Birahi Tinggi Bertemu Janda Kembang Hot


RAKSASA POKER Aku perlu menjadi papa sekaligus ibu untuk mereka. Bukan hal yang mudah. Sejumlah kawan merekomendasikan untuk menikah lagi sehingga anak-anak memperoleh ibu baru. Anjuran yang bagus, tetapi aku tidak dambakan anak-anak mendapat seorang ibu tiri yang tidak menyayangi mereka. Karena itu aku benar-benar hati-hati.

Kehadiran anak2 jelas merupakan hiburan yang tak tergantikan. Sinta kini berusia 10 tahun dan jeremy adiknya berusia enam tahun. Anak-anak yang lucu dan pintar ini benar-benar isikan kekosonganku. Namun jika anak-anak lagi berkumpul bersama dengan teman-temannya, kesepian itu senantiasa menggoda. Ketika hari udah larut malam dan anak-anak udah tidur, kesepian itu tambah menyiksa.


Sejalan bersama dengan itu, nafsu birahi ku yang tergolong besar itu meledak-ledak perlu penyaluran. Beberapa kawan mengajakku mencari wanita panggilan tetapi aku tidak berani. Resiko terkena penyakit mengendurkan niatku. Terpaksa aku bermasturbasi. Sesaat aku jadi lega, tetapi setelah itu permohonan untuk menggeluti tubuh seorang wanita senantiasa nampak di kepalaku.

Tidak jadi 3 bulan udah berlalu. Perlahan-lahan aku jadi menyimpan perhatian ke wanita-wanita lain. Beberapa kawan kerja di kantor yang tetap lajang kelihatannya membuka peluang. Namun aku lebih senang mempunyai mereka sebagai teman. Karena itu tidak tersedia niat untuk membina interaksi serius. Di waktu permohonan untuk menikmati tubuh seorang wanita tambah meningkat, peluang itu berkunjung bersama dengan sendirinya.

Senja itu di hari Jumat, aku pulang kerja. Sepeda motorku santai saja kularikan di selama Jalan Darmo. Maklum udah jadi gelap dan aku tidak terburu-buru. Di depan hotel Mirama kulihat seorang wanita kebingungan di samping mobilnya, Suzuki Baleno. Rupanya mogok. Kendaraan-kendaraan lain melaju lewat, tidak tersedia orang yang peduli. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, tidak jelas apa yang hendak dilakukan. Rupanya mencari bantuan. Aku mendekat.


?Ada yang sanggup aku bantu, Mbak?? tanyaku sopan.

Ia terkejut dan menatapku agak curiga. Saya memahaminya. Akhir-akhir ini banyak kejahatan berkedok tawaran pemberian layaknya itu.

?Tak usah takut, Mbak?, kataku.?Namaku Sony. Boleh aku menyaksikan mesinnya??

Walaupun agak segan ia mengucapkan menerima kasih dan membuka kap mesinnya. Ternyata cuma problema penyumbatan slang bensin. Aku membetulkannya dan mesin dihidupkan lagi. Ia dambakan membayar tetapi aku menolak. Kejadian itu berlalu begitu saja. Tidak kuduga hari seterusnya aku bersua lagi dengannya di Tunjungan Plaza. Aku tengah menemani anak-anak berjalan-jalan kala ia menyapaku. Kuperkenalkan dia pada anak-anak. Ia tersenyum manis kepada keduanya.

?Sekali lagi menerima kasih untuk pemberian kemarin sore?, katanya,?Namaku Linda. Maaf, kemarin tidak sempat berkenalan lebih lanjut.?

?Aku Sony?, sahutku sopan.

Harus kuakui, mataku jadi mencuri-curi pandang ke seluruh tubuhnya. Wanita itu jelas turunan Cina. Kontras bersama dengan pakaian kantor kemarin, ia sungguh menarik dalam pakaian santainya. Ia mengenakan celana jeans biru agak ketat, dipadu bersama dengan kaos putih berlengan pendek dan leher rendah. Pakaiannya itu jelas menampilkan keseksian tubuhnya. Buah dadanya yang ranum berukuran kurang lebih 38 menonjol bersama dengan jujurnya, dipadu oleh pinggang yang ramping. Pinggulnya bundar indah digantungi oleh dua bongkahan pantat yang besar.

