Birahi Tinggi Bertemu Janda Kembang Hot


RAKSASA POKER Aku kudu jadi ayah sekaligus ibu untuk mereka. Bukan hal yang mudah. Sejumlah teman menganjurkan untuk menikah ulang supaya anak-anak meraih ibu baru. Anjuran yang bagus, namun aku tidak menghendaki anak-anak mendapat seorang ibu tiri yang tidak menyayangi mereka. Karena itu aku terlampau hati-hati.


Kehadiran anak2 menyadari merupakan hiburan yang tak tergantikan. Sinta kini berusia 10 th. dan jeremy adiknya berusia enam tahun. Anak-anak yang lucu dan pintar ini terlampau isi kekosonganku. Namun jikalau anak-anak ulang berkumpul bersama teman-temannya, kesepian itu senantiasa menggoda. Ketika hari udah larut malam dan anak-anak udah tidur, kesepian itu makin lama menyiksa.

Sejalan bersama itu, nafsu birahi ku yang tergolong besar itu meledak-ledak perlu penyaluran. Beberapa teman mengajakku mencari wanita panggilan namun aku tidak berani. Resiko terkena penyakit mengendurkan niatku. Terpaksa aku bermasturbasi. Sesaat aku terasa lega, namun sesudah itu permohonan untuk menggeluti tubuh seorang wanita senantiasa keluar di kepalaku.


Tidak terasa 3 bulan udah berlalu. Perlahan-lahan aku terasa menyimpan perhatian ke wanita-wanita lain. Beberapa teman kerja di kantor yang tetap lajang kelihatannya mengakses peluang. Namun aku lebih puas memiliki mereka sebagai teman. Karena itu tidak ada kemauan untuk membina interaksi serius. Di pas permohonan untuk nikmati tubuh seorang wanita makin lama meningkat, kesempatan itu singgah bersama sendirinya.

Senja itu di hari Jumat, aku pulang kerja. Sepeda motorku santai saja kularikan di selama Jalan Darmo. Maklum udah terasa gelap dan aku tidak terburu-buru. Di depan hotel Mirama kulihat seorang wanita kebingungan di samping mobilnya, Suzuki Baleno. Rupanya mogok. Kendaraan-kendaraan lain melaju lewat, tidak ada orang yang peduli. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, tidak menyadari apa yang hendak dilakukan. Rupanya mencari bantuan. Aku mendekat.

?Ada yang sanggup aku bantu, Mbak?? tanyaku sopan.

Ia terperanjat dan menatapku agak curiga. Saya memahaminya. Akhir-akhir ini banyak kejahatan berkedok tawaran pertolongan seperti itu.

?Tak usah takut, Mbak?, kataku.?Namaku Sony. Boleh aku melihat mesinnya??

Walaupun agak segan ia mengucapkan terima kasih dan mengakses kap mesinnya. Ternyata hanya problema penyumbatan slang bensin. Aku membetulkannya dan mesin dihidupkan lagi. Ia menghendaki membayar namun aku menolak. Kejadian itu berlalu begitu saja. Tidak kuduga hari selanjutnya aku berjumpa ulang dengannya di Tunjungan Plaza. Aku sedang menemani anak-anak berjalan-jalan ketika ia menyapaku. Kuperkenalkan dia pada anak-anak. Ia tersenyum manis kepada keduanya.

?Sekali ulang terima kasih untuk pertolongan kemarin sore?, katanya,?Namaku Linda. Maaf, kemarin tidak sempat berkenalan lebih lanjut.?

?Aku Sony?, sahutku sopan.

Harus kuakui, mataku terasa mencuri-curi pandang ke seluruh tubuhnya. Wanita itu menyadari turunan Cina. Kontras bersama baju kantor kemarin, ia sungguh menarik didalam baju santainya. Ia mengenakan celana jeans biru agak ketat, dipadu bersama kaos putih berlengan pendek dan leher rendah. Pakaiannya itu menyadari menampilkan keseksian tubuhnya. Buah dadanya yang ranum berukuran sekitar 38 menonjol bersama jujurnya, dipadu oleh pinggang yang ramping. Pinggulnya bundar indah digantungi oleh dua bongkahan pantat yang besar.

?Kok bengong?, katanya tersenyum-senyum,?Ayo minum di sana?, ajaknya.

