengan mempunyai suamimu, Cuma karena agak membengkok ke kiri mungkin sedikit berpengaruh terhadap semprotannya dan karena gede dan panjang aku perkirakan berpengaruh terhadap rahimmu saat dia mengocok dengan keras” katanya sesudah merapikan celananya.

Kamipun lagi ke area praktek, suamiku tunggu di sana, sesudah memberi obat penyubur dan obat lainnya kamipun berpamitan pulang saat jam telah menyatakan 10 malam.

Pengobatan kita berlanjut konsisten tiap tiap Senin Kamis dengan langkah “therapy” yang sama, yaitu gantian antara suamiku dan Andri sambil dia melaksanakan therapy yang sebetulnya terhadap kita dan suamiku.

Lebih dari setahun kita melaksanakan konsultasi dengan dokter Andri saat akhirnya kita mengambil keputusan untuk berubah ke dokter lain karena tidak ada tanda-tanda kehamilan.

Antara kecewa dan bersukur karena kecuali hingga hamil aku pasti bingung siapakah ayah dari anakku, suamiku atau Andri. Meski begitu aku tetap terkait dengan Andri diluar praktek dia sebagai pelampiasan cinta yang terputus.

Itulah awal bagaimana aku akhirnya berpetualang dengan banyak laki laki dan terhadap akhirnya suamiku terhitung terbawa petualanganku untuk melaksanakan hubungan sex secara terbuka maupun beramai ramai.