?Kok bengong?, katanya tersenyum-senyum,?Ayo minum di sana?, ajaknya.

Seperti kerbau dicocok hidungnya aku menurut saja. Ia menggandeng ke dua anakku mendahului. Keduanya tampak ceria dibelikan es krim, sesuatu yang tak dulu kulakukan. Kami duduk di meja paling dekat sambil menyimak orang-orang yang lewat.

?Ibunya anak-anak nggak ikut?? tanyanya.

Aku tidak menjawab. Aku melirik ke ke dua anakku, Anita dan Marko. Anita menunduk menghindari air mata.

?Ibu udah di surga, Tante?, kata Marko polos. Ia memandangku.

?Isteriku udah meninggal?, kataku. Hening sejenak.

?Maaf?, katanya,?Aku tidak punya niat mencari tahu?, lanjutnya bersama dengan rasa bersalah.

Pokok pembicaraan berubah ke anak-anak, ke sekolah, ke pekerjaan dan sebagainya. Akhirnya aku jelas jika ia manajer cabang satu perusahaan pemasaran tekstil yang mengelola lebih dari satu toko pakaian. Aku juga akhirnya jelas jika ia berusia 32 tahun dan udah menjanda selama satu setengah tahun tanpa anak.

Selama pembicaraan itu susah mataku lepas dari bongkahan dadanya yang menonjol padat. Menariknya, kerap ia menggerak-gerakkan badannya sehingga buah dadanya itu sanggup lebih menonjol dan tampak jelas bentuknya. Beberapa kali aku menelan air liur berkhayal nikmatnya menggumuli tubuh bahenol nan seksi ini.

?Nggak berpikir menikah lagi?? tanyaku.

?Rasanya nggak tersedia yang mau serupa aku?, sahutnya.

?Ah, Masak!? sahutku,?Aku mau kok, jika diberi kesempatan?, lanjutku sedikit nakal dan memberanikan diri.?Kamu tetap cantik dan menarik. Seksi lagi.??

?Ah, Sony sanggup aja?, katanya tersipu-sipu sambil menepuk tanganku. Tapi nampak benar ia senang bersama dengan ucapanku.

Tidak jadi hampir dua jam kita duduk ngobrol. Akhirnya anak-anak mendesak minta pulang. Linda, wanita Cina itu, beri tambahan alamat rumah, nomer telepon dan HP-nya. Ketika bakal beranjak meninggalkannya ia berbisik,

?Saya menanti Sony di rumah.?

Hatiku bersorak-sorak. Lelaki mana yang mau menolak peluang berada bersama dengan wanita semanis dan seseksi Linda. Aku mengangguk sambil mengedipkan mata. Ia membalasnya bersama dengan kedipan mata juga. Ini peluang emas. Apalagi sore itu Anita dan Marko bakal dijemput kakek dan neneknya dan bermalam di sana.

?OK. Malam nanti aku main ke rumah?, bisikku juga, ?Jam tujuh aku udah di sana.? Ia tersenyum-senyum manis.

Sore itu setelah anak-anak dijemput kakek dan neneknya, aku membersihkan sepeda motorku lantas mandi. Sambil mandi imajinasi seksualku jadi muncul. Bagaimana tampang Linda tanpa pakaian? Pasti indah sekali tubuhnya yang bugil. Dan pasti sangatlah nikmat menggeluti dan menyetubuhi tubuh semontok dan selembut itu. Apalagi aku memang udah lama dambakan menikmati tubuh seorang wanita Cina.

Tapi apakah ia mau menerimaku? Apalagi aku bukan orang Cina. Dari kawasan Timur Indonesia lagi. Kulitku agak gelap bersama dengan rambut yang ikal. Tapi.. Peduli amat. Toh ia yang mengundangku. Andaikata aku diberi kesempatan, tidak bakal kusia-siakan. Kalau toh ia cuma cuman mengungkap menerima kasih atas pertolongaku kemarin, yah tak apalah. Aku tersenyum sendiri.

Jam tujuh lewat lima menit aku berhasil menemukan rumahnya di kawasan Margorejo itu. Rumah yang indah dan mewah untuk ukuranku, berlantai dua bersama dengan lampu depan yang buram. Kupencet bel dua kali. Selang satu menit seorang wanita separuh baya membukakan pintu pagar. Rupanya pembantu tempat tinggal tangga.