Seperti kerbau dicocok hidungnya aku menurut saja. Ia menggandeng ke dua anakku mendahului. Keduanya nampak ceria dibelikan es krim, sesuatu yang tak dulu kulakukan. Kami duduk di meja terdekat sambil mencermati orang-orang yang lewat.

?Ibunya anak-anak nggak ikut?? tanyanya.

Aku tidak menjawab. Aku melirik ke ke dua anakku, Anita dan Marko. Anita menunduk menjauhi air mata.

?Ibu udah di surga, Tante?, kata Marko polos. Ia memandangku.

?Isteriku udah meninggal?, kataku. Hening sejenak.

?Maaf?, katanya,?Aku tidak punya niat mencari tahu?, lanjutnya bersama rasa bersalah.

Pokok pembicaraan beralih ke anak-anak, ke sekolah, ke pekerjaan dan sebagainya. Akhirnya aku menyadari jikalau ia manajer cabang satu perusahaan pemasaran tekstil yang mengelola lebih dari satu toko pakaian. Aku terhitung pada akhirnya menyadari jikalau ia berusia 32 th. dan udah menjanda selama satu setengah th. tanpa anak.

Selama pembicaraan itu sulit mataku lepas dari bongkahan dadanya yang menonjol padat. Menariknya, kerap ia menggerak-gerakkan badannya supaya buah dadanya itu sanggup lebih menonjol dan nampak menyadari bentuknya. Beberapa kali aku menelan air liur mengayalkan nikmatnya menggumuli tubuh bahenol nan seksi ini.

?Nggak berpikir menikah lagi?? tanyaku.

?Rasanya nggak ada yang berkenan serupa aku?, sahutnya.

?Ah, Masak!? sahutku,?Aku berkenan kok, jikalau diberi kesempatan?, lanjutku sedikit nakal dan memberanikan diri.?Kamu tetap cantik dan menarik. Seksi lagi.??

?Ah, Sony sanggup aja?, katanya tersipu-sipu sambil menepuk tanganku. Tapi keluar benar ia puas bersama ucapanku.

Tidak terasa nyaris dua jam kami duduk ngobrol. Akhirnya anak-anak mendesak minta pulang. Linda, wanita Cina itu, beri tambahan alamat rumah, nomer telephone dan HP-nya. Ketika dapat beranjak meninggalkannya ia berbisik,

?Saya menunggu Sony di rumah.?

Hatiku bersorak-sorak. Lelaki mana yang berkenan menolak kesempatan berada bersama wanita semanis dan seseksi Linda. Aku mengangguk sambil mengedipkan mata. Ia membalasnya bersama kedipan mata juga. Ini kesempatan emas. Apalagi sore itu Anita dan Marko dapat dijemput kakek dan neneknya dan bermalam di sana.

?OK. Malam nanti aku main ke rumah?, bisikku juga, ?Jam tujuh aku udah di sana.? Ia tersenyum-senyum manis.

Sore itu sesudah anak-anak dijemput kakek dan neneknya, aku membersihkan sepeda motorku lalu mandi. Sambil mandi imajinasi seksualku terasa muncul. Bagaimana tampang Linda tanpa pakaian? Pasti indah sekali tubuhnya yang bugil. Dan tentu sangatlah nikmat menggeluti dan menyetubuhi tubuh semontok dan selembut itu. Apalagi aku memang udah lama menghendaki nikmati tubuh seorang wanita Cina.

Tapi apakah ia berkenan menerimaku? Apalagi aku bukan orang Cina. Dari kawasan Timur Indonesia lagi. Kulitku agak gelap bersama rambut yang ikal. Tapi.. Peduli amat. Toh ia yang mengundangku. Andaikata aku diberi kesempatan, tidak dapat kusia-siakan. Kalau toh ia hanya semata-mata mengutarakan terima kasih atas pertolongaku kemarin, yah tak apalah. Aku tersenyum sendiri.

Jam tujuh lewat lima menit aku sukses mendapatkan rumahnya di kawasan Margorejo itu. Rumah yang indah dan mewah untuk ukuranku, berlantai dua bersama lampu depan yang buram. Kupencet bel dua kali. Selang satu menit seorang wanita separuh baya membukakan pintu pagar. Rupanya pembantu rumah tangga.

