Di Gangbang Belasan Preman

                                                                                    

Cerita Hot633 | Ini adalah sebuah kisah seorang cewek yang diperkosa atau di gangbang oleh sejumlah preman secara rame-rame. Selengkapnya, simak Cerita Seks ABG berikut ini!

BANDAR DOMINO99 | AGEN BANDARQ | AGEN POKER | DOMINO ONLINE | AGEN DOMINO

Namaku Boneng, pria jelek pengangguran yang sedang ingin menebus dosaku terdahulu. Beberapa bulan sudah aku mengintai Ninis, aku rasa kini ia sudah bisa hidup normal, kembali bersekolah seperti biasanya. Senyum manis nan cerianya pun kini telah aku lihat dari jauh, walaupun aku belum berani mengambil jarak lebih dekat lagi. Aku rasa malam ini terakhir aku membuntutinya, aku yakin dia sudah mandiri. Dan aku bisa melepaskannya. Tidak ada yang perlu aku khawatirkan lagi, saatnya besok aku bisa menata kembali kehidupanku.

Jam 13.30 seharusnya Ninis sudah pulang sekolah, aku menintip dari tembok belakang rumah yang di samping sekolah, memantau ke adaan Ninis setiap hari nya. Ku lihat Ninis keluar dari gerbang sekolah, seperti biasa ia selalu berjalan kaki pulang karena rumahnya tidak begitu jauh dari sekolah. ?Sampai jumpa besok ya?, kata Ninis kepada teman-temannya, ia nampak ceria dan mulai meninggalkan sekolah itu. Ku buntuti dia dari belakang, seperti biasa, untuk memastikan keadaannya baik-baik saja. Aku takut gengnya Heru atau pun gengnya Seifer masih akan mengganggunya.
Ninis berhenti sejenak, ku lihat seperti mencurigakan, ia melihat dengan serius dari hp nya, entah ada yang sms atau bbm. Ninis nampak gelisah, aku coba memperhatikannya lebih dekat, Ninis mulai kembali berjalan, namun ke arah yang lain. Tidak seperti biasanya, Ninis berjalan melalui arah lain. Terus ku ikuti hingga aku tahu itu bukan lah arah pulang ke rumahnya. Ninis masuk ke sebuah gedung kosong yang pengerjaannya tidak selesai. Aku terus mengikutinya, entah ada tujuan apa Ninis ke sini.
Naik ke lantai dua, ku coba perhatikan sekitar, sangatlah sepi, namun gedung yang penuh dengan coretan cat semprot ini sepertinya sering digunakan para pengangguran untuk ngumpul. Di lantai dua, ada seorang gadis menunggu, ku intip dari tangga, tidak begitu jelas, dia sendirian menunggu Ninis tiba. Aku coba lebih fokus untuk mendengarkan pembicaraan mereka.

?Jadi lu ya yang namanya Ninis?!?, tanya gadis itu dengan nada yang sedikit keras. ?Iya! Jadi apa mau mu?!?, balas Ninis. Gadis itu samar-samar ku lihat sepertinya aku mengenalnya. ?Hahaha, mau apa? Seharusnya gue yang tanya lu mau apa?!!!?, bentak gadis itu. ?Emang kamu siapa?! Dapat nomor aku dari mana??, tanya Ninis. ?Lu ga perlu tahu!!?, teriak gadis itu lalu menjambak rambut Ninis. Gadis itu menarik rambut Ninis hingga Ninis jatuh tersungkur. ?ADUUHHHH?, teriak Ninis kesakitan karena tersungkur di lantai semen yang masih kasar dan penuh debu itu. Debu semen langsung beterbangan.
Gadis itu tidak mau tahu, ia lalu menendang perut Ninis sambil berteriak, ?Gue MILA!!!?, ia menegaskan. Aku baru teringat dengan gadis yang masih samar ku lihat itu, dia adalah Mila, tapi buat apa dia menganggu Ninis? Aku bingung apa aku harus menolongnya atau tidak, apa itu urusan pribadi atau apa? Aku tidak lah tahu, atau apa ini ada hubungannya dengan Heru? Aku terpaksa menunggu hingga terjadi sesuatu yang lebih buruk aku baru bisa turun tangan. Aku takut Ninis masih trauma melihatku, sebaiknya aku bersabar untuk menolongnya.
?Lu pikir gue ga tau apa yang lu lakuin?!?, teriak Mila lalu kembali menendang Ninis yang masih tersungkur. Debu beterbangan, Ninis tak sempat berbicara, mencium udara penuh debu itu saja membuat Ninis terbatuk-batuk, tidak ada udara segar ia dapatkan. Seragam sekolahnya pun kotor karena debu. ?Gue Mila, pacarnya Heru!?, ia berteriak keras ke arah Ninis. Mila menarik rambut Ninis memaksanya untuk bangkit. ?Tadi yang gue kirim, itu foto lu kan sedang tidur dengan Heru?!?, tanya Mila. ?Beraninya lu deketi cowok gue, dasar pelacur murahan!!!?, Mila terlihat sangat marah, ia lalu menampak Ninis hingga kembali terjatuh. ?Bu.. bukan??, Ninis mencoba menjelaskan, namun ia kembali ditendang Mila yang sudah dipuncak amarah. Kulihat keadaan Ninis sudah sungguh miris, sekujur tubuhnya penuh debu semen, hingga rambutnya pun sudah memutih ditutupi debu yang tebal dari lantai. Tasnya terlempar hingga terbuka, dan buku-bukunya pun berserakan di lantai yang penuh debu.
Aku tidak bisa tinggal diam, sebaiknya aku menolongnya segera. Aku coba bangkit, namun tiba-tiba ?BUK? sesuatu benda yang keras menghantam belakang leherku. Pandanganku langsung gelap, sepertinya aku telah dilumpuhkan dari arah belakang oleh seseorang. AgenBandarCeme