?Pak Sony?? ia bertanya, ?Silahkan, Pak. Bu Linda menanti di dalam?, lanjutnya lagi.

Aku mengikuti langkahnya dan dipersilahkan duduk di ruang tamu dan iapun menghilang ke dalam. Selang semenit, Linda keluar. Ia mengenakan pakaian dan celana santai di bawah lutut. Aku berdiri menyambutnya.

?Selamat berkunjung ke rumahku?, katanya.


Ia mengembangkan tangannya dan aku dirangkulnya. Sebuah ciuman mendarat di pipiku. Ini ciuman pertama seorang wanita ke pipiku sejak kematian isteriku. Aku berdebaran. Ia menggandengku ke ruang tengah dan duduk di sofa yang empuk. Mulutku seakan terkunci. Beberapa waktu bercakap-cakap, si pembantu tempat tinggal tangga berkunjung menghantar minuman.

?Silahkan diminum, Pak?, katanya sopan, ?Aku juga sekalian pamit, Bu?, katanya kepada Linda.

?Makan udah siap, Bu. Saya berkunjung lagi besok jam sepuluh.?

?Biar masuk sore aja, Bu?, kata Linda, ?Aku di tempat tinggal aja besok. Datang saja jam tiga-an.?

Pembantu itu mengangguk sopan dan berlalu.

?Ayo minum. Santai aja, aku mandi dulu?, katanya sambil menepuk pahaku.

Tersenyum-senyum ia berlalu ke kamar mandi. Di waktu itu kuperhatikan. Pakaian santai yang dikenakannya lumayan beri tambahan uraian wujud tubuhnya. Buah dadanya yang montok itu menonjol ke depan laksana gunung. Pantatnya yang besar dan bulat berayun-ayun lembut mengikuti gerak jalannya. Pahanya padat dan mulus ditopang oleh betis yang indah.

?Santai saja, anggap di tempat tinggal sendiri?, lanjutnya sebelum akan menghilang ke balik pintu.

Dua puluh menit menanti itu rasanya layaknya seabad. Ketika akhirnya ia muncul, Linda membuatku terkesima. Rambutnya yang panjang hingga di punggungnya dibiarkan tergerai. Wajahnya segar dan manis. Ia mengenakan pakaian tidur longgar berwarna cream dipadu celana berenda berwarna serupa.

Tetapi yang menyebabkan mataku membelalak ialah bahan pakaian itu tipis, sehingga pakaian dalamnya jelas kelihatan. BH merah kecil yang dikenakannya menutupi cuma sepertiga buah dadanya beri tambahan pemandangan yang indah. Celana dalam merah jelas beri tambahan wujud pantatnya yang besar bergelantungan. Pemandangan yang menggairahkan ini spontan mengungkit nafsu birahi ku. Kemaluanku jadi bergerak-gerak dan berdenyut-denyut.

?Aku tahu, Sony suka?, katanya sambil duduk di sampingku, ?Siang tadi di TP (Tunjungan Plaza) aku menyaksikan mata Sony tak dulu lepas dari buah dadaku. Tak usah khawatir, malam ini semuanya milik kita.?

Ia lantas mencium pipiku. Nafasnya menderu-deru. Dalam hitungan detik mulut kita udah lekat berpagutan. Aku merengkuh tubuh montok itu ketat ke dalam pelukanku. Tangaku jadi bergerilya di balik pakaian tidurnya mencari-cari buah dadanya yang montok itu. Ia menggeliat-geliat sehingga tanganku lebih leluasa bergerak sambil mulutnya terus menyambut permainan bibir dan lidahku. Lidahku menerobos mulutnya dan bergulat bersama dengan lidahnya.

Tangannya pun aktif menyerobot T-shirt yang kukenakan dan meraba-raba perut dan punggungku. Membalas gerakannya itu, tangan kananku jadi merayapi pahanya yang mulus. Kunikmati kehalusan kulitnya itu. Semakin mendekati pangkal pahanya, kurasa ia membuka kakinya lebih lebar, biar tanganku lebih leluasa bergerak. 

Peralahan-lahan tanganku menyentuh gundukan kemaluannya yang tetap tertutup celana dalam tipis. Jariku menelikung ke balik celana dalam itu dan menyentuh bibir memeknya. Ia mengaduh pendek tetapi langsung bungkam oleh permainan lidahku. Kurasakan badannya jadi menggeletar mencegah nafsu birahi yang tambah meningkat.