?Pak Sony?? ia bertanya, ?Silahkan, Pak. Bu Linda menunggu di dalam?, lanjutnya lagi.

Aku mengikuti langkahnya dan dipersilahkan duduk di ruang tamu dan iapun menghilang ke dalam. Selang semenit, Linda keluar. Ia mengenakan baju dan celana santai di bawah lutut. Aku berdiri menyambutnya.

?Selamat singgah ke rumahku?, katanya.

Ia mengembangkan tangannya dan aku dirangkulnya. Sebuah ciuman mendarat di pipiku. Ini ciuman pertama seorang wanita ke pipiku sejak kematian isteriku. Aku berdebaran. Ia menggandengku ke ruang sedang dan duduk di sofa yang empuk. Mulutku seakan terkunci. Beberapa pas bercakap-cakap, si pembantu rumah tangga singgah menghantar minuman.

?Silahkan diminum, Pak?, katanya sopan, ?Aku terhitung sekalian pamit, Bu?, katanya kepada Linda.

?Makan udah siap, Bu. Saya singgah ulang besok jam sepuluh.?

?Biar masuk sore aja, Bu?, kata Linda, ?Aku di rumah aja besok. Datang saja jam tiga-an.?

Pembantu itu mengangguk sopan dan berlalu.

?Ayo minum. Santai aja, aku mandi dulu?, katanya sambil menepuk pahaku.

Tersenyum-senyum ia berlalu ke kamar mandi. Di pas itu kuperhatikan. Pakaian santai yang dikenakannya cukup beri tambahan deskripsi bentuk tubuhnya. Buah dadanya yang montok itu menonjol ke depan laksana gunung. Pantatnya yang besar dan bulat berayun-ayun lembut mengikuti gerak jalannya. Pahanya padat dan mulus ditopang oleh betis yang indah.

?Santai saja, anggap di rumah sendiri?, lanjutnya sebelum saat menghilang ke balik pintu.

Dua puluh menit menunggu itu rasanya seperti seabad. Ketika pada akhirnya ia muncul, Linda membuatku terkesima. Rambutnya yang panjang sampai di punggungnya dibiarkan tergerai. Wajahnya segar dan manis. Ia mengenakan baju tidur longgar berwarna cream dipadu celana berenda berwarna serupa.

Tetapi yang membuat mataku membelalak ialah bahan baju itu tipis, supaya baju dalamnya menyadari kelihatan. BH merah kecil yang dikenakannya menutupi hanya sepertiga buah dadanya beri tambahan pemandangan yang indah. Celana didalam merah menyadari beri tambahan bentuk pantatnya yang besar bergelantungan. Pemandangan yang menggairahkan ini spontan mengungkit nafsu birahi ku. Kemaluanku terasa bergerak-gerak dan berdenyut-denyut.

?Aku tahu, Sony suka?, katanya sambil duduk di sampingku, ?Siang tadi di TP (Tunjungan Plaza) aku melihat mata Sony tak dulu lepas dari buah dadaku. Tak usah khawatir, malam ini semuanya punya kita.?

Ia lalu mencium pipiku. Nafasnya menderu-deru. Dalam hitungan detik mulut kami udah lekat berpagutan. Aku merengkuh tubuh montok itu ketat ke didalam pelukanku. Tangaku terasa bergerilya di balik baju tidurnya mencari-cari buah dadanya yang montok itu. Ia menggeliat-geliat supaya tanganku lebih leluasa bergerak sambil mulutnya tetap menyambut permainan bibir dan lidahku. Lidahku menerobos mulutnya dan bergulat bersama lidahnya.

Tangannya pun aktif menyerobot T-shirt yang kukenakan dan meraba-raba perut dan punggungku. Membalas gerakannya itu, tangan kananku terasa merayapi pahanya yang mulus. Kunikmati kehalusan kulitnya itu. Semakin mendekati pangkal pahanya, kurasa ia mengakses kakinya lebih lebar, biar tanganku lebih leluasa bergerak.

