Bercinta Di Warteg

                                                                                 

Cerita Hot633 | Nama saya Heru, saat itu saya berumur 25 tahun, telah berkeluarga dengan istri bernama Meri, serta telah dikaruniai dua orang anak yang pertama berumur 3 tahun dan kedua berumur 1 tahun. Cerita ini bermula dari kebiasaan saya yang sering nongkrong di warteg di komplek tempat saya tinggal pada waktu santai.

BANDAR DOMINO99 | AGEN BANDARQ | AGEN POKER | DOMINO ONLINE | AGEN DOMINO

Pemilik Warteg itu adalah sepasang pengantin baru yang baru 7 bulan menikah. Penjaganya adalah istri dari pengantin baru tersebut yang bernama Diana, sedangkan suaminya adalah seorang sopir bus AKAP, yang sering bertugas sampai berhari-hari baru pulang dan bernama Juanda. Saya dan istri sayapun kenal baik dan akrab dengan mereka.

Pada suatu hari yang telah saya lupa tanggalnya saya kembali nongkrong di Warteg itu yang pada saat itu suasana sudah mulai sepi karena hari sudah menjelang malam. Pada saat itu Diana sedang berkemas-kemas untuk menutup wartegnya. Saya lalu mengajak Diana mengobrol sambil dia berkemas-kemas.

?Kok sendirian Yan?? tanya saya. (Saya memanggilnya Dian/Yan)

?Iya nih Kak, Kak Juandanya tadi pagi baru berangkat!?

?Kemana??

?Katanya hari ini tujuan Jakarta, dan sampai 8 hari baru bisa pulang,? katanya.

?Oh ya Kak saya tinggal dulu ya, mau mandi, habis dari tadi rame sih belum sempat mandi,? katanya lagi. Lalu Diana masuk ke dalam rumahnya untuk mandi.

Setelah setengah jam Diana keluar lagi dengan rambut yang masih basah, dan memakai daster yang membuat saya menahan napas karena kalau kena lampu kelihatan BH dan CDnya yang menerawang dari balik daster yang dipakainya, serta membawa secangkir kopi untukku, dan duduk di kursi yang ada di depanku. Harum sabun mandi yang dipakai saat mandi masih tercium saat Diana duduk, dan ini membuat nafsu saya agak tergugah dan tongkol saya mulai ngaceng.

?Diminum Kak kopinya,? katanya mempersilakan.

?Terima kasih,? jawabku sambil menghirup kopi yang disuguhkan.

?Apa enggak takut ditinggal sendirian,? tanyaku memulai obrolan.

?Ya enggaklah, kan tetangga di sekitar sini baik-baik Kak?? jawabnya.

Lalu obrolan kami terus berlanjut dan haripun bertambah malam. Karena suasana yang mulai sepi saya mencoba memancingnya dengan obrolan yang dapat membangkitkan gairah.

?Yan kamu nggak kesepian ditinggal suamimu berhari-hari gini??

?Mau gimana lagi Kak, namanya juga tuntutan pekerjaan?

?Kasihan! Masa pengantin baru ditinggal kedinginan kaya gini?

?Ih, siapa lagi yang kedinginan?? jawabnya agak centil.

Merasa ada respon sayapun tambah semangat.

?Ya kan kasihan, orang pengantin baru itu biasanya kan kalau tidur selalu berpelukan biar tidak kedinginan?

?Siapa bilang kalau pengantin baru itu kalau tidur selalu berpelukan??

?Buktinya kakak semasa pengantin baru selalu tidur berpelukan.?

?Enak dong Mbak Meri selalu tidur dipeluk kakak?

?Ya begitulah, kalau kamu mau, saya juga mau tidur pelukin kamu,? kata saya sambil bercanda.

?Ih kakak ini Piktor (pikiran kotor) deh?

?Emang Mbak Meri boleh kakak tidur pelukin cewek lain?? sambungnya.

?Ya jangan ketahuan dong,? jawabku, sambil aku memandang wajah cantiknya dan menanti responnya.

Diana lalu memandangku dengan tatapan yang menggoda.

?Kalau kakak tidur pelukin saya dan ketahuan Mbak Meri gimana hayoo??

?Nggak mungkin ketahuan kalau kamu mau,? pancingku sambil bergeser duduk disampingnya, dan kugenggam tangannya yang tampak bergetar, dan ternyata Diana diam saja.

?Jangan disini Kak nanti ada orang lihat,? katanya.

Karena mendapat angin aku mengajak Diana masuk ke dalam rumahnya. Begitu masuk ke dalam rumahnya saya langsung menutup pintu dan memeluk Diana dari belakang. Semula dia menolak dengan alasan takut ketahuan. Aku yang sudah dikuasai nafsu terus merayu Diana yang masih ragu. Aku sudah tidak peduli apa-apa lagi kecuali menikmati tubuh Diana yang cantik ini. Aku membalikkan tubuh Diana dan langsung melumat bibirnya yang sexy itu.

?Mmhh,? desah Diana.

Aku terus menyerangnya dengan bergairah. Tangankupun tak tinggal diam, aku meremas buah dadanya yang montok dari balik dasternya.

?Mmhh Kak,? desahnya yang mulai terangsang.

Aku lalu membopong tubuh Diana ke kamarnya yang ditunjuk Diana dan merebahkannya di ranjang yang merupakan ranjang pengantin Diana. Lalu aku berdiri dan membuka baju dan celana panjangku agar tidak kusut, dan yang tertinggal hanya celana dalamku.

Tongkolku yang dari tadi ngaceng tampak menonjol di balik CDku. Lalu aku mendekati Diana yang terbaring diranjang sambil memandangku. Aku kembali mengulum bibirnya yang sexy itu sambil tanganku mengelusi pahanya yang putih. Diana menyambut ciumanku dengan bernafsu. Setelah puas aku melanjutkan ciumanku ke lehernya yang jenjang dan secara perlahan-lahan aku membuka dasternya, dan dilanjutkan dengan BH dan CDnya. Kini tubuh Diana yang mulus terpampang pasrah di ranjang. Kemudian aku menciumi buah dadanya yang kiri sedangkan tanganku meremas buah dadanya yang kanan.