Tangannyapun menerobos celana dalamku dan tangan lembut itu menggenggam batang kemaluan yang kubanggakan itu. Kemaluanku tergolong besar dan panjang. Ukuran tegang penuh kurang lebih 15 cm bersama dengan diameter kurang lebih 4 cm. Senjata kebanggaanku inilah yang dulu menjadi kesukaan dan kebanggaan isteriku. Aku percaya senjataku ini bakal menjadi kesukaan Linda. Ia pasti bakal ketagihan.

?Au.. Besarnya?, kata Linda sambil mengelus lembut kemaluanku.

Elusan lembut jari-jarinya itu menyebabkan kemaluanku tambah mengembang dan mengeras. Aku mengerang-ngerang nikmat. Ia jadi menjilati dagu dan leherku dan sejalan bersama dengan itu membiarkan bajuku. Segera setelah lepas bajuku bibir mungilnya itu menyentuh puting susuku. Lidahnya bergerak lincah menjilatinya. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tangannya lagi menerobos celanaku dan menggenggam kemaluanku yang tambah berdenyut-denyut. Aku pun bergerak membiarkan pakaian tidurnya. Rasanya layaknya bermimpi, seorang wanita Cina yang cantik dan seksi duduk di pahaku cuma bersama dengan celana dalam dan BH.

?Ayo ke kamar?, bisiknya, ?Kita tuntaskan di sana.?

Aku bangkit berdiri. Ia menjulurkan tangannya minta digendong. Tubuh bahenol nan seksi itu kurengkuh ke dalam pelukanku. Kuangkat tubuh itu dan ia bergayut di leherku. Lidahnya terus menerabas batang leherku menyebabkan nafasku terengah-engah nikmat. Buah dadanya yang sungguh montok dan lembut menempel lekat di dadaku. Masuk ke kamar tidurnya, kurebahkan tubuh itu ke ranjang yang lebar dan empuk. Aku menariknya berdiri dan jadi membiarkan BH dan celana dalamnya.

Ia membiarkan aku melakukan seluruh itu sambil mendesah-desah mencegah nafsunya yang pasti tambah menggila. Setelah tak tersedia selembar benangpun yang menempel di tubuhnya, aku mundur dan memandangi tubuh telanjang bulat yang fantastis itu. Kulitnya putih bersih, wajahnya bulat telur bersama dengan mata agak sipit layaknya umumnya orang Cina. Rambutnya hitam tergerai hingga di punggungnya.

Buah dadanya sungguh besar tetapi padat dan menonjol ke depan bersama dengan puting yang kemerah-merahan. Perutnya rata bersama dengan lekukan pusar yang menawan. Pahanya mulus bersama dengan pinggul yang bundar digantungi oleh dua bongkah pantat yang besar bulat padat. Di sela paha itu kulihat gundukan hitam lebat bulu kemaluannya. Sungguh pemandangan yang indah dan menggairahkan birahi.

?Ngapain cuma menyaksikan tok,? protesnya.

?Aku terpesona bakal keindahan tubuhmu?, sahutku.

?Semuanya ini milikmu?, katanya sambil merentangkan tangan dan mendekatiku.

Tubuh bugil polos itu kini menempel erat ditubuhku. Didorongnya aku ke atas ranjang empuk itu. Mulutnya langsung menjelajahi seluruh dada dan perutku terus mengalami penurunan ke bawah mendekati pusar dan pangkal pahaku. Tangannya lincah membiarkan celanaku. Celana dalamku langsung dipelorotnya. Kemaluanku yang udah tegang itu mencuat nampak dan berdiri tegak. Tiba-tiba mulutnya menangkap batang kemaluanku itu. Kurasakan sensai yang luar biasa kala lidahnya lincah memutar-mutar kemaluanku dalam mulutnya. Aku mengerang-ngerang nikmat mencegah seluruh sensasi gila itu.

Puas mempermainkan kemaluanku bersama dengan mulutnya ia membiarkan diri dan merebahkan diri di sampingku. Aku menelentangkannya dan mulutku jadi beraksi. Kuserga buah dada kanannya sembari tangan kananku meremas-remas buah dada kirinya. Bibirku mengulum puting buah dadanya yang mengeras itu. Buah dadanya juga mengeras diiringi deburan jantungnya. Puas buah dada kanan mulutku berubah ke buah dada kiri. Lalu perlahan tetapi pasti aku menuruni perutnya. Ia menggelinjang-linjang mencegah desakan birahi yang tambah menggila. Aku menjilati perutnya yang rata dan menjulurkan lidahku ke pusarnya.

