Kisah Istri Yang Diperkosa Supir


RAKSASA POKER Namaku Vivi, umurku telah 26 tahun. Waktu menikah umurku tetap 20 th. dan sekarang Kedua anakku disekolahkan di luar negeri semua sehingga di rumah hanya saya dan suami serta dua orang pembantu yang hanya bekerja untuk membersihkan perabot rumah serta kebun, kala menjelang senja mereka pulang. Suamiku sebagai seorang usahawan miliki beberapa usaha di didalam dan luar negri. Kesibukannya membawa dampak suamiku tetap jarang berada di rumah.Bila suamiku berada di rumah hanya untuk istirahat dan tidur tengah pagi-pagi sekali dia telah ulang leyap didalam pandangan mataku. Hari-hariku sebelum akan anakku yang bungsu menyusul kakaknya yang telah lebih pernah menuntut ilmu di luar negeri terasa menyenangkan sebab tersedia saja yang bisa kukerjakan, entah itu untuk mengantarkannya ke sekolah ataupun membantunya didalam pelajaran.Namun semenjak tiga bulan setelah anakku berada di luar negeri hari-hariku terasa sepi dan membosankan. 


Terlebih ulang kalau suamiku tengah pergi bersama dengan urusan bisnisnya yang berada di luar negeri, bisa meninggalkan saya sampai 2 mingguan lamanya. Aku tidak pernah ikut campur urusan bisnisnya itu sehingga hari-hariku kuisi bersama dengan jalan-jalan ke mall ataupun pergi ke salon dan kadang-kadang laksanakan senam. Sampai suatu hari kesepianku berubah total sebab supirku. Suatu hari setibanya di rumah berasal dari tempatku senam supirku tanpa kuduga memperkosaku.Seperti kebanyakan begitu saya tiba di didalam rumah, saya langsung mengakses pintu mobil dan langsung masuk ke didalam rumah dan melangkahkan kakiku menaiki anak tangga yang melingkar menuju lantai dua di mana kamar utama berada. Begitu kubuka pintu kamar, saya langsung melemparkan tasku ke bangku yang tersedia di dekat pintu masuk dan saya langsung melepas pakaian senamku yang berwarna hitam sampai tinggal BH dan celana didalam saja yang tetap melekat terhadap tubuhku.Saat saya berlangsung hendak memasuki ruang kamar mandi saya melalui daerah rias kaca milikku. Sesaat saya melihat tubuhku ke cermin dan melihat tubuhku sendiri, kulihat betisku yang tetap kencang dan berwujud sama perut padi, selanjutnya mataku terasa berubah melihat pinggulku yang besar layaknya bentuk gitar bersama dengan pinggang yang kecil sesudah itu saya menyampingkan tubuhku sampai pantatku muncul tetap menonjol bersama dengan kencangnya.


Kemudian kuperhatikan anggota atas tubuhku, buah dadaku yang tetap diselimuti BH muncul mengerti lipatan anggota tengah, muncul memadai padat memuat serta, “Ouh.. ngapain kamu di sini!” sedikit terkejut ketika saya tengah asyik-asyiknya memandangi kemolekan tubuhku sendiri tiba-tiba saja kulihat berasal dari cermin tersedia kepalanya supirku yang rupanya tengah berdiri di bibir pintu kamarku yang tadi lupa kututup. “Jangan ngeliatin.. sana cepet keluar!” bentakku bersama dengan marah sambil menutupi anggota tubuhku yang terbuka.Tetapi supirku bukannya mematuhi perintahku malah kakinya melangkah maju satu demi satu masuk kedalam kamar tidurku. “Benny.. Saya telah bilang cepat keluar!” bentakku ulang bersama dengan mata melotot. “silakan ibu teriak sekuatnya, hujan di luar akan mengikis nada ibu!” ucapnya bersama dengan matanya menatap tajam padaku. 