Simak Juga:
Ngentot Memek Legit Sekretaris Seksi
Satpam Kampus Itu Mengisi Kesepianku

Kepalaku pusing, aku coba membuka mataku ketika aku mulai siuman, pandanganku masih kabur. Kulihat sepertinya aku masih di gedung yang sama. Debu beterbangan, namun di depan sana ku lihat ramai sekali, pas di tengah ruangan, entah apa yang terjadi. Aku coba bangkit, ?Aduh?, aku terjatuh, ternyata aku sedang terikat di sebuah kursi besi berkarat. Aku tersungkur tidak bisa berdiri, ku coba melihat keadaan, debu-debu beterbangan membuat pandanganku tidak begitu jelas.
Ternyata ada banyak pria besar di sana mengerumuni Ninis. Mila masih ada di sana, dia masih menjambak rambut Ninis yang sedang terlutut tepat di depannya. ?Pelacur seperti lu harus diberi pelajaran!?, kata Mila. ?Biar lu ga seenaknya mengganggu hubungan orang!!?, katanya lalu kembali menampar Ninis. Melihat begitu, aku pun coba berteriak, ?MILA!?, teriakku keras. Para rombongan itu pun langsung melihat ke arahku. ?Heru yang menganiaya dia!!?, teriakku mencoba menjelaskan. ?Oh, sang pahlawan kesiangan sudah sadar rupanya?, kata Mila. ?Lu itu pengkhianat!?, lanjut Mila. ?Gue dah dengar cerita Heru, lu yang membuat mereka kalah balapan kan?!?, teriak Mila.
Aku bingung harus bicara apa, aku coba berontak agar ikatanku lepas namun sia-sia saja. Kulihat arah Ninis, sungguh malang, seragam putihnya sudah menguning karena debu, kancingnya lepas hingga nampak belahan dadanya, rambutnya tertutup debu hingga nampak sedikit abu-abu, matanya sayup-sayup menahan rasa sakit di pipi dan perutnya yang sedari tadi ditampar dan ditendang Mila. ?Beri pelajaran sama pengkhianat itu!?, perintah Mila. Satu pria besar lalu mendekatiku, aku tidak mengenalnya, mereka bukanlah geng Heru, sepertinya mereka preman bayaran yang disewa Mila untuk menyiksa Ninis. ?BUK?, pria itu menendang perutku, sakit sekali. ?ARGH!?, rintihku kesakitan, seperti mau muntah. Debu beterbangan, itulah yang kuhirup karena kepalaku tidak bisa ku angkat dari lantai. Pria itu menginjak kepalaku dan mengancamku, ?Berisik sekali lagi, lu dan cewek itu bakal kita bunuh!?. Mendengar itu aku hanya bisa terdiam, mereka ramai sekali, aku tak mungkin bisa kabur dari sini, ada sekitaran belasan orang di sana, dan badan mereka besar-besar.

Cerita Seks ABG ? Mereka lalu mendorong-dorong tubuh Ninis, dari satu pria ke pria lain. Mereka mempermainkannya seperti boneka, didorong sana sini, sambil meremas pantat dan susunya. Puas membuat Ninis kelelahan, Mila lalu meminta mereka menghentikannya. ?Kita perlu pertunjukan yang lebih menarik?, kata Mila. ?Biasanya pecun bisa menari striptis?, katanya. Para pria itu lalu berdiri membentuk lingkaran, Ninis di tengah sana berdiri sambil menangis, ?Tolong? Saya tidak bersalah??, katanya. ?Sekarang lu menari sambil buka baju!?, perintah Mila. Ninis ketakutan, ia memegang kuat seragamnya yang kancingnya terlepas. Ninis sudah nampak kumal karena belepotan debu.
?Ayo lah, atau mau kita-kita yang bukaian??, kata salah satu pria lalu disambut tawa pria lainnya. Ninis ketakutan, ia tidak lah mahir dalam menari, sehingga ia sedikit canggung. Ninis terpaksa sedikit menggoyangkan badannya, ia takut ada hal lebih buruk terjadi, sambil menahan seragamnya, ia menggoyangkan pinggulnya, coba menari tanpa beraturan. Kasihan sekali, Ninis menangis tak karuan.