?Auu..? erangnya, ?Oh.. Oh.. Oh..? jeritnya tambah keras.

Mulutku tambah mendekati pangkal pahanya. Perlahan-lahan pahanya yang mulus padat itu membuka, menampakkan lubang surgawinya yang udah merekah dan basah. Rambut hitam lebat melingkupi lubang yang kemerah-merahan itu. Kudekatkan mulutku ke lubang itu dan perlahan lidahku menyuruk ke dalam lubang yang udah basah membanjir itu. Ia menjerit dan spontan duduk sambil menekan kepalaku sehingga lidahku lebih dalam terbenam. Tubuhnya menggeliat-geliat layaknya cacing kepanasan. Pantatnya menggeletar hebat tengah pahanya tambah lebar membuka.

?Aaa.. Auu.. Ooo..?, jeritnya keras.

Aku jelas tidak tersedia sesuatu pun yang bakalan menghalangiku menikmati dan menyetubuhi si canting bahenon nan seksi ini. Tapi aku tak dambakan menikmatinya sebagai orang rakus. Sedikit demi sedikit tetapi benar-benar nikmat. Aku terus mempermainkan klitorisnya bersama dengan lidahku. Tiba-tiba ia menghentakkan pantatnya ke atas dan memegang kepalaku erat-erat. Ia melolong keras.

Pada waktu itu kurasakan banjir cairan vaginanya. Ia udah mencapai orgasme yang pertama. Aku berhenti sejenak membiarkan ia menikmatinya. Sesudah itu mulailah aku menjelajahi lagi anggota tersensitif dari tubuhnya itu. Kembali erangan suaranya terdengar sinyal birahi nya jadi menaik lagi. Tangannya terjulur mencari-cari batang kejantananku. Kemaluanku udah tegak sekeras beton. Ia meremasnya. Aku menjerit kecil, sebab nafsuku pun udah diubun-ubun perlu penyelesaian.

Kudorong tubuh bahenon nan seksi itu rebah ke kasur empuk. Perlahan-lahan aku bergerak ke atasnya. Ia membuka pahanya lebar-lebar siap menerima penetrasi kemaluanku. Kepalanya bergerak-gerak di atas rambutnya yang terserak. Mulutnya terus menggumam tidak jelas. Matanya terpejam. Kuturunkan pantatku. Batang kemaluanku berkilat-kilat dan memerah kepalanya siap menjalankan tugasnya. Kuusap-usapkan kemaluanku di bibir kemaluannya. Ia tambah menggelinjang layaknya kepinding.

?Cepat.. Cepat.. Aku udah nggak tahan!? jeritnya.

Kuturunkan pantatku perlahan-lahan. Dan.. BLESS!

Kemaluanku menerobos liang senggamanya diiringi jeritannya membelah malam. Tetangga sebelah bisa saja sanggup mendengar lolongannya itu. Aku berhenti sebentar membiarkan dia menikmatinya. Lalu kutekan lagi pantatku sehingga kemaluanku yang panjang dan besar itu menerobos ke dalam dan terbenam semuanya dalam liang surgawi miliknya.

Ia menghentak-hentakkan pantatnya ke atas sehingga lebih dalam menerima diriku. Sejenak aku diam menikmati sensasi yang luar biasa ini. Lalu perlahan-lahan aku jadi menjalankan kemaluanku. Balasannya juga luar biasa.

Dinding-dinding lubang kemaluannya mengusahakan menggenggam batang kemaluanku. Rasanya seberti digigit-gigit. Pantatnya yang bulat besar itu diputar-putar untuk memperbesar rasa nikmat. Buah dadanya tergoncang-goncang serasi bersama dengan genjotanku di kemaluannya. Matanya terpejam dan bibirnya terbuka, berdesis-desis mulutnya menahankan rasa nikmat.

Desisan itu berubah menjadi erangan lantas jeritan panjang terlontar membelah hawa malam. Kubungkam jeritannya bersama dengan mulutku. Lidahku bersua lidahnya. Sementara di bawah sana kemaluanku leluasa bertarung bersama dengan kemaluannya, di sini lidahku pun leluasa bertarung bersama dengan lidahnya.