Sepintas kulihat celah jendela yang berada di sampingku dan ternyata memang hujan tengah turun bersama dengan lebat, memang ruang kamar tidurku memadai rapat jendela-jendelanya sampai hujan turun pun takkan terdengar hanya saja di luar sana kulihat dedaunan dan ranting pohon bergoyang tertiup angin kesana kemari. Detik demi detik tubuh supirku semakin dekat dan tetap melangkah menghampiriku. Terasa jantungku semakin berdetak kencang dan tubuhku semakin menggigil karenanya.Aku pun terasa mundur tertib selangkah demi selangkah, saya tidak mengerti kudu berbuat apa kala itu sampai pada akhirnya kakiku terpojok oleh bibir ranjang tidurku. “Mas.. jangan!” kataku bersama dengan nada gemetar. “Hua.. ha.. ha.. ha..!” nada tawa supirku kala melihatku terasa kepepet. “Jangan..!” jeritku, begitu supirku yang telah berjarak satu meteran dariku menerjang tubuhku sampai tubuhku langsung terpental jatuh di atas ranjang dan didalam beberapa detik sesudah itu tubuh supirku langsung menyusul jatuh menindih tubuhku yang telentang. 

Aku tetap mengusahakan meronta kala supirku terasa menggerayangi tubuhku didalam himpitannya. Perlawananku yang konsisten bersama dengan memakai kedua tangan dan kedua kakiku untuk menendang-nendangnya tetap membawa dampak supirku termasuk kewalahan sampai susah untuk mengusahakan menciumi saya sampai saya sukses terlepas berasal dari himpitan tubuhnya yang besar dan kekar itu.Begitu saya mendapat peluang untuk mundur dan menjauh bersama dengan membalikkan tubuhku dan mengusahakan merangkak tapi saya tetap kalah cepat dengannya, supirku sukses menangkap celana dalamku sambil menariknya sampai tubuhku pun jatuh terseret ke pinggir ranjang ulang dan celana didalam putihku tertarik sampai bongkahan pantatku terbuka. Namun saya tetap mengusahakan ulang merangkak ke tengah ranjang untuk menjauhinya.Lagi-lagi saya kalah cepat bersama dengan supirku, dia sukses menangkap tubuhku ulang tapi belum sempat saya bangkit dan mengusahakan merangkak lagi, tiba-tiba saja pinggulku terasa kejatuhan benda berat sampai tidak bisa bergerak lagi. “Benny.. Jangan.. jangan.. mas..” kataku berulang-ulang sambil terisak nangis. Rupanya supirku telah kesurupan dan lupa siapa yang tengah ditindihnya. Setelah melihat tubuhku yang telah terasa kecapaian dan kehabisan tenaga selanjutnya supirku bersama dengan sigapnya menggenggam lengan kananku dan menelikungnya kebelakan tubuhku begitu pula lengan kiriku yang sesudah itu dia mengikat kedua tanganku kuat-kuat, entah bersama dengan apa dia mengikatnya. Setelah itu tubuhnya yang tetap berada di atas tubuhku berputar menghadap kakiku. Kurasakan betis kananku digenggamnya kuat-kuat selanjutnya ditariknya sampai menekuk.

Lalu kurasakan pergelangan kaki kananku dililitnya bersama dengan tali. Setelah itu kaki kiriku yang mendapat giliran diikatkannya bersama dengan bersama dengan kaki kananku. “Saya mengidamkan mencicipi ibu..” bisiknya dekat telingaku. “Sejak pertama kali saya melamar jadi supir ibu, saya telah mengidamkan meraih peluang layaknya sekarang ini.” katanya ulang bersama dengan nada nafas yang telah memburu. “Tapi saya majikan kamu Ben..” kataku mencoba mengingatkan. “Memang betul bu.. tapi itu kala jam kerja, sekarang telah pukul 7 malam bermakna saya telah bebas tugas..” balasnya sambil melepas ikatan tali BH yang kukenakan. “Hhh mm uuhh,” desah nafasnya memenuhi telingaku. “Tapi malam ini Bu Vivi kudu senang melayani saya,” katanya sambil tetap mendengus-denguskan hidungnya di seputar telingaku sampai tubuhku merinding dan geli. 