Peralahan-lahan tanganku menyentuh gundukan kemaluannya yang tetap tertutup celana didalam tipis. Jariku menelikung ke balik celana didalam itu dan menyentuh bibir memeknya. Ia mengaduh pendek namun segera bungkam oleh permainan lidahku. Kurasakan badannya terasa menggeletar mencegah nafsu birahi yang makin lama meningkat. DAFTAR ID PRO > 


Tangannyapun menerobos celana dalamku dan tangan lembut itu menggenggam batang kemaluan yang kubanggakan itu. Kemaluanku tergolong besar dan panjang. Ukuran tegang penuh sekitar 15 cm bersama diameter sekitar 4 cm. Senjata kebanggaanku inilah yang dulu jadi kesukaan dan kebanggaan isteriku. Aku yakin senjataku ini dapat jadi kesukaan Linda. Ia tentu dapat ketagihan.

?Au.. Besarnya?, kata Linda sambil mengelus lembut kemaluanku.

Elusan lembut jari-jarinya itu membuat kemaluanku makin lama mengembang dan mengeras. Aku mengerang-ngerang nikmat. Ia terasa menjilati dagu dan leherku dan bersamaan bersama itu melewatkan bajuku. Segera sesudah lepas bajuku bibir mungilnya itu menyentuh puting susuku. Lidahnya bergerak lincah menjilatinya. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tangannya ulang menerobos celanaku dan menggenggam kemaluanku yang makin lama berdenyut-denyut. Aku pun bergerak melewatkan baju tidurnya. Rasanya seperti bermimpi, seorang wanita Cina yang cantik dan seksi duduk di pahaku hanya bersama celana didalam dan BH.

?Ayo ke kamar?, bisiknya, ?Kita tuntaskan di sana.?

Aku bangkit berdiri. Ia menjulurkan tangannya minta digendong. Tubuh bahenol nan seksi itu kurengkuh ke didalam pelukanku. Kuangkat tubuh itu dan ia bergayut di leherku. Lidahnya tetap menerabas batang leherku membuat nafasku terengah-engah nikmat. Buah dadanya yang sungguh montok dan lembut melekat lekat di dadaku. Masuk ke kamar tidurnya, kurebahkan tubuh itu ke ranjang yang lebar dan empuk. Aku menariknya berdiri dan terasa melewatkan BH dan celana dalamnya.

Ia melewatkan aku jalankan seluruh itu sambil mendesah-desah mencegah nafsunya yang tentu makin lama menggila. Setelah tak ada selembar benangpun yang melekat di tubuhnya, aku mundur dan memandangi tubuh telanjang bulat yang fantastis itu. Kulitnya putih bersih, wajahnya bulat telur bersama mata agak sipit seperti biasanya orang Cina. Rambutnya hitam tergerai sampai di punggungnya.

Buah dadanya sungguh besar namun padat dan menonjol ke depan bersama puting yang kemerah-merahan. Perutnya rata bersama lekukan pusar yang menawan. Pahanya mulus bersama pinggul yang bundar digantungi oleh dua bongkah pantat yang besar bulat padat. Di sela paha itu kulihat gundukan hitam lebat bulu kemaluannya. Sungguh pemandangan yang indah dan menggairahkan birahi.

?Ngapain hanya melihat tok,? protesnya.

?Aku kagum dapat keindahan tubuhmu?, sahutku.

?Semuanya ini milikmu?, katanya sambil merentangkan tangan dan mendekatiku.

Tubuh bugil polos itu kini melekat erat ditubuhku. Didorongnya aku ke atas ranjang empuk itu. Mulutnya segera menjelajahi seluruh dada dan perutku tetap mengalami penurunan ke bawah mendekati pusar dan pangkal pahaku. Tangannya lincah melewatkan celanaku. Celana dalamku segera dipelorotnya. Kemaluanku yang udah tegang itu mencuat keluar dan berdiri tegak. Tiba-tiba mulutnya menangkap batang kemaluanku itu. Kurasakan sensai yang luar biasa ketika lidahnya lincah memutar-mutar kemaluanku didalam mulutnya. Aku mengerang-ngerang nikmat mencegah seluruh sensasi gila itu.

Puas mempermainkan kemaluanku bersama mulutnya ia melewatkan diri dan merebahkan diri di sampingku. Aku menelentangkannya dan mulutku terasa beraksi. Kuserga buah dada kanannya sembari tangan kananku meremas-remas buah dada kirinya. Bibirku mengulum puting buah dadanya yang mengeras itu. Buah dadanya terhitung mengeras diiringi deburan jantungnya. Puas buah dada kanan mulutku beralih ke buah dada kiri. Lalu perlahan namun tentu aku menuruni perutnya. Ia menggelinjang-linjang mencegah desakan birahi yang makin lama menggila. Aku menjilati perutnya yang rata dan menjulurkan lidahku ke pusarnya.