?Wah, kok dari tadi Cuma joget tak jelas??, singgung salah satu pria yang nampak bosan melihat Ninis menari. ?Iya, kok belum lu copot seragam lu??, balas pria lainnya. ?Woi, pecun, lu masih mau hidup gak?!?, ancam Mila dengan nada yang kasar. Ninis ketakutan, ia pun mulai membuka seragamnya dengan sangat terpaksa. ?Wuih, gitu dong, dasar pecun murahan!?, ejek para pria yang menonton Ninis menari.
Beberapa menit Ninis menari, ia sepertinya sudah sangat lelah, seragamnya pun sudah sedikit-sedikit ia lucuti hingga sisa bra dan celana dalamnya yang ia tidak berani tanggali. ?Woi, cepetan buka semua!?, teriak-teriak para pria tak sabar melihat kemolekan tubuh Ninis. Ninis tidak menghiraukan mereka, ia menari pelan sambil menangis. Para pria yang sudah nafsu menonton Ninis menari striptis pun sudah membuka resleting celana mereka dan mengeluarkan penisnya dari sana. Mereka mengocok penis mereka sendiri sambil menonton Ninis menari.
Mila terlihat jijik memandang para pria mengeluarkan penis. ?Kalian lanjutin deh, gue muak liat barang gituan, siksa aja sesuka kalian!?, pesan Mila lalu meninggalkan rombongan itu. ?MILA!?, teriakku. Ia tidak menghiraukan teriakanku, Mila terus turun ke lantai bawah. ?Heru yang memperkosa Ninis!!!!?, teriakku menjelaskan. Namun Mila sudah hilang, ia sudah turun ke sana dan mungkin telah meninggalkan gedung.

Lalu seorang pria mendekatiku. ?Tolong lepasin aku?, pintaku. Pria itu mengangkat kursiku, ia membenarkan posisiku. ?Aku bayar berapa yang kamu mau?, kataku, walaupun aku tahu aku tidak punya uang lagi, namun aku coba bernegosiasi. Pria brewokan ini tidak mengubrisku, setelah ia membenarkan dudukku, ia lalu tersenyum lalu berkata, ?Nikmatilah tontonan ini?, katanya mengolokku. ?Sial! Bajingan kalian!!!?, teriakku. Pria itu meninggalkanku dan kembali ke rombongan. Mereka kembali maksa Ninis untuk menari striptis.
?Ayo, lanjut!?, teriak para pria itu. ?Kita bunuh saja kalau dia tak mau!!!?, ancam pria lain sambil berteriak-teriak. Mereka mulai gaduh berteriak-teriak, Ninis terpaksa melanjutkan menarinya, kini ia harus menanggalkan branya. Malang sekali nasib Ninis, kini ia harus dikerjai para preman ini.
?Hahahaha, susunya masih kecil?, olok mereka. Ninis tidak menghiraukannya, ia hanya menari dan berharap mereka melepaskannya setelah ia selesai menari.
Cukup lama Ninis menari dengan telanjang dada, mereka sudah cukup bosan. Sambil terus menocok penis mereka, mereka berteriak, ?Lepaskan tuh celana dalam!?, ?Iya, lepasin!?, ?Lepasin!!!?, teriak mereka sangat gaduh sekali. Ninis menangis dan menghentikan tariannya. Ia ketakutan, dengan membuka celana, para pria itu akan semakin nafsu, itu akan mengundang mereka bertindak lebih, Ninis takut sekali akan diperkosa segerombolan orang tak dikenalnya itu. ?Tolong lepasin saya bang??, pintanya. Permintaan Ninis tak terdengar karena sorak suara berteriak, ?Buka!!!?, lebih keras.
Ninis takut dia akan diperkosa, cepat-cepat tanpa pikir panjang, ia coba berlari, mecari celah di antaara kerumunan itu menuju ke arah tangga. Sial, itu sama saja Ninis cari mati, ia salah mengambil langkah. Pelarian Ninis sia-sia, ia tertangkap para pria itu. ?Sudah kami bilang, kalau lu ga mau buka sendiri, sini biar gue yang bukain!!!?, ancamnya lalu kembali menarik Ninis ke tengah gerombolan. Para pria itu lalu menarik celana dalam Ninis hingga lepas. ?Wah!? mereka bersorak. ?Jembutnya masih dikit?, mereka pun lalu tertawa terbahak-bahak mengolok Ninis. Mereka meraba susu dan vagina Ninis kemudian mereka dorong lagi ke tengah, ?Ayo menari lagi!!!?, mereka terus bersorak meminta Ninis menari tanpa mengenakan sehelai pakaianpun. Nini malu, ia menutupi susu dan vaginanya dengan tangannya, ?Tolong bang? Ninis bukan pelacur..?, Ninis memohon. AgenBandarCeme