Setelah supirku melepas pakaiannya sendiri selanjutnya tubuhku dibaliknya sampai telentang.Aku bisa melihat tubuh polosnya itu. Tidak lama sesudah itu supirku menarik kakiku sampai pahaku melekat terhadap perutku selanjutnya mengikatkan tali ulang terhadap perutku. Tubuhku sesudah itu digendongnya dan dibawanya ke pojok anggota kepala ranjang selanjutnya dipangkunya di atas kedua kaki yang diselonjorkan, sama anak perempuan yang tubuhnya tengah dipeluk ayahnya.Tangan kirinya menahan pundakku sehingga kepalaku bersandar terhadap dadanya yang bidang dan muncul otot dadanya berwujud dan kencang tetapi tangan kanannya meremasi kulit pinggul, pahaku dan pantatku yang kencang dan putih bersih itu. “Benny.. jangan Ben.. jangan!” ucapku berulang-ulang bersama dengan nada terbata-bata mencoba mengingatkan pikirannya. 

Namun Benny, supirku tidak memperdulikan perkataanku sebaliknya bersama dengan senyum penuh nafsu tetap saja meraba-raba pahaku. “Ouh.. zzt.. Euh..” desisku panjang bersama dengan tubuh menegang menahan geli serta layaknya terkena setrum kala kurasakan tangannya melintasi belahan kedua pahaku.Apalagi telapak dan jemari tangannya berhenti pas di tengah-tengah lipatan pahaku. “Mass.. Eee” rintihku lebih panjang ulang bersama dengan bergetar sambil memejapkan mata ketika kurasakan jemarinya terasa mengusap-usap belahan bibir vaginaku. Tangan Mas Benny tetap menyentuh dan bergerak berasal dari bawah ke atas selanjutnya ulang turun ulang dan ulang ke atas ulang bersama dengan perlahan sampai beberapa kali. Lalu terasa sedikit menghimpit sampai ujung telunjuknya tenggelam didalam lipatan bibir vaginaku yang terasa terasa berdenyut-denyut, gatal dan geli.

Tangannya yang tetap meraba dan menggelitik-gelitik anggota didalam bibir vaginaku membawa dampak birahiku jadi naik bersama dengan cepatnya, bahkan telah memadai lama tubuhku tidak pernah meraih kehangatan ulang berasal dari suamiku yang tetap sibuk dan sibuk. Entah siapa yang memulai duluan kala pikiranku tengah melayang kurasakan bibirku telah beradu bersama dengan bibirnya saling berpagut mesra, menjilat, mengecup, menghisap liur yang muncul berasal dari didalam mulut masing-masing. “Ouh.. Vivi.. wajahmu memadai merangsang sekali Vivi..!” ucapnya bersama dengan nafasnya yang semakin memburu itu.Setelah bicara begitu tubuhku ditarik sampai buah dadaku yang menantang itu pas terhadap mukanya dan kemudian, “Ouh.. mas..” rintihku panjang bersama dengan kepala menengadah kebelakan menahan geli bercampur nikmat yang tak ada henti setelah mulutnya bersama dengan langsung memagut buah dadaku yang ranum itu. Kurasakan mulutnya menyedot, memagut, bahkan menggigit-gigit kecil punting susuku sambil sekali-kali menarik-narik bersama dengan giginya. 