?Auu..? erangnya, ?Oh.. Oh.. Oh..? jeritnya makin lama keras.

Mulutku makin lama mendekati pangkal pahanya. Perlahan-lahan pahanya yang mulus padat itu membuka, menampakkan lubang surgawinya yang udah merekah dan basah. Rambut hitam lebat melingkupi lubang yang kemerah-merahan itu. Kudekatkan mulutku ke lubang itu dan perlahan lidahku menyuruk ke didalam lubang yang udah basah membanjir itu. Ia menjerit dan spontan duduk sambil menghimpit kepalaku supaya lidahku lebih didalam terbenam. Tubuhnya menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Pantatnya menggeletar hebat sedang pahanya makin lama lebar membuka.

?Aaa.. Auu.. Ooo..?, jeritnya keras.

Aku menyadari tidak ada sesuatu pun yang bakalan menghalangiku nikmati dan menyetubuhi si canting bahenon nan seksi ini. Tapi aku tak menghendaki menikmatinya sebagai orang rakus. Sedikit demi sedikit namun terlampau nikmat. Aku tetap mempermainkan klitorisnya bersama lidahku. Tiba-tiba ia menghentakkan pantatnya ke atas dan memegang kepalaku erat-erat. Ia melolong keras.

Pada pas itu kurasakan banjir cairan vaginanya. Ia udah meraih orgasme yang pertama. Aku berhenti sejenak melewatkan ia menikmatinya. Sesudah itu mulailah aku menjelajahi ulang bagian tersensitif dari tubuhnya itu. Kembali erangan suaranya terdengar isyarat birahi nya terasa menaik lagi. Tangannya terjulur mencari-cari batang kejantananku. Kemaluanku udah tegak sekeras beton. Ia meremasnya. Aku menjerit kecil, dikarenakan nafsuku pun udah diubun-ubun perlu penyelesaian.

Kudorong tubuh bahenon nan seksi itu rebah ke kasur empuk. Perlahan-lahan aku bergerak ke atasnya. Ia mengakses pahanya lebar-lebar siap terima penetrasi kemaluanku. Kepalanya bergerak-gerak di atas rambutnya yang terserak. Mulutnya tetap menggumam tidak jelas. Matanya terpejam. Kuturunkan pantatku. Batang kemaluanku berkilat-kilat dan memerah kepalanya siap menggerakkan tugasnya. Kuusap-usapkan kemaluanku di bibir kemaluannya. Ia makin lama menggelinjang seperti kepinding.

?Cepat.. Cepat.. Aku udah nggak tahan!? jeritnya.

Kuturunkan pantatku perlahan-lahan. Dan.. BLESS!

Kemaluanku menerobos liang senggamanya diiringi jeritannya membelah malam. Tetangga sebelah bisa saja sanggup mendengar lolongannya itu. Aku berhenti sebentar melewatkan dia menikmatinya. Lalu kutekan ulang pantatku supaya kemaluanku yang panjang dan besar itu menerobos ke didalam dan terbenam semuanya didalam liang surgawi miliknya.

Ia menghentak-hentakkan pantatnya ke atas supaya lebih didalam terima diriku. Sejenak aku diam nikmati sensasi yang luar biasa ini. Lalu perlahan-lahan aku terasa menggerakkan kemaluanku. Balasannya terhitung luar biasa.

Dinding-dinding lubang kemaluannya berusaha menggenggam batang kemaluanku. Rasanya seberti digigit-gigit. Pantatnya yang bulat besar itu diputar-putar untuk memperbesar rasa nikmat. Buah dadanya tergoncang-goncang selaras bersama genjotanku di kemaluannya. Matanya terpejam dan bibirnya terbuka, berdesis-desis mulutnya menahankan rasa nikmat.

Desisan itu beralih jadi erangan sesudah itu jeritan panjang terlontar membelah udara malam. Kubungkam jeritannya bersama mulutku. Lidahku berjumpa lidahnya. Sementara di bawah sana kemaluanku leluasa bertarung bersama kemaluannya, di sini lidahku pun leluasa bertarung bersama lidahnya.