?OH..?, erangnya, ?Lebih keras sayang, lebih keras lagi.. Lebih keras.. Oooaah!?

Tangannya melingkar merangkulku ketat. Kuku-kukunya membenam di punggungku. Pahanya tambah lebar mengangkang. Terdengar bunyi kecipak lendir kemaluannya serasi bersama dengan gerakan pantatku. Di waktu itulah kurasakan gejala ledakan magma di batang kemaluanku. Sebentar lagu aku bakal orgasme.

?Aku mau keluar, Linda?, bisikku di sela-sela nafasku memburu.

?Aku juga?, sahutnya, ?Di dalam sayang. Keluarkan di dalam. Aku dambakan anda di dalam.?

Kupercepat gerakan pantatku. Keringatku mengalir dan menyatu bersama dengan keringatnya. Bibirku kutekan ke bibirnya. Kedua tanganku mencengkam ke dua buah dadanya. Diiringi geraman keras kuhentakkan pantatku dan kemaluanku membenam sedalam-dalamnya. Spermaku memancar deras. Ia pun melolong panjang dan menghentakkan pantatnya ke atas menerima diriku sedalam-dalamnya.

Kedua pahanya naik dan membelit pantatku. Ia pun mencapai puncaknya. Kemaluanku berdenyut-denyut memuntahkan spermaku ke dalam rahimnya. Inilah orgasmeku yang pertama di dalam kemaluan seorang wanita sejak kematian isteriku. Dan ternyata wanita itu adalah Linda yang cantik bahenol dan seksi.

Sekitar sepuluh menit kita diam membatu mereguk seluruh detik kenikmatan itu. Lalu perlahan-lahan aku mengangkat tubuhku. Aku memandangi wajahnya yang berbinar sebab birahi nya udah terpuaskan. Ia tersenyum dan membelai wajahku.

?Sony, anda hebat sekali, sayang?, katanya, ?Sudah lebih dari setahun aku tidak merasakan lagi kejantanan laki laki layaknya ini.?

?Linda juga luar biasa?, sahutku, ?Aku sungguh senang dan bangga sanggup menikmati tubuhmu yang menawan ini. Linda tidak menyesal bersetubuh denganku??

?Tidak?, katanya, ?Aku tambah berbangga sanggup menjadi wanita pertama setelah kematian isterimu. Mau kan anda memuaskan aku lagi nanti??

?Tentu saja mau?, kataku, ?Bodoh jika nolak rejeki ini.? Ia tertawa.

?Kalau anda lagi pingin, telepon saja aku,? lanjutnya, ?Tapi jika aku yang pingin, boleh kan aku nelpon??

?Tentu.. Tentu..?, balasku cepat.

?Mulai saat ini anda sanggup menyetubuhi aku kapan saja. Tinggal kabarkan?, katanya.

Hatiku bersorak ria. Aku mencabut kemaluanku dan rebah di sampingnya. Kurang lebih setengah jam kita berbaring berdampingan. Ia lantas mengajakku mandi. Lapar katanya dan pingin makan.

Malam itu hingga hari Minggu siang sungguh tidak terlupakan. Kami terus berpacu dalam birahi untuk memuaskan nafsu. Aku menyetubuhinya di sofa, di meja makan, di dapur, di kamar mandi dalam beraneka posisi. Di atas, di bawah, dari belakang. Pendek kata hari itu adalah hari penuh kenikmatan birahi .

Dapat ditebak, pertemuan pertama itu berlanjut bersama dengan aneka pertemuan lain. Kadang-kadang kita mencari hotel tetapi terbanyak di rumahnya. Sesekali ia berkunjung ke tempatku jika anak-anak lagi mendatangi kakek dan neneknya. Pertemuan-pertemuan kita senantiasa diisi bersama dengan permainan birahi yang panas dan menggairahkan.

Satu malam di kamar tidurnya. Setelah lebih dari satu kali orgasme iseng aku menggodanya.

?Linda?, kataku, ?Betapa beruntungnya aku yang berkulit gelap ini sanggup menikmati tubuhmu bahenol, seksi, putih dan mulus seorang wanita Cina.? kataku, disambut bersama dengan tawa cerianya.