Entah mengapa perasaanku kala itu layaknya takut, ngeri bahkan sebal bercampur aduk di didalam hati, tapi tersedia perasaan nikmat yang luar biasa sekali seakan-akan tersedia suatu hal yang pernah lama hilang kini ulang singgah merasuki tubuhku yang tengah didalam kondisi tidak berdaya dan pasrah. “Bruk..” tiba-tiba tangan Mas Benny melepas tubuhku yang tengah asyik-asyiknya saya menikmati sedalam-dalamnya tubuhku yang tengah melambung dan melayang-layang itu sampai tubuhku terjatuh di atas ranjang tidurku.Tidak berapa lama sesudah itu kurasakan anggota bibir vaginaku dilumat bersama dengan buas layaknya orang yang kelaparan. 

Mendapat serangan layaknya itu tubuhku langsung menggelinjang-gelinjang dan rintihan serta erangan suaraku semakin meninggi menahan geli bercampur nikmat sampai-sampai kepalaku bergerak menggeleng ke kanan dan ke kiri berulang-ulang. Cukup lama mulutnya mencumbu dan melumati bibir vaginaku terlebih-lebih terhadap anggota atas lubang vaginaku yang paling peka itu. “Benny.. sudah.. sudah.. ouh.. ampun Aar.. riss..” rintihku panjang bersama dengan tubuh yang mengejang-ngejang menahan geli yang menggelitik bercampur nikmat yang luar biasa rasanya kala itu. Lalu kurasakan tangannya pun terasa rebutan bersama dengan bibirnya.

Kurasakan jarinya dicelup ke didalam lorong kecil kemaluanku dan mengorek-ngorek isi dalamnya. “Ouh.. Ben..” desisku menikmati kronologis permainannya yang tetap terang belum pernah kudapatkan bahkan bersama dengan suamiku sendiri. “Sabar Win.., saya senang sekali bersama dengan lendirmu sayang!” nada supirku yang 1/2 bergumam sambil tetap menjilat dan menghisap-hisap tanpa hentinya sampai beberapa menit ulang lamanya. Setelah senang mulutnya bermain dan berkenalan bersama dengan bibir kemaluanku yang montok itu si Benny selanjutnya mendekati wajahku sambil meremas-remas buah dadaku yang ranum dan kenyal itu. “Bu Vivi.., saya entot sekarang ya.. sayang..” bisiknya lebih pelan ulang bersama dengan nafas yang telah mendesah-desah.“Eee..” pekikku begitu kurasakan di belahan pangkal pahaku tersedia benda yang memadai keras dan besar mendesak-desak 1/2 memaksa masuk belahan bibir vaginaku. “Tenang sayang.. tenang.. dikit lagi.. dikit lagi..” “Aah.. sak.. kiit..!” jeritku keras-keras menahan ngilu yang benar-benar benar-benar sampai-sampai terasa duburku berdenyut-denyut menahan ngilunya. DAFTAR ID PRO > KLIK < 


Akhirnya batang penis supirku tenggelam sampai didalam dibalut oleh lorong kemaluanku dan terhimpit oleh bibir vaginaku.Beberapa kala lamanya, supirku bersama dengan sengaja, penisnya hanya didiamkan saja tidak bergerak selanjutnya beberapa kala ulang terasa terasa di didalam liang vaginaku penisnya ditarik muncul perlahan-lahan dan setelah itu didorong masuk lagi, termasuk bersama dengan perlahan-lahan sekali seakan-akan mengidamkan menikmati gesekan-gesekan terhadap dinding-dinding lorong yang rapat dan terasa bergerenjal-gerenjal itu. Makin lama gerakannya semakin cepat dan cepat sehingga tubuhku semakin berguncang bersama dengan hebatnya sampai, “Ouhh..” Tiba-tiba nada supirku dan suaraku sama-sama beradu nyaring sekali dan panjang lengkingannya bersama dengan diikuti tubuhku yang kaku dan langsung lemas bagaikan tanpa tulang rasanya. 