?OH..?, erangnya, ?Lebih keras sayang, lebih keras lagi.. Lebih keras.. Oooaah!?

Tangannya melingkar merangkulku ketat. Kuku-kukunya membenam di punggungku. Pahanya makin lama lebar mengangkang. Terdengar bunyi kecipak lendir kemaluannya selaras bersama gerakan pantatku. Di pas itulah kurasakan gejala ledakan magma di batang kemaluanku. Sebentar lagu aku dapat orgasme.

?Aku berkenan keluar, Linda?, bisikku di sela-sela nafasku memburu.

?Aku juga?, sahutnya, ?Di didalam sayang. Keluarkan di dalam. Aku menghendaki kamu di dalam.?

Kupercepat gerakan pantatku. Keringatku mengalir dan menyatu bersama keringatnya. Bibirku kutekan ke bibirnya. Kedua tanganku mencengkam ke dua buah dadanya. Diiringi geraman keras kuhentakkan pantatku dan kemaluanku membenam sedalam-dalamnya. Spermaku memancar deras. Ia pun melolong panjang dan menghentakkan pantatnya ke atas terima diriku sedalam-dalamnya.

Kedua pahanya naik dan membelit pantatku. Ia pun meraih puncaknya. Kemaluanku berdenyut-denyut memuntahkan spermaku ke didalam rahimnya. Inilah orgasmeku yang pertama di didalam kemaluan seorang wanita sejak kematian isteriku. Dan ternyata wanita itu adalah Linda yang cantik bahenol dan seksi.

Sekitar sepuluh menit kami diam membatu mereguk seluruh detik kenikmatan itu. Lalu perlahan-lahan aku mengangkat tubuhku. Aku memandangi wajahnya yang berbinar dikarenakan birahi nya udah terpuaskan. Ia tersenyum dan membelai wajahku.

?Sony, kamu hebat sekali, sayang?, katanya, ?Sudah lebih dari setahun aku tidak merasakan ulang kejantanan laki laki seperti ini.?

?Linda terhitung luar biasa?, sahutku, ?Aku sungguh puas dan bangga sanggup nikmati tubuhmu yang menawan ini. Linda tidak menyesal bersetubuh denganku??

?Tidak?, katanya, ?Aku malah berbangga sanggup jadi wanita pertama sesudah kematian isterimu. Mau kan kamu memuaskan aku ulang nanti??

?Tentu saja mau?, kataku, ?Bodoh jikalau nolak rejeki ini.? Ia tertawa.

?Kalau kamu ulang pingin, telephone saja aku,? lanjutnya, ?Tapi jikalau aku yang pingin, boleh kan aku nelpon??

?Tentu.. Tentu..?, balasku cepat.

?Mulai saat ini kamu sanggup menyetubuhi aku kapan saja. Tinggal kabarkan?, katanya.

Hatiku bersorak ria. Aku mencabut kemaluanku dan rebah di sampingnya. Kurang lebih setengah jam kami berbaring berdampingan. Ia lalu mengajakku mandi. Lapar katanya dan ingin makan.

Malam itu sampai hari Minggu siang sungguh tidak terlupakan. Kami tetap berpacu didalam birahi untuk memuaskan nafsu. Aku menyetubuhinya di sofa, di meja makan, di dapur, di kamar mandi didalam berbagai posisi. Di atas, di bawah, dari belakang. Pendek kata hari itu adalah hari penuh kenikmatan birahi .

Dapat ditebak, pertemuan pertama itu berlanjut bersama aneka pertemuan lain. Kadang-kadang kami mencari hotel namun terbanyak di rumahnya. Sesekali ia singgah ke tempatku jikalau anak-anak ulang mendatangi kakek dan neneknya. Pertemuan-pertemuan kami senantiasa diisi bersama permainan birahi yang panas dan menggairahkan.

Satu malam di kamar tidurnya. Setelah lebih dari satu kali orgasme iseng aku menggodanya.

?Linda?, kataku, ?Betapa beruntungnya aku yang berkulit gelap ini sanggup nikmati tubuhmu bahenol, seksi, putih dan mulus seorang wanita Cina.? kataku, disambut bersama tawa cerianya.