Begitu pula bersama dengan tubuh supirku yang langsung terhempas kesamping tubuhku. “Sialan kamu Ben!” ucapku memecah kesunyian bersama dengan nada geram. Cerita BokepSetelah beberapa lama saya melepas letih dan nafasku telah terasa tenang dan tertib kembali. “Kamu gila Ben, kamu telah memperkosa istri majikanmu sendiri, tau!” ucapku ulang sambil melihat tubuhnya yang tetap terkulai di samping sisiku. “Bagaimana jika saya hamil nanti?” ucapku ulang bersama dengan nada kesal. “Tenang Bu Vivi.., saya tetap miliki pil anti hamil, Bu Vivi.” ucapnya bersama dengan tenang. “Iya.. tapi kan telah telat!” balasku bersama dengan sinis dan ketus. “Tenang bu.. tenang.. tiap tiap pagi ibu kan tetap minum air putih dan selama dua hari sebelumnya saya tetap mengkombinasikan bersama dengan obatnya jadi Bu Vivi enggak usah kuatir bakalan hamil bu,” ucapnya malah lebih tenang lagi. “Ouh.. jadi kamu telah merencanakannya, sialan kamu Ben..” ucapku bersama dengan terkejut, ternyata diam-diam supirku telah lama merencanakannya. “Bagaimana Bu Vivi..?Bagaimana apanya? Sekarang kamu lepasin saya Ben..” kataku tetap bersama dengan nada kesal dan gemas. “Maksudnya, tadi kala di Entotin sedap kan?” tanyanya ulang sambil membelai rambutku. Wajahku langsung merah padam mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh supirku, tapi didalam hati kecilku tidak bisa kupungkiri meskipun tadi dia telah memperkosa dan menjatuhkan derajatku sebagai majikannya, tapi saya sendiri ikut menikmatinya bahkan saya sendiri merasakan organsime dua kali. “Kok ngak dijawab sich!” tanya supirku lagi.

“Iya..iya, tapi sekarang lepasin talinya dong Benny!” kataku bersama dengan menggerutu sebab tanganku telah pegal dan kaku. “Nanti saja yach! Sekarang kami mandi dulu!” ucapnya sambil langsung menggendong tubuhku dan membawa ke kamar mandi yang berada di samping daerah ranjangku. Tubuhku yang tetap lemah lunglai bersama dengan kedua tangan dan kakiku yang tetap terikat itu ditempatkan di atas lantai keramik berwarna krem muda yang dingin pas di bawah pancuran shower yang terkait di dinding. 

Setelah itu supirku menyalakan lampu kamar mandiku dan menyalakan kran air sampai tubuhku basah oleh guyuran air dingin yang turun berasal dari atas pancuran shower itu.Melihat tubuhku yang telah basah dan muncul mengkilat oleh pantulan lampu kamar mandi selanjutnya Benny supirku berjongkok dekatku dan sesudah itu duduk di sampingku sampai tubuhnya pun ikut basah oleh air yang turun berasal dari atas. Mata supirku yang memandangiku layaknya muncul lain berasal dari biasanya, dia terasa mengusap rambutku yang basah ke belakang bersama dengan penuh sayang layaknya tengah menyayang seorang anak kecil.Lalu diambilnya sabun Lux cair yang tersedia di didalam botol dan menumpahkan terhadap tubuhku selanjutnya dia terasa menggosok-gosok tubuhku bersama dengan telapak tangannya. Pinggulku, perutku selanjutnya naik ke atas ulang ke buah dadaku kiri dan sesudah itu ke buah dadaku yang kanan. 

Tangannya yang terasa kasar itu tetap menggosok dan menggosok sambil bergerak berputar layaknya tengah memoles mobil bersama dengan cairan kits. Sesekali dia meremas bersama dengan lembut buah dada dan punting susuku sampai saya terasa geli dibuatnya, selanjutnya naik ulang di atas buah dadaku, pundakku, leherku selanjutnya ke bahuku, sesudah itu turun ulang ke lenganku. “Ah.. mas..” pekikku ketika tangannya ulang turun dan turun ulang sampai telapak tangannya menutup bibir vaginaku.Kurasakan telapak tangannya menggosok-gosok bibir vaginaku naik turun dan sesudah itu membelah bibir vaginaku bersama dengan jemari tangannya yang lincah dan cekatan dan ulang menggosok-gosokkannya sampai sabun Lux cair itu jadi semakin berbusa. 

Setelah memandikan tubuhku selanjutnya dia pun membersihkan tubuhnya sendiri sambil melepas tubuhku tetap bersandar di bawah pancuran shower. Usai membersihkan badan, supirku selanjutnya menggendongku muncul kamar mandi dan menghempaskan tubuhku yang tetap basah itu ke atas kasur tanpa melap tubuhku terutama dahulu. “Saya akan bawakan makanan ke sini yach!” ucapnya sambil supirku melilit handuk yang biasa kupakai kepinggangnya selanjutnya ngeloyor ke luar kamarku tanpa sempat untuk saya berbicara. Sudah tiga th. lebih saya tidak pernah merasakan kehangatan yang demikianlah memuncak, sebab keegoisan suamiku yang tetap sibuk bersama dengan pekerjaan.Memang didalam hal keuangan saya tidak pernah kekurangan. 

Apapun yang saya senang pasti kudapatkan, tapi untuk urusan kewajiban suami terhadap istrinya telah lama tidak kudapatkan lagi. Entah mengapa perasaanku kala ini layaknya tersedia rasa sedang, gembira atau.. entah apalah namanya. Yang pasti hatiku yang selama ini terasa berat dan bosan hilang begitu saja meskipun didalam hati kecilku termasuk terasa malu, benci, sebal dan kesal.Supirku memadai lama meninggalkan diriku sendirian, tapi kala ulang rupanya dia membawakan masakan nasi goreng bersama dengan telor yang tetap hangat serta segelas minuman kesukaanku. Lalu tubuhku disandarkan terhadap teralis ranjang. “Biar saya yang suapin Bu Vivi yach!” ucapnya sambil menyodorkan sesendok nasi goreng yang dibuatnya. “Kamu yang matang Ben!” tanyaku mengidamkan tahu. “Iya, selanjutnya siapa ulang yang matang jika bukan saya, kan di rumah hanya tinggal kami berdua, si neri kan telah saya suruh pulang duluan sebelum akan hujan tadi turun!” kata supirku. “Ayo dicicipi!” katanya lagi. 

Mulanya saya sangsi untuk mencicipi nasi goreng buatannya, tapi perutku yang memang telah terasa lapar, pada akhirnya kumakan termasuk sesendok demi sesendok. Tidak kusangka nasi goreng buatannya memadai lumanyan termasuk rupanya. Tanpa terasa nasi goreng di piring bisa kuhabisi juga.Bolehkan saya memanggil Bu Vivi bersama dengan sebutan mbak?” tanyanya sambil membersihkan mulutku bersama dengan tissue. “Boleh saja, memang kenapa?” tanyaku. “Engga apa-apa, biar sedap aja kedengaran di kupingnya.” Kalau saya boleh manggil Mbak Vivi, bermakna Bu Vivi eh.. tidak benar maksudnya Mbak Vivi, panggil saya Bang aja yach!” celetuknya meminta. “Terserah kamu saja ” kataku. “Sudah nggak mencapai ulang kan Mbak Vivi!” sahut supirku.“Memang kenapa!?” tanyaku. “Masih kuatkan?” tanyanya ulang bersama dengan senyum binal sambil terasa meraba-raba tubuhku kembali. Aku tidak berikan jawaban lagi, hanya menunduk malu, tadi saja saya diperkosanya malah membuatku senang disetubuhinya bahkan untuk babak yang kedua kataku didalam hati. Sejujurnya saya tidak senang tubuhku diperkosanya tapi saya tidak bisa untuk menolak permintaannya yang membawa dampak tubuhku bisa melayang-layang di hawa layaknya pernah kala saya pertama kali menikah bersama dengan